Make your own free website on Tripod.com

 

 

STUDI TENTANG EFEKTIVITAS DISTRIBUSI BUKU PAKET SD/MI

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.      Latar Belakang Masalah

 

Program peningkatan mutu pendidikan telah sejak lama diimplementasikan melalui berbagai proyek. Salah satu upaya peningkatan mutu pendidikan yang bermuara dari segi penyediaan fasilitas pendidikan (baca : buku) adalah proyek pengembangan buku dan minat baca yang telah terimplementasikan sejak tahun 1996/1997 dan akan berakhir pada tahun 1999/2000.

Tujuan utama dari implementasi proyek ini adalah :

·        Terealisirnya rasio jumlah buku dengan siswa 1 : 1 ditiap jenjang kelas dan sekolah, melalui peningkatan produksi, distribusi dan memantau mutu buku-buku pelajaran di sekolah.

·        Terangkatnya prestasi belajar siswa ditingkat dasar yang ditunjukkan oleh kenaikan Nilai Ebtanas Murni dari tahun ke tahun seiring dengan peningkatan jumlah fasilitas belajar (buku).

·        Meningkatkan kemampuan guru dalam menggunakan buku di kelas.

·        Meningkatkan kebiasaan membaca melalui promosi minat baca, khususnya bagi anak-anak.

 

Dalam rangka memantau hasil implementasi kegiatan proyek Pengembangan Buku dan Minat Baca maka perlu dilakukan studi yang memenuhi maksud untuk memberikan informasi sejauh mana manfaat dari keterlaksanaan kegiatan program pendistribusian buku oleh pelaksana proyek di pusat maupun di daerah. Pada tahun-tahun pertama memang telah diketahui beberapa aspek yang mampu memberikan masukan berupa informasi yang relevan guna memperbaiki kinerja pelaksana proyek, namun karena pentingnya informasi yang harus kontinyu dan ajeg serta dipertanggungjawabkan kualitas dan validitasnya maka diperlukan mengkaji ulang ke lapangan untuk mengetahui kembali apakah hal-hal yang sudah ditemukan pada studi terdahulu sudah dapat ditanggulangi permasalahannya atau belum dan apakah ada masalah baru yang muncul yang belum tertangani. Semua informasi inilah yang diharapkan dalam studi lanjutan ini menjadi latar perlunya studi tentang efektivitas distribusi buku paket sekolah dasar.

 

2.      Ruang Lingkup Studi

 

Fokus studi ialah ketersampaian buku paket SD di sekolah, jumlah buku dibandingkan dengan jumlah siswa, cara buku sampai di sekolah, kondisi buku saat diterima, dan pemanfaatan buku paket oleh siswa dan guru. Di samping itu, diungkap pula pengetahuan kepala sekolah, guru, dan orang tua siswa SD tentang kebijakan pemerintah di bidang perbukuan dan pengaruh dari kampanye minat baca yang dilakukan saat ini.

 

Buku paket yang menjadi sasaran studi ini terdiri atas lima mata pelajaran pokok di SD yang bukunya diadakan melalui Proyek Depdikbud di bawah koordinasi Pusat Perbukuan yang dimulai tahun 1992/1993. Untuk kelima mata pelajaran tersebut, buku yang diteliti terdiri atas :        

  a.  PPKn 1,2,3,4,5,6

  b.  IPA 3,4,5,6 (tidak ada IPA di kelas I dan II)

  c.  IPS 3,4,5,6 (tidak ada IPS di kelas I dan II)

  d.  Bahasa Indonesia 1-a, 1-b untuk kelas I

  e.  Bahas Indonesia 2,3,4,5,6

  f.  Matematika 1-a, 1-b, 1-c untuk kelas I

  g.  Matematika 2,3,4,5,6

 

3.      Permasalahan

 

Permasalahan utama yang ingin diungkap melalui studi ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan efektivitas dari implementasi pelaksana proyek dalam mendistribusikan buku-buku mulai dari sejak pencetakan hingga sampai ke sekolah-sekolah. Sehingga rumusan masalah yang dijadikan acuan untuk dilacak informasinya dilapangan adalah :

3.1.   Bagaimanakah keadaan rasio buku/siswa di sekolah dilihat dari tiap tingkat kelas (kelas I sampai dengan kelas VI), berdasarkan matapelajaran dan tingkat kelas dan rasio buku dilihat dari segi teritorial daerah?

3.2.   Bagaimanakah prosedur dan cara penerimaan buku serta kondisi fisik buku saat diterima oleh sekolah-sekolah?

3.3.   Bagaimanakah tanggapan tentang pemanfaatan buku paket dalam proses belajar mengajar di kelas?

3.4.   Bagaimanakah tingkat keberhasilan sosialisasi kebijakan perbukuan dan promosi minat baca di sekolah-sekolah?


BAB II

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

 

 

1.      Tujuan Penelitian

 

Disadari bahwa efektivitas kegiatan proyek dalam merealisasikan program pendistribusian buku sangat menentukan laju percepatan dari peningkatan mutu khususnya kemampuan dan minat baca di kalangan siswa di sekolah-sekolah sasaran. Oleh karena itu salah satu tolok ukur dari keberhasilan proyek ini dapat ditilik dari efektivitasnya dalam proses penyaluran distribusi buku paket ke sekolah-sekolah, yang tujuan utamanya adalah ingin mengetahui :

 

1.1.  Variasi dan keadaan rasio buku/siswa di sekolah dilihat dari tiap tingkat kelas (kelas I sampai dengan kelas VI), berdasarkan matapelajaran dan tingkat kelas dan rasio buku dilihat dari segi teritorial daerah.

1.2.  Informasi tentang prosedur dan cara penerimaan buku serta kondisi fisik buku saat diterima oleh sekolah-sekolah.

1.3.  Tanggapan tentang pemanfaatan buku paket dalam proses belajar mengajar di kelas.

1.4.  Tingkat keberhasilan sosialisasi kebijakan perbukuan dan promosi minat baca di sekolah-sekolah baik oleh guru, Kepala Sekolah, maupun Orangtua siswa.

 

2.      Manfaat Penelitian

 

Implikasi dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan review dan umpan balik bagi pelaksana proyek perbukuan nasional agar tujuan dari proyek dapat direalisasikan secara bertahap dan tepat waktu sesuai dengan perencanaan. Selain itu dapat dipantau sejauh mana deviasi pencapaian sasaran di daerah-daerah untuk bahan mengambil kebijakan di tingkat pusat dalam mengimplementasikan kegiatan proyek di tahun-tahun berikutnya.


BAB III

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA DASAR KEBIJAKAN

 

1.      Buku Pelajaran dan Issunya Terhadap Kualitas Pendidikan

 

Masalah-masalah sentral pendidikan di Indonesia hingga pasca Orde Baru masih berkutat pada 4(empat) issu sentral yakni : pemerataan, peningkatan mutu, relevansi dan efektivitas serta efisiensi pengelolaan pendidikan. Pada lingkup jenjang pendidikan dasar, Ace Suryadi (1995 : 74) telah mengidentifikasi bahwa sampai dengan tahun 19941995 pendidikan dasar di Indonesia (SD/MI) telah berhasil menampung 29,6 juta anak usia sekolah dasar, dan telah melibihi angka 94% dari seluruh penduduk usia sekolah pendidikan dasar (7 – 12 tahun). Dalam pada itu enrolmen telah meningkat tajam dari 47,4% pada tahun 1973, menjadi 58,0% pada tahun 1977, seterusnya 77,2% pada tahun 1982. Tampaknya aspek pemerataan mulai ada akselerasi dalam penyelesaian masalah. Indikator kualitas lain misalnya dari sudut prestasi belajar, ternyata beberapa studi (Moegiadi, 1974; Shaeffer, 1980, Ace Suryadi, 1982) memang telah menguatkan jika faktor guru, buku pelajaran, proses pendidikan, alat pelajaran, manajemen sekolah, besarnya kelas-sekolah dan faktor keluarga menjadi determinan utamanya. Di lain pihak ada antagonisme bahwa penggunaan buku pelajaran belum tampak memberikan daya beda yang berarti bagi prestasi belajar siswa. Demikian juga strategi penataran guru yang dilakukan selama ini belum tampak keberhasilannya bagi peningkatan kualitas prestasi tersebut.

Pada tahun 1970-1971 C.E. Beeby (1979) telah mengungkapkan temuannya bahwa, masalah paling besar dari pendidikan di sekolah dasar ialah kekurangan buku pelajaran. Dari hasil kajian ini maka telah mendorong perubahan yang drastis orientasi dalam intervensi pendidikan antara lain pengadaan jumlah buku pelajaran dan buku perpustakaan yang hampir 300 juta buku telah didistribusikan ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia selama kurun waktu sejak tahun 1970. Dari pidato Presiden RI tahun 1987, telah dinyatakan pada dekade berlangsungnya Repelita III, sudah sebanyak 13,2 juta buku diedarkan, disusul 1,6 juta buku telah dialokasikan ke sekolah-sekolah pada Repelita IV. Meskipun upaya-upaya untuk menanggulangi kesenjangan penyediaan sarana belajar dengan enrolmen yang terus meningkat telah dilakukan secara intensif, nampaknya masalah kekurangan buku masih banyak terjadi, khususnya di daerah-daerah pedesaan terpencil baik di Pulau Jawa maupun luar Jawa.  Nasution (1981) telah melakukan studi dan menemukan, bahwa seorang murid ternyata rata-rata hanya memiliki 2(dua) buku pelajaran, padahal jumlah buku pelajaran di SD paling tidak terdapat 6(enam) set buku pelajaran pokok. Hasil penelitian Moegiadi (1974) menemukan bahwa penggunaan buku belum memberikan daya beda yang berarti terhadap prestasi belajar siswa. Bank Dunia menafsirkan bahwa keadaan ini disebabkan oleh rendahnya kualitas buku pelajaran yang bersangkutan. Atas dasar hal tersebut Bank Dunia, sebagaimana dilaporkan Ace Suryadi (1995) selama kurun waktu 1972 – 1981 dan 1982 – 1987 telah memberikan perhatian khusus terhadap kualitas buku dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas isi buku pelajaran yang diharapkan dapat mendorong motivasi anak belajar dan tidak hanya tertuju kepada pembinaan kognitif semata. (Word Bank Report, 1986). Usaha lain yang telah dilakukan pemerintah adalah upaya untuk memperkecil perbedaan antara isi buku dengan isi kurikulum yang banyak membingungkan guru-guru di lapangan. Karena ada tengara bahwa perubahan kurikulum selalu membawa akibat perubahan buku-buku yang harus diaplikasikan sebagai sumber bahan belajar di sekolah. Sebagai tindak lanjut dari implikasi temuan ini maka Bank Dunia menganggap sangat penting perlu dilengkapinya buku-buku perpustakaan sebagai variabel kualitas sekolah yang sangat mempengaruhi prestasi belajar. Kiranya juga masih perlu dikaji, bahwa penyediaan buku baru merupakan variabel ikutan yang menentukan prestasi belajar karena yang lebih urgen adalah bagaimana buku itu digunakan oleh guru-siswa dalam kegiatan belajar-mengajarnya di kelas dan sebagai sumber belajar di luar kelas yang merupakan variabel intervening dari hubungan penyediaan sarana belajar dengan prestasi belajar. Meskipun demikian ada harapan nyata, bahwa penyediaan buku pelajaran jelas merupakan salah satu upaya yang mampu mengeliminir adanya kesenjangan prestasi siswa dan karenanya langkah kebijakan untuk mengadakan dan mengedarkan buku ke sekolah-sekolah, adalah langkah intervensi terhadap peningkatan prestasi yang harus dilakukan secara berkelanjutan.

 

2.      Latar Belakang Kebijakan Pengembangan Buku dan Minat Baca

 

Undang-undang nomor 2 tahun 1989 pasal 35 menyebutkan bahwa setiap satuan pendidikan jalur pendidikan sekolah baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat harus menyediakan sumber belajar. Dijelaskan pula bahwa pendidikan tidak mungkin dapat terselenggara dengan baik apabila para tenaga kependidikan maupun para peserta didik tidak didukung oleh sumber belajar yang diperlukan untuk penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Hal ini sejalan dengan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1993, dengan ditetapkannya empat strategi dasar pendidikan nasional untuk 5 tahun mendatang, yaitu (1) pemerataan kesempatan belajar; (2) relevansi; (3) kualitas; dan (4) manajemen dan efisiensi.

 

Suatu pendidikan disebut bermutu, jika proses belajar-mengajar berlangsung secara efektif, dan peserta didik mengalami proses pembelajaran yang bermakna, ditunjang oleh sumber daya (manusia, dana, sarana, dan prasarana) yang wajar. Dengan kata lain, proses pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan produk yang berkualitas pula, oleh sebab itu, intervensi sistematis diberikan terhadap prosesnya, sehingga memberikan jaminan kualitas yang meyakinkan.

 

Salah satu sumberdaya sarana yang menunjang proses belajar-mengajar adalah buku pelajaran, baik untuk siswa maupun guru. Walaupun ada kebijakan pemerintah untuk memberikan buku pelajaran secara cuma-cuma kepada seluruh siswa, kemampuan menyediakan buku untuk para siswa masih sangat terbatas. Hingga saat ini, buku-buku pelajaran pokok disusun dan diterbitkan oleh pemerintah, dan didistribusikan secara cuma-cuma dengan ratio 1 buku untuk 4 siswa.

 

Dengan telah tercapainya wajib belajar pendidikan dasar enam tahun, dewasa ini pemerintah meningkatkan kesempatan untuk memasuki SLTP. Untuk itu pemerintah telah mencanangkan wajib belajar 9 tahun, dan diperkirakan akan dapat dituntaskan dalam kurun waktu 15 tahun mendatang. Dengan dasar asumsi bahwa jumlah SLTP pada tahun 1995/1996 berjumlah 20.000 buah dengan jumlah siswa kurang lebih 6 juta, yang diproyeksikan pada tahun 2000 jumlah siswa SLTP menjadi 13 juta siswa. Agar program wajib belajar 9 tahun dapat berhasil maka ketersediaan buku pelajaran bagi setiap siswa menjadi prioritas utama.

 

Pada tingkat pendidikan dasar, peningkatan kuantitas yang sangat cepat menyebabkan berkurangnya mutu pendidikan. Hal ini terlihat lemahnya mutu guru dan gedung yang tersedia. Selain itu, terjadi juga berkurangnya fasilitas material pendidikan, dikarenakan anggaran yang sangat terbatas.

 

Atas dasar berbagai latar tersebut maka dilakukan intervensi penyediaan sarana belajar berupa buku melalui proyek Pengembangan Buku dan Minat Baca yang bertujuan untuk meningkatkan ketersediaan buku pelajaran bagi para siswa SD dan SLTP dari ratio satu buku untuk empat orang siswa menjadi satu buku untuk satu orang siswa, bagi seluruh siswa sekolah negeri maupun swasta di seluruh Indonesia.

 

Untuk penyediaan buku pelajaran SD ditangani secara terpisah dengan sumber dana seluruhnya dari APBN. Secara rinci tujuan dari penyediaan buku ini adalah :

a.       Meningkatkan produksi, distribusi, dan mutu buku-buku pelajaran.

b.      Penyediaan buku pelajaran SD untuk semua mata pelajaran untuk semua siswa di SD dan MI di seluruh Indonesia.

c.       Meningkatkan kemampuan guru dalam menggunakan buku di kelas.

d.      Meningkatkan kebiasaan membaca melalui promosi membaca, khususnya bagi anak-anak.

 

3.      Organisasi dan Kegiatan Pengembangan Buku dan Minat Baca.

 

Organisasi proyek ini ditingkat Pusat ditangani oleh Project Management Unit (PMU) yang berlokasi di Direktorat Sarana Pendidikan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah sedangkan di 27 Propinsi ditangani oleh Project Implementation Unit (PIU) atau Bagian Proyek dan berlokasi di Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dan dibantu oleh 14 Sanggar dan 8 Tim Penyelenggara Daerah dari Pustekkom untuk promosi minat baca.

 

Kegiatan-kegiatan yang harus ditangani oleh perangkat organisasi itu terdiri dari 7 komponen, yakni :

a.       Penyediaan buku pelajaran untuk semua siswa dan semua mata pelajaran.

b.      Peningkatan minat baca anak di seluruh Indonesia.

c.       Peningkatan mutu buku pelajaran.

d.      Meningkatkan peranan Pusat Perbukuan Departemen Penididkan dan Kebudayaan.

e.       Pelatihan guru dalam menggunakan buku-buku pelajaran.

f.        Monitoring dan evaluasi penyediaan buku pelajaran.

g.       Pengadaan konsultan internasional maupun nasional untuk membantu pelaksanaan proyek.

 

Masing-masing kegiatan itu dirinci sesuai dengan materi dalam kategori-kategori kegiatan.

a.       Peningkatan mutu dan penyediaan buku pelajaran, kategori kegiatannya terdiri dari :

-         Memproduksi dan mendistribusikan buku pelajaran dan buku pedoman guru untuk SD baik negeri maupun swasta.

-         Mengevaluasi mutu dan isi buku pelajaran SD terbitan swasta melalui jasa konsultan terkait.

-         Memperkuat peran Pusat Perbukuan Depdikbud sebagai fungsi kontrol untuk standar mutu industri penerbitan buku pendidikan.

b.      Peningkatan Minat Baca, meliputi kategori kegiatan :

-         Pelatihan bagi paga penulis, editor, ilustrator, dan penerbit untuk bidang penuisan, editing, ilustrasi, dan penerbitan buku anak-anak.

-         Pengadaan dan pendistribusian bahan pendidikan multimedia dalam rangka kampanye minat baca.

c.       Pelatihan Guru, meliputi kategori kegiatan :

-         Pembuatan contoh model mata pelajaran dan cara mengajar yang benar melalui program penyiaran radio dan televisi.

-         Mengadakan pelatihan guru dalam penggunaan buku pelajaran dalam praktik mengajar di dalam kelas.

d.      Monitoring dan evaluasi, kegiatan ini dilaksanakan dalam dua kegiatan terpisah, yaitu monitor melalui laporan langsung dari sekolah dan melalui kunjungan ke lapangan di sekolah-sekolah tertentu secara random pada setiap tahun guna mendapatkan data yang akurat tentang kepastian buku sampai di sekolah dan buku digunakan oleh guru sebagai pelajaran di sekolah. Kunjungan ke lapangan dikontrakkan dan dilaksanakan secara independen, dan proyek akan membantu dua studi yang mendalam yakni satu untuk SD dan satu untuk SLTP yang didasarkan pada pengamatan kelas untuk melihat efek jangka panjang peningkatan belajar di pendidikan dasar.

e.       Bantuan Tenaga Konsultan, meliputi kategori kegiatan :

-         Pengadaan konsultan dari luar negeri maupun dalam negeri.

-         Pelaksanaan evaluasi untuk pengadaan buku pelajaran.

-         Manajemen pelaksanaan proyek baik di pusat maupun di daerah.

-         Pelaksanaan monitoring dan evaluasi.

 

4. Strategi Untuk Implementasi Pengembangan

 

Untuk mengimplementasikan kegiatan pengembangan dan untuk mendukung serta mencapai sasaran yang telah dirumuskan  maka strategi yang ditempuh adalah :

a)      Menyempurnakan produksi dan distribusi buku pelajaran yang bermutu dan menjamin keersediaanya di dalam kelas.

b)      Mendorong peranan swasta dan Balai Pustaka untuk menerbitkan buku-buku pelajaran sekolah yang bermutu dalam jumlah yang cukup melalui sistem dan proses evaluasi yang transparan.

c)      Melibatkan lebih besar peran Kantor Wilayah dalam pengadaan buku pelajaran.

 

5. Buku Sekolah Dasar

 

Buku-buku yang digunakan di SD/MI terdiri dari buku pelajaran/buku teks dan buku bacaan. Buku teks jika dipilahkan lagi ada buku teks pokok dan buku teks penunjang. Buku teks pokok disediakan oleh Pemerintah atau Depdikbud yang disebut juga dengan buku paket, sedangkan buku teks penunjang adalah buku terbitan swasta yang dibeli oleh siswa berdasarkan pilihan daerah setempat. Buku-buku yang digunakan sebagai buku teks pelengkap haruslah buku yang sudah mendapatkan pengesahan dari Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

 

Selanjutnya buku bacaan, adalah buku selain buku teks yang diadakan tujuannya untuk mendorong minat baca siswa. Buku-buku ini sebagian besar disediakan oleh pemerintah melalui Proyek Buku Bacaan Anak SD/MI, yang setiap tahunnya setiap sekolah menerima sekitar 25 – 100 judul buku bacaan. Tetapi ada kalanya buku-buku bacaan yang dibeli oleh sekolah atau hasil sumbangan masyarakat, siswa dan orangtua murid. Buku-buku bacaan pada prinsipnya boleh digunakan di sekolah setelah mendapat pengesahan dari Dirjen Dikdasmen.

 

Selain buku teks dan buku bacaan, di sekolah-sekolah SD/MI juga terdapat buku Pegangan Guru dan buku sumber. Buku-buku ini sebagian diadakan oleh pemerintah, dan sebagian juga hasil sumbangan dari masyarakat setelah mendapatkan pengesahan Dirjen Dikdasmen.

 

Untuk menyediakan buku-buku teks pokok, Depdikbud selalu mengedarkan secara cuma-cuma ke sekolah. Untuk buku PPKn, telah diadakan oleh Proyek PMP dan ditangani oleh Ditjen Dikdasmen. Untuk mata pelajaran lainnya pengadaannya dikoordinasikan oleh Pusat Perbukuan. Pencetakan dan pengiriman buku ditangani oleh Kanwil Depdikbud berdasarkan alokasi yang ditetapkan oleh Pusat atas dasar usulan dari daerah.

 

Pengadaan buku teks SD/MI dilakukan mulai tahun anggaran 1993/1994 yang meliputi lima mata pelajaran yakni:

-         Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS);

-         Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn);

-         Bahasa Indonesia;

-         Matematika;

-         Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Untuk semua tingkat yang secara bertahap akan selesai pada tahun anggaran 1999/2000.

 

Oleh karena itu sejalan dengan implementasi dari kegiatan ini menjadi penting untuk diketahui tentang informasi hasil pelaksanaan distribusi buku kesekolah-sekolah; pemahaman guru dan pihak-pihak yang berkompeten mengenai pengadaan buku ini serta pemanfaatan atau penggunaan buku teks pokok dalam proses belajar mengajar di kelas dan juga dampaknya bagi mutu pendidikan SD/MI.

 

 

 

 


BAB IV

METODE PENELITIAN

 

 

1.      Variabel Penelitian

 

Variabel yang ingin dideskripsikan terdiri dari :

1.1  Rasio buku per siswa; yakni perbandingan antara jumlah buku yang ada di sekolah dengan jumlah siswa di sekolah yang bersangkutan ditilik dari tingkat kelas, jenis matapelajaran dan ditilik dari daerah atau letak sekolah.

1.2  Prosedur dan cara penerimaan buku serta kondisi buku; yakni tata cara dan tahap-tahap kegiatan yang pernah dialami oleh tiap-tiap sekolah untuk dapat memperoleh jatah distribusi buku paket dari Kantor Depdikbud Kecamatan setempat, sedangkan kondisi buku adalah kondisi fisik dari buku, baik-buruknya, kuat dan tidaknya penjilidan dan pencetakkan buku setelah sampai ke tangan Kepala Sekolah atau ke tangan siswa di sekolah.

1.3  Tingkat sosialisasi dan Promosi Minat Baca, adalah dikenal tidaknya misi dan tujuan dari proyek pengembangan buku dan minat baca oleh khalayak sasaran yakni Kepala Sekolah, Guru maupun orangtua.

 

Indikator-indikator dari masing-masing variabel dijabarkan menjadi butir-butir pernyataan dan pertanyaan yang disusun ke dalam angket terstruktur sebagai panduan peneliti untuk melakukan judgement terhadap kondisi buku paket di lapangan.

 

2. Sampel Studi

 

Jumlah sampel di tingkat nasional  sebanyak 1638 sekolah yang terdiri atas SD dan MI. Sekolah sampel mewakili SD Negeri, SD Swasta, MI Negeri, dan MI Swasta baik berada di perkotaan maupun pedesaan, berada jauh dari kota maupun di dalam kota, SD/MI di desa IDT maupun non-IDT. Sedangkan termasuk dalam struktur sampel tersebut ada sejumlah 30 sekolah yang terdiri atas SD dan MI yang berada di Kalimantan Selatan.

 

3. Prosedur Pengumpulan Data

 

Pengumpulan data dilakukan lebih mengandalkan kemampuan peneliti dalam menarik inferensi dari hasil kegiatan wawancara, pengamatan, dan pencatatanya di lapangan serta kejujuran pribadinya dalam melaporkan apa yang ditemukannya. Dengan demikian, teknik pengumpulan data menggunakan metode kualitatif yang datanya dikuantifikasikan. Tujuannya adalah memudahkan pengolahan data tanpa mengabaikan hal-hal yang bersifat kualitatif. Sebelum turun ke lapangan, para pengumpul data mendapatkan penjelasan rinci mengenai teknis pengumpulan data di lapangan. Jumlah peneliti yang dilibatkan terdiri dari 12 orang yang kualifikasinya telah memenuhi pertimbangan profesional.

Dengan teknik ini, untuk mengisi pertanyaan tertentu, maka peneliti melakukan wawancara dengan lebih dari satu sumber informasi sehingga terjadi proses triangulasi langsung di lapangan. Pengambilan kesimpulan dari semua teknik tersebut sepenuhnya diserahkan kepada pertimbangan profesional (profesional judgment) peneliti. Adapun sumber informasi/responden adalah kepala sekolah, guru, data, orang tua. Sementara pencatatan dilakukan bersumber dari dokumen sekolah dan pengamatan dilakukan terhadap keadaan kelas.

 

4. Pengolahan Data

 

Pengumpulan data dilakukan antara bulan November 1997 hingga Februari 1998 bersamaan dengan pengumpulan data tentang buku teks pokok SLTP. Pengolahan data dengan menggunakan SPSS (Statistical Package for Social Sciences) dilakukan selama minggu pertama dan kedua bulan Maret 1998, dan pelaporan dilakukan pada mulai pertengahan Maret hingga minggu kedua bulan April 1998.


BAB IV

HASIL PENELITIAN

 

1. Karakteristik Sekolah  Sampel

 

Sampel studi ini secara nasional mewakili SD dan MI yang berada di kota kabupaten/kotamadya (37,3%), di kota kecamatan (24,7%), dan di pedesaan (38%). Dibedakan berdasarkan status desa tempat SD/MI berada, sebanyak 35,6% terletak di desa IDT dan 64,1% di desa non-IDT. Menurut statusnya, 65,1% SD Negeri, 21,9% SD Swasta, 4,9% MI Negeri, dan 8,1% MI Swasta. Sekolah-sekolah tersebut sebanyak 47,2% berada pada jarak kurang dari 10 km dari ibukota kabupaten/kotamadya, 36,2% berjarak 11-50 km, 9,6% berjarak 51-100 km, 5,2% berjarak 101-200 km, dan 1,9% berada pada jarak lebih dari 200 km. Dengan demikian, sekitar 8 dari 10 sekolah berada pada jarak yang relatif “mudah dijangkau” dari kota, yaitu kurang dari 50 km.

Termasuk dalam struktur sampel itu yang diambil dari wilayah  Kalimantan Selatan terdiri dari 24 SD dan 6 MI.

 

Ditilik dari jumlah siswa yang dimiliki, secara nasional cukup besar proporsi sekolah yang dapat diklasifikasikan sebagai “SD/MI bertipe kecil” dengan jumlah siswa kurang dari 100 orang (16,7%). Dengan proporsi yang hampir sama, terdapat 19% sekolah yang mempunyai siswa dari 300 orang (19%). Sebanyak 43,4% lainnya termasuk SD tipe sedang dengan jumlah siswa antara 101-200 dan 20,9% mempunyai 201-300 siswa. Rata-rata jumlah siswa di kelas I hingga kelas VI masing-masing 43, 40, 38, 36, 35, dan 32 orang. Dari segi jumlah, studi mencakup 70.030 siswa kelas I, 64.923 siswa kelas II, 61.475 siswa kelas III, 59.376 siswa kelas IV, 56.471 siswa kelas V, dan 52.376 siswa kelas VI sehingga secara keseluruhan berjumlah 364.651 siswa.

Jumlah siswa dari sekolah sampel di Kalimantan Selatan mencapai 10.715 siswa. Mereka itu terdiri dari 2.010 siswa kelas I, 1.817 siswa kelas II, 1.863 siswa kelas III, 1.770 siswa kelas IV, 1.716 siswa kelas V dan 1.539 kelas VI.

 

2. Ratio Buku/Siswa

 

2.1 Ratio buku/siswa di kelas I. 

Untuk siswa kelas I SD, buku paket diadakan oleh pemerintah meliputi tiga mata pelajaran dengan enam jilid buku, yaitu : PPKn, Bahasa Indonesia 1-a, Bahasa Indonesia 1-b, Matematika 1-a, Matematika 1-b, dan Matematika 1-c. Ratio buku/siswa dikelas pada 1.638 sekolah sampel dengan jumlah siswa 70.030 berkisar antara 1 : 1,65 untuk PPKn (artinya 1 buku digunaka oleh 1,65 siswa) hingga 1 : 1,91 untuk Matematika 1-c. dari proporsi buku dibandingkan dengan jumlah siswa kelihatan bahwa baru sekitar separoh dari kebutuhan buku yang terpenuhi. Artinya, dalam kenyataan di kelas, 1 buku digunakan oleh 2 siswa. Keadaan ini jauh dari ratio ideal 1 : 1.

 

Tabel 1. Ratio buku/siswa di kelas I

 

Nasional     

Mata pelajaran

Siswa

Buku

Ratio

B/S

a. PPKn

b. Bahasa Indonesia 1-a

c. Bahasa Indonesia 1-b

d. Matematika 1-a

e. Matematika 1-b

f.  Matematika 1-c

70.030

70.030

70.030

70.030

70.030

70.030

42.348

38.269

37.085

38.599

37.927

36.664

1,65

1,83

1,89

1,81

1,85

1,91

60%

55%

53%

55%

54%

52%

 

Kalimantan Selatan

Matapelajaran                                      Siswa             Buku              Rasio              B/S(%)

a. PPKn

2.010

1.375

1.46

0.68

b. Bahasa Indonesia 1-a

2.010

1.465

1.37

0.73

c. Bahasa Indonesia 1-b

2.010

1.335

1.51

0.66

d. Matematika 1-a

2.010

1.394

1.44

0.69

e. Matematika 1-b

2.010

1.496

1.34

0.74

f. Matematika 1-c

2.010

1.354

1.48

0.67

 

2.2. Ratio buku/siswa di kelas II.

Buku paket yang diadakan untuk siswa kelas II SD meliputi mata pelajaran dengan masing-masing 1 jilid, yaitu PPKn, Bahas Indonesia, dan Matematika. Sebagaimana tampak pada tabel, ratio buku/siswa di kelas II masing-masing 1 : 1,56 untuk PPKn, 1 : 1,47 untuk Bahasa Indonesia, dan 1 : 1,24 untuk Matematika dengan tingkat keterpenuhan antara 64 - 81%. Meskipun masih jauh dari keadaan ideal 1 : 1, ratio tersebut lebih baik daripada di kelas I.

 

Tabel 2. Ratio buku/siswa di kelas II

 

Nasional

Mata pelajaran

Siswa

Buku

Ratio

B/S

a. PPKn

b. Bahasa Indonesia

c. Matematika 

64.923

64.923

64.923

41.559

44.102

52.503

1,56

1,47

1,24

64%

68%

81%

 

Kalimantan Selatan

Mata pelajaran

Siswa

Buku

Ratio

B/S (%)

 

a. PPKn

1.817

1.564

1.16

0.86

 

b. Bahasa Indonesia

1.817

2.072

0.88

1.14

 

c. Matematika

1.817

1.884

0.96

1.04

 

 

2.3. Ratio buku/siswa di kelas III. 

Buku paket yang diadakan untuk siswa III  SD/MI meliputi lima mata pelajaran yaitu PPKn, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan Matematika. Ratio “terbaik” adalah pada PPKn dengan          1 : 1,41 dan yang paling rendah adalah IPS dengan 1 : 1,81 atau 55% dari jumlah siswa. Keadaan di kelas tidak lebih baik dibandingkan dengan di kelas II.

 

Tabel 3. Ratio buku/siswa di kelas III

 

Nasional

Mata pelajaran

 

Siswa

 

Buku

 

Ratio

 

B/S

a. PPKn

b. IPA

c. IPS

d. Bahasa Indonesia

e. Matematika 

61.475

61.475

61.475

61.475

61.475

 

43.713

36.156

33.949

38.416

37.379

1,41

1,70

1,81

1,60

1,64

 

71%

59%

55%

62%

61%

 

Kalimantan Selatan

 

Matapelajaran

         Siswa

Buku

Ratio

B/S (%)

 

 

a. PPKn

1.863

1.589

1.17

0.85

 

 

b. IPA

1.863

1.012

1.84

0.54

 

 

c. IPS

1.863

947

1.97

0.51

 

 

d. Bahasa Indonesia

1.863

1.213

1.54

0.65

 

 

e. Matematika

1.863

1.074

1.73

0.58

 

 

3.4.  Ratio buku/siswa di kelas IV.

Buku paket yang diadakan untuk siswa kelas IV SD/MI meliputi mata pelajaran yaitu PPKn, IPA, IPS, Bahasa INdonesia, dan Matematika. Meskipun jumlah siswa makin menurun dibandingkan dengan di kelas-kelas sebelumnya, ratio buku/siswa di kelas IV SD semakin buruk. Sementara untuk PPKn, IPA, Bahasa Indonesia, dan Matematika ratio buku/siswa sekitar 1 : 2, untuk IPS mendekati 1 buku untuk 3 siswa atau jumlah buku hanya 34% dari jumlah siswa.

 

Tabel 4. Ratio buku/siswa di kelas IV

 

Nasional

Mata pelajaran

Siswa

Buku

Ratio

B/S

a. PPKn

b. IPA

c. IPS

d. Bahasa Indonesia

e. Matematika 

59.376

59.376

59.376

59.376

59.376

34.668

31.733

20.084

33.083

32.849

1,41

1,87

2,98

1,79

1,81

 

58%

53%

34%

56%

55%

 

Kalimantan Selatan

Matapelajaran

Siswa

Buku

Ratio

B/S (%)

a. PPKn

1.770

1.300

1.36

0.73

b. IPA

1.770

1.376

1.29

0.78

c. IPS

1.770

267

6.63

0.15

d. Bahasa Indonesia

1.770

1.207

1.47

0.68

e. Matematika

1.770

869

2.04

0.49

 

2.5. Ratio buku/siswa di kelas V. 

Buku paket yang diadakan untuk siswa kelas V SD/MI meliputi lima mata pelajaran yaitu PPKn, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan Matematika. Keadaan di kelas V relatif sama dengan di kelas IV dengan pengecualian untuk PPKn yang menunjukkan bahwa ratio di kelas V lebih baik daripada di kelas IV. Sebagaimana di kelas IV, ratio buku/siswa IPS merupakan yang paling buruk.


 

Tabel 5. Ratio buku/siswa di kelas V

 

Nasional

Mata pelajaran

Siswa

Buku

Ratio

B/S

a. PPKn

b. IPA

c. IPS

d. Bahasa Indonesia

e. Matematika 

56.471

56.471

56.471

56.471

56.471

38.222

30.175

19.229

32.215

31.644

1,48

1,87

2,93

1,75

1,78

 

68%

53%

34%

57%

56%

 

Kalimantan Selatan

Matapelajaran

Siswa

Buku

Ratio

B/S (%)

a. PPKn

1.716

1.393

1.23

0.81

b. IPA

1.716

1.037

1.65

0.60

c. IPS

1.716

245

7.00

0.14

d. Bahasa Indonesia

1.716

947

1.81

0.55

e. Matematika

1.716

820

2.09

0.48

 

3.5.  Ratio buku/siswa di kelas VI. 

Buku paket yang diadakan untuk siswa kelas VI SD/MI meliputi lima mata pelajaran yaitu PPKn, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan Matematika. Keadaan di kelas VI relatif lebih baik daripada di kelas IV dan V dengan ratio berkisar antara 1 : 37 untuk PPKn hingga 1 : 1,69 untuk IPS. Terdapat peningkatan hampir dua kali lipat proporsi buku IPS di kelas VI menjadi 59% dibandingkan dengan di kelas IV dan V yang masing-masing 34%. Meskipun tidak cukup menonjol, ada kecendrungan bahwa pengadan buku di kelas VI mendapatkan perhatian dibandingkan dengan di kelas-kelas sebelumnya.

 

Tabel 6. Ratio buku/siswa di kelas VI

 

Nasional

Mata pelajaran

Siswa

Buku

Ratio

B/S

 

a. PPKn

b. IPA

c. IPS

d. Bahasa Indonesia

e. Matematika 

52.376

52.376

52.376

52.376

52.376

38.121

31.339

30.905

33.185

31.807

1,37

1,67

2,69

1,58

1,65

 

73%

60%

59%

63%

61%

 

 

 

 

 

Kalimantan Selatan

 

Mata pelajaran

Siswa

Buku

Ratio

B/S (%)

 

 

PPKN

1.539

1.281

1.20

0.83

 

 

IPA

1.539

861

1.79

0.56

 

 

IPS

1.539

800

1.92

0.52

 

 

Bahasa Indonesia

1.539

1.025

1.50

0.67

 

 

Matematika

1.539

947

1.63

0.62

 

 

2.7 Perbandingan ratio buku/siswa berdasarkan mata pelajaran dan tingkat kelas.  Untuk melihat lebih rinci ratio buku/siswa pada setiap mata pelajaran berdasarkan tingkat kelas, simak tabel berikut ini. Ada kecendrungan yang tampak. Pertama, kekurangan buku merata pada semua mata pelajaran dan di semua tingkat kelas yang dapat digeneralisasikan sebagai dialami oleh semua sekolah, pada semua tingkat kelas, dan untuk semua mata pelajaran. Dengan keadaan tersebut, maka ratio 1 buku untuk setiap siswa SD/MI masih jauh dari tercapai. Keadaan di Kalimantan Selatan hampir mirip kecuali untuk kelas II untuk matapelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika, rasionya sudah memenuhi yakni masing-masing 1 buku untuk kurang dari satu siwa (angka rasio = 0,88 dan 0,96). Untuk matapelajaran IPS dan Matematika di kelas IV dan kelas V kondisi di Kalimantan lebih parah dibanding keadaan rasio nasional (lihat tabel 4 dan tabel 5 di atas dan tabel 7 berikut di pasal ini). Kedua, kekurangan buku secara nasional yang paling parah dialami oleh IPS. Hal ini konsisten dengan hasil studi tahun l996/l997 (Supriadi, l997: 32) yang mengungkapkan bahwa ratio buku/siswa untuk IPS merupakan yang paling buruk. Ketiga, untuk mata pelajaran yang sama di tingkat kelas yang sama yang jumlah siswanya sama,  jumlah buku yang tersedia di sekolah berbeda-beda. Hal ini menimbulkan pertanyaan : mengapa hal tersebut terjadi? Apakah karena jumlah buku yang dialokasikan, dicetak, dan diedarkan ke sekolah untuk setiap mata pelajaran tersebut memang berbeda? Ataukah hanya karena distribusinya yang tidak merata? Jawaban atas pertanyaan ini tidak dapat diperoleh dari lapangan, melainkan pada tingkat pusat dan Kanwil.

 

 

Tabel 7.  Ratio buku/siswa setiap mata pelajaran di tiap tingkat kelas     

 
Nasional

Mata pelajaran

I

II

III

IV

V

VI

a. PPKn

b. IPA

c. IPS

d. Bahasa Indonesia

e. Matematika 

1,65

-

-

1,83-1,89

1,81-1,91

1,56

-

-

1,27

1,24

1,41

1,70

1,81

1,60

1,62

1.71

1,87

2,96

1,79

1,81

1,48

1,87

2,93

1,75

1,78

1,37

1,67

1,69

1,58

1,65

 

Kalimantan Selatan

Mata pelajaran

I

II

III

IV

V

VI

a. PPKn

b. IPA

c. IPS

d. Bahasa Indonesia

e. Matematika 

1,46

-

-

1,37-1,51

1,44 –1,34 – 1,48

1,16

-

-

0,88

0,96

1,17

1,84

1,97

1,54

1,73

1.36

1,29

6,63

1,47

2,04

1,23

1,65

7,00

1,81

2,09

1,20

1,79

1,92

1,50

1,63

 

2.8. Ratio buku/siswa berdasarkan daerah.

Kekurangan buku paket dibanding dengan siswa merata di semua propinsi pada semua tingkat kelas dan untuk kelima mata pelajaran yang bukunya diadakan oleh pemerintah. Rentangan ratio berkisar dari yang paling baik 1 : 0,8 untuk Matematika kelas II di Riau, Jambi dan Sumbar hingga 1 : 8,47 untuk IPS kelas V di Kalimantan Tengah. Sementara itu, sebagian besar berada pada ratio 1 : 1,5 hingga 1 : 2. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada satu propinsi pun yang mencapai atau mendekati ratio 1 : 1. Timpangnya ratio buku/siswa secara nasional yang dikemukakan di atas bukan hanya berlaku untuk rata-rata, melainkan berlaku umum di semua propinsi. Dengan ketimpangan yang merata tersebut, maka variabel-variabel letak sekolah dan status bukan menjadi pembeda yang signifikan bagi ratio buku/siswa. Untuk lengkapnya, lihat tabel-tabel di halaman berikut.

 

 


Tabel 8 : Rasio Buku - Siswa

    Untuk Buku Paket Kelas 1

 

 

 

Propinsi

 

Siswa

Kls.1

 

PPKn

 

Siswa

Kls.1

 

Ind.

1-a

 

Siswa

Kls.1

 

Ind.

1-b

 

Siswa

Kls.1

 

Mat.

1-a

 

Siswa

Kls.1

 

Mat.

1-b

 

Siswa

Kls.1

 

Mat.

1-c

 

1.

DI Aceh

2219

1380

2219

1424

2219

1347

2219

1237

2219

1384

2219

1256

 

 

1.61

1

1.56

1

1.65

1

1.79

1

1.6

1

1.77

1

2.

Sumut

2609

1669

2609

1671

2609

1745

2609

1603

2609

1536

2609

1368

 

 

1.56

1

1.56

1

1.5

1

1.63

1

1.7

1

1.91

1

3.

Riau

3542

1714

3542

1606

3542

1257

3542

1649

3542

1444

3542

1417

 

 

2.07

1

2.21

1

2.82

1

2.15

1

2.45

1

2.5

1

4.

Jambi

2523

1957

2523

2145

2523

1897

2523

1753

2523

1789

2523

1893

 

 

1.29

1

1.18

1

1.33

1

1.44

1

1.41

1

1.33

1

5.

Sumbar

2219

1669

2219

1435

2219

1526

2219

1634

2219

1604

2219

1512

 

 

1.33

1

1.55

1

1.45

1

1.36

1

1.38

1

1.47

1

6.

Bengkulu

2260

1264

2260

1259

2260

1216

2260

1320

2260

1160

2260

1308

 

 

1.79

1

1.8

1

1.86

1

1.71

1

1.95

1

1.73

1

7.

Sumsel

2218

1471

2218

1395

2218

1465

2218

1518

2218

1462

2218

1406

 

 

1.51

1

1.59

1

1.51

1

1.46

1

1.52

1

1.58

1

8.

Lampung

4087

1442

4087

1688

4087

1478

4087

1826

4087

1588

4087

1691

 

 

2.83

1

2.42

1

2.77

1

2.24

1

2.57

1

2.42

1

9.

DKI Jakarta

3056

2142

3056

2181

3056

2046

3056

1913

3056

1933

3056

1634

 

 

1.43

1

1.4

1

1.49

1

1.6

1

1.58

1

1.87

1

10.

Jawa Barat

2413

1161

2413

1148

2413

1300

2413

1140

2413

1171

2413

1297

 

 

2.08

1

2.1

1

1.86

1

1.12

1

1.06

1

1.86

1

11.

Jawa Tengah

2405

1943

2405

1662

2405

1542

2405

1484

2405

1384

2405

1479

 

 

1.24

1

1.45

1

1.56

1

1.62

1

1.74

1

1.63

1

12.

DI Yogyakarta

1477

1010

1477

831

1477

1181

1477

760

1477

711

1477

666

 

 

1.46

1

1.78

1

1.25

1

1.94

1

2.08

1

2.22

1

13.

Jawa Timur

1639

1371

1639

1154

1639

1035

1639

1119

1639

1441

1639

1024

 

 

1.2

1

1.42

1

1.58

1

1.46

1

1.14

1

1.6

1

14.

Bali

2186

1185

2186

1029

2186

1058

2186

1185

2186

1072

2186

1097

 

 

1.84

1

2.12

1

2.07

1

2.84

1

2.04

1

1.99

1

15.

Kalbar

3434

2410

3434

1890

3434

1728

3434

1124

3434

1800

3434

1501

 

 

1.42

1

1.82

1

1.99

1

1.78

1

1.91

1

2.29

1

16.

Kalsel**

2010

1375

2010

1465

2010

1335

2010

1394

2010

1496

2010

1354

 

 

1.46

1

1.37

1

1.51

1

1.44

1

1.34

1

1.48

1

17.

Kalteng

2282

1007

2282

1066

2282

1202

2282

1219

2282

1094

2282

1208

 

 

2.27

1

2.14

1

2.9

1

2.87

1

2.09

1

1.89

1

18.

Kaltim

2419

1534

2419

1949

2419

1730

2419

1828

2419

1855

2419

1934

 

 

1.58

1

1.66

1

1.4

1

1.32

1

1.3

1

1.25

1

19.

NTB

2360

1395

2360

1424

2360

1268

2360

1538

2360

1572

2360

1421

 

 

1.69

1

1.66

1

1.86

1

1.53

1

1.5

1

1.66

1

20.

NTT

3067

2090

3067

1210

3067

1323

3067

1678

3067

1614

3067

1497

 

 

1.47

1

2.53

1

2.32

1

2.83

1

1.9

1

2.05

1

21.

Sulsel

1861

944

1861

584

1861

543

1861

676

1861

674

1861

756

 

 

1.97

1

3.19

1

3.43

1

2.75

1

2.76

1

2.46

1

22.

Sulteng

1897

1464

1897

892

1897

858

1897

1068

1897

932

1897

1054

 

 

1.3

1

2.13

1

2.21

1

1.78

1

2.04

1

1.8

1

23.

Sultra

2812

1741

2812

944

2812

896

2812

1167

2812

1052

2812

1039

 

 

1.62

1

2.98

1

3.14

1

2.41

1

2.67

1

2.71

1

24.

Sulut

2026

1137

2026

975

2026

1261

2026

925

2026

948

2026

1005

 

 

1.78

1

2.08

1

1.61

1

2.19

1

2.14

1

2.02

1

25.

Maluku

2384

1293

2384

1406

2384

1359

2384

1354

2384

1310

2384

1307

 

 

1.84

1

1.7

1

1.75

1

1.76

1

1.82

1

1.82

1

26.

Irian Jaya

3300

1958

3300

1076

3300

993

3300

1026

3300

1028

3300

1248

 

 

1.69

1

3.07

1

3.32

1

3.22

1

3.21

1

2.64

1

27.

Timor Timur

5325

2622

5325

2760

5325

2495

5325

2661

5325

2870

5325

2292

 

 

2.03

1

1.93

1

2.13

1

2

1

1.86

1

2.32

1

 

 

 

Tabel 9 : Rasio Buku - Siswa

    Untuk Buku Paket Kelas 2

 

 

 

Propinsi

 

Siswa

Kls.2

 

PPKn

 

Siswa

Kls.2

 

Ind.

 

 

Siswa

Kls.2

 

Mat

 

1.

DI Aceh

2122

1543

2122

1598

2122

1966

 

 

1.38

1

1.33

1

1.08

1

2.

Sumut

2547

1695

2547

1851

2547

1835

 

 

1.5

1

1.38

1

1.39

1

3.

Riau

3140

1714

3140

1888

3140

3719

 

 

1.83

1

1.66

1

0.84

1

4.

Jambi

2508

1944

2508

2833

2508

2993

 

 

1.29

1

0.89

1

0.84

1

5.

Sumbar

2215

1690

2215

1657

2215

2568

 

 

1.31

1

1.34

1

0.86

1

6.

Bengkulu

2174

1382

2174

1058

2174

1541

 

 

1.57

1

2.05

1

1.41

1

7.

Sumsel

2199

1727

2199

1760

2199

1526

 

 

1.27

1

1.25

1

1.44

1

8.

Lampung

3904

2197

3904

2688

3904

2559

 

 

1.78

1

1.45

1

1.53

1

9.

DKI Jakarta

2808

1821

2808

2368

2808

2182

 

 

1.54

1

1.19

1

1.29

1

10.

Jawa Barat

2289

1222

2289

1443

2289

1760

 

 

1.87

1

1.59

1

1.3

1

11.

Jawa Tengah

2205

1820

2205

1777

2205

1746

 

 

1.21

1

1.24

1

1.26

1

12.

DI Yogyakarta

1378

1020

1378

1174

1378

1288

 

 

1.35

1

1.17

1

1.07

1

13.

Jawa Timur

1457

1145

1457

1103

1457

1265

 

 

1.27

1

1.32

1

1.15

1

14.

Bali

1930

1339

1930

1467

1930

1881

 

 

1.44

1

1.32

1

1.03

1

15.

Kalbar

3548

2728

3548

1434

3548

1726

 

 

1.3

1

2.47

1

2.06

1

16.

Kalsel**

1817

1564

1817

2072

1817

1884

 

 

1.16

1

0.88

1

0.96

1

17.

Kalteng

2049

894

2049

1061

2049

1314

 

 

2.29

1

1.93

1

1.56

1

18.

Kaltim

2230

1688

2230

1048

2230

1069

 

 

1.32

1

2.13

1

2.09

1

19.

NTB

2290

1701

2290

1388

2290

1931

 

 

1.35

1

1.65

1

1.19

1

20.

NTT

2759

1578

2759

2188

2759

1287

 

 

1.75

1

1.26

1

1.16

1

21.

Sulsel

1715

957

1715

1715

1715

1761

 

 

1.79

1

1.23

1

0.97

1

22.

Sulteng

1659

1141

1659

1659

1659

2054

 

 

1.45

1

1.39

1

0.81

1

23.

Sultra

2683

1464

2683

2683

2683

1341

 

 

1.83

1

2.67

1

2

1

24.

Sulut

1602

940

1602

1602

1602

2147

 

 

1.7

1

1.03

1

0.75

1

25.

Maluku

2504

1278

2504

2504

2504

2016

 

 

1.96

1

1.61

1

1.24

1

26.

Irian Jaya

2659

1359

2659

2659

2659

1476

 

 

1.96

1

1.49

1

1.8

1

27.

Timor Timur

4532

1727

4532

5432

4532

2568

 

 

2.62

1

2.58

1

2.76

1

 

 

 

 

Tabel 10 : Rasio Buku - Siswa

      Untuk Buku Paket Kelas 3

 

 

 

Propinsi

 

Siswa

Kls.3

 

PPKn

 

Siswa

Kls.3

 

IPA

 

 

Siswa

Kls.3

 

IPS

 

 

Siswa

Kls.3

 

Ind.

 

 

Siswa

Kls.3

 

Mat.

 

1.

DI Aceh

2025

1567

2025

1304

2025

1183

2025

1300

2025

1279

 

 

1.29

1

1.55

1

1.71

1

1.56

1

1.58

1

2.

Sumut

2361

1949

2361

1434

2361

1483

2361

1910

2361

1828

 

 

1.21

1

1.65

1

1.59

1

1.24

1

1.29

1

3.

Riau

3080

1777

3080

1581

3080

1418

3080

1389

3080

1383

 

 

1.73

1

1.95

1

12.17

1

2.22

1

2.23

1

4.

Jambi

2187

1674

2187

2101

2187

1269

2187

2505

2187

1834

 

 

1.31

1

1.04

1

1.72

1

0.87

1

1.19

1

5.

Sumbar

2032

1893

2032

1617

2032

1416

2032

1351

2032

1281

 

 

1.07

1

1.26

1

1.44

1

1.5

1

1.59

1

6.

Bengkulu

1998

1555

1998

1223

1998

1130

1998

1593

1998

1452

 

 

1.28

1

1.63

1

1.71

1

1.25

1

1.38

1

7.

Sumsel

2173

1510

2173

1426

2173

1309

2173

1349

2173

1339

 

 

1.44

1

1.52

1

1.66

1

1.61

1

1.62

1

8.

Lampung

3743

2053

3743

2009

3743

1949

3743

1837

3743

1978

 

 

1.82

1

1.86

1

1.92

1

2.4

1

1.89

1

9.

DKI Jakarta

2627

1925

2627

1397

2627

1736

2627

1771

2627

2075

 

 

1.36

1

1.88

1

1.51

1

1.48

1

1.27

1

10.

Jawa Barat

2344

1479

2344

1234

2344

1238

2344

1412

2344

1356

 

 

1.58

1

1.9

1

1.89

1

1.66

1

1.73

1

11.

Jawa Tengah

2098

1711

2098

1463

2098

1419

2098

1657

2098

1611

 

 

1.23

1

1.43

1

1.48

1

1.27

1

1.3

1

12.

DI Yogyakarta

1321

1360

1321

950

1321

933

1321

1102

1321

1213

 

 

0.97

1

1.39

1

1.42

1

1.2

1

1.09

1

13.

Jawa Timur

1451

1154

1451

930

1451

797

1451

1184

1451

1062

 

 

1.26

1

1.56

1

1.82

1

1.23

1

1.37

1

14.

Bali

1931

1385

1931

1230

1931

1168

1931

1297

1931

1322

 

 

1.39

1

1.57

1

1.65

1

1.49

1

1.46

1

15.

Kalbar

3144

2279

3144

1831

3144

1743

3144

1902

3144

2219

 

 

1.437

1

1.7

1

1.79

1

1.64

1

1.4

1

16.

Kalsel**

1863

1589

1863

1012

1863

947

1863

1213

1863

1074

 

 

1.17

1

1.84

1

1.97

1

1.54

1

1.73

1

17.

Kalteng

1936

1359

1936

1111

1936

953

1936

970

1936

1300

 

 

1.42

1

1.74

1

2.03

1

2

1

1.49

1

18.

Kaltim

2179

1759

2179

1610

2179

1579

2179

1644

2179

566

 

 

1.22

1

1.35

1

1.38

1

1.33

1

3.85

1

19.

NTB

2487

1809

2487

1366

2487

1209

2487

1319

2487

1393

 

 

1.37

1

1.82

1

2.06

1

1.89

1

1.79

1

20.

NTT

2602

1692

2602

1120

2602

1080

2602

948

2602

1149

 

 

1.54

1

2.32

1

2.41

1

2.74

1

2.26

1

21.

Sulsel

1651

1123

1651

1172

1651

1001

1651

1039

1651

1041

 

 

1.47

1

1.41

1

1.65

1

1.59

1

1.59

1

22.

Sulteng

1575

1251

1575

956

1575

962

1575

1104

1575

927

 

 

1.26

1

1.65

1

1.64

1

1.43

1

1.7

1

23.

Sultra

2473

1759

2473

1015

2473

976

2473

1009

2473

1156

 

 

1.41

1

2.44

1

2.53

1

2.45

1

2.14

1

24.

Sulut

1549

1112

1549

941

1549

817

1549

1040

1549

1045

 

 

1.39

1

1.65

1

1.9

1

1.49

1

1.48

1

25.

Maluku

1981

1302

1981

1288

1981

1524

1981

1394

1981

1601

 

 

1.52

1

1.54

1

1.3

1

1.42

1

1.24

1

26.

Irian Jaya

2465

1523

2465

1633

2465

1688

2465

1723

2465

1438

 

 

1.62

1

1.51

1

1.46

1

1.43

1

1.71

1

27.

Timor Timur

4227

2134

4227

1201

4227

982

4227

1454

4227

1457

 

 

1.98

1

3.52

1

4.3

1

2.91

1

2.9

1

 

Tabel 11 : Rasio Buku - Siswa

      Untuk Buku Paket Kelas 4

 

 

 

Propinsi

 

Siswa

Kls.4

 

PPKn

 

Siswa

Kls.4

 

IPA

 

 

Siswa

Kls.4

 

IPS

 

 

Siswa

Kls.4

 

Ind.

 

 

Siswa

Kls.4

 

Mat.

 

1.

DI Aceh

2076

1330

2076

1066

2076

1253

2076

1084

2076

1150

 

 

1.56

1

1.95

1

1.66

1

1.92

1

1.81

1

2.

Sumut

2358

1627

2358

1493

2358

993

2358

1896

2358

1292

 

 

1.45

1

1.57

1

2.37

1

1.24

1

1.83

1

3.

Riau

3250

1214

3250

1526

3250

1025

3250

1082

3250

1022

 

 

2.68

1

2.13

1

3.17

1

3

1

3.18

1

4.

Jambi

2167

1466

2167

1660

2167

1639

2167

1687

2167

1780

 

 

1.48

1

1.31

1

1.32

1

1.28

1

1.22

1

5.

Sumbar

2004

1966

2004

1172

2004

453

2004

1396

2004

1345

 

 

1.02

1

1.71

1

4.42

1

1.44

1

1.49

1

6.

Bengkulu

1948

1223

1948

833

1948

388

1948

1154

1948

1047

 

 

1.59

1

2.34

1

5.02

1

1.69

1

1.86

1

7.

Sumsel

2087

1322

2087

1241

2087

1135

2087

990

2087

944

 

 

1.58

1

1.68

1

1.84

1

2.11

1

2.21

1

8.

Lampung

3670

1290

3670

1581

3670

1319

3670

1291

3670

1692

 

 

2.84

1

2.32

1

2.78

1

2.84

1

2.17

1

9.

DKI Jakarta

2706

1691

2706

1625

2706

893

2706

2137

2706

1924

 

 

1.6

1

1.67

1

3.03

1

1.27

1

1.41

1

10.

Jawa Barat

2121

1191

2121

1161

2121

1075

2121

1201

2121

1189

 

 

1.78

1

1.83

1

1.97

1

1.77

1

1.78

1

11.

Jawa Tengah

2147

1629

2147

1304

2147

579

2147

1549

2147

1453

 

 

1.32

1

1.65

1

3.31

1

1.39

1

1.48

1

12.

DI Yogyakarta

1406

1001

1406

969

1406

541

1406

1069

1406

1116

 

 

1.4

1

1.45

1

2.6

1

1.32

1

1.26

1

13.

Jawa Timur

1331

1146

1331

1019

1331

514

1331

985

1331

1016

 

 

1.16

1

1.31

1

2.59

1

1.35

1

1.31

1

14.

Bali

1876

1146

1876

923

1876

933

1876

1195

1876

1074

 

 

1.64

1

2.03

1

2.01

1

1.57

1

1.75

1

15.

Kalbar

3065

2096

3065

1576

3065

650

3065

1590

3065

1420

 

 

1.46

1

1.94

1

4.72

1

1.93

1

2.16

1

16.

Kalsel**

1770

1300

1770

1376

1770

267

1770

1207

1770

869

 

 

1.36

1

1.29

1

6.63

1

1.47

1

2.04

1

17.

Kalteng

1733

604

1733

456

1733

293

1733

1214

1733

1370

 

 

2.87

1

3.8

1

5.91

1

1.43

1

1.26

1

18.

Kaltim

2122

1281

2122

1513

2122

330

2122

1301

2122

1252

 

 

1.66

1

1.4

1

6.43

1

1.63

1

1.69

1

19.

NTB

2084

1032

2084

1116

2084

1422

2084

993

2084

1138

 

 

2.02

1

1.87

1

1.47

1

2.1

1

1.83

1

20.

NTT

2416

1229

2416

1092

2416

630

2416

1037

2416

1160

 

 

1.97

1

2.21

1

3.83

1

2.33

1

2.08

1

21.

Sulsel

1766

772

1766

830

1766

142

1766

893

1766

912

 

 

2.29

1

2.29

1

12.4

1

1.98

1

1.94

1

22.

Sulteng

1524

1296

1524

670

1524

838

1524

729

1524

828

 

 

1.18

1

1.18

1

1.82

1

2.09

1

1.84

1

23.

Sultra

2293

1074

2293

900

2293

467

2293

779

2293

1009

 

 

2.14

1

2.14

1

4.91

1

2.94

1

2.27

1

24.

Sulut

1484

969

1484

843

1484

278

1484

863

1484

852

 

 

1.53

1

1.53

1

5.34

1

1.72

1

1.74

1

25.

Maluku

1969

1084

1969

1011

1969

611

1969

1098

1969

1532

 

 

1.82

1

1.82

1

3.22

1

1.79

1

1.29

1

26.

Irian Jaya

2283

1495

2283

1438

2283

673

2283

1252

2283

1136

 

 

1.53

1

1.53

1

3.39

1

1.82

1

2.01

1

27.

Timor Timur

3720

1194

3720

1334

3720

743

3720

1411

3720

1327

 

 

3.12

1

2.79

1

5.01

1

2.64

1

2.8

1

 

 

 

Tabel 12 : Rasio Buku - Siswa
      Untuk Buku Paket Kelas 5

 

 

 

Propinsi

 

Siswa

Kls.5

 

PPKn

 

Siswa

Kls.5

 

IPA

 

 

Siswa

Kls.5

 

IPS

 

 

Siswa

Kls.5

 

Ind

 

Siswa

Kls.5

 

Mat

 

1.

DI Aceh

2000

1459

2000

1214

2000

1077

2000

1131

2000

1134

 

 

1.37

1

1.65

1

1.86

1

1.77

1

1.76

1

2.

Sumut

2277

1629

2277

1379

2277

664

2277

1819

2277

1400

 

 

1.4

1

1.65

1

3.43

1

1.25

1

1.63

1

3.

Riau

3072

1751

3072

1166

3072

958

3072

1287

3072

1580

 

 

1.75

1

2.63

1

3.21

1

2.39

1

1.94

1

4.

Jambi

1977

1471

1977

1349

1977

1504

1977

1532

1977

1667

 

 

1.34

1

1.47

1

1.31

1

1.29

1

1.19

1

5.

Sumbar

2039

1727

2039

1120

2039

532

2039

998

2039

1172

 

 

1.18

1

1.81

1

3.83

1

2.04

1

1.74

1

6.

Bengkulu

1923

1312

1923

1171

1923

184

1923

1504

1923

1070

 

 

1.47

1

1.64

1

10.5

1

1.28

1

1.8

1

7.

Sumsel

2102

1402

2102

1297

2102

1342

2102

1112

2102

1140

 

 

1.5

1

1.62

1

1.57

1

 1.89

1

1.84

1

8.

Lampung

3526

1921

3526

1399

3526

1142

3526

1682

3526

1915

 

 

1.84

1

2.52

1

3.09

1

2.1

1

1.84

1

9.

DKI Jakarta

2735

1835

2735

1749

2735

1398

2735

1805

2735

1901

 

 

1.49

1

1.56

1

1.96

1

1.52

1

1.71

1

10.

Jawa Barat

2182

1391

2182

1252

2182

1130

2182

1328

2182

1288

 

 

1.57

1

1.74

1

1.93

1

1.64

1

1.69

1

11.

Jawa Tengah

2168

1818

2168

1385

2168

674

2168

1702

2168

1552

 

 

1.19

1

1.57

1

3.22

1

1.27

1

1.4

1

12.

DI Yogyakarta

1407

1128

1407

1006

1407

440

1407

1099

1407

1055

 

 

1.25

1

1.4

1

3.2

1

1.28

1

1.33

1

13.

Jawa Timur

1293

933

1293

870

1293

554

1293

1024

1293

1002

 

 

1.39

1

1.49

1

2.33

1

1.26

1

1.29

1

14.

Bali

1828

1269

1828

1225

1828

1134

1828

1049

1828

1040

 

 

1.44

1

1.49

1

1.61

1

1.74

1

1.76

1

15.

Kalbar

2663

2069

2663

1027

2663

493

2663

962

2663

994

 

 

1.29

1

2.59

1

5.4

1

2.77

1

2.68

1

16.

Kalsel**

1716

1393

1716

1037

1716

245   

1716

947

1716

820

 

 

1.23

1

1.65

1

7

1

1.81

1

2.69

1

17.

Kalteng

1559

1018

1559

544

1559

184

1559

593

1559

636

 

 

1.53

1

2.87

1

8.47

1

2.63

1

2.45

1

18.

Kaltim

2037

1502

2037

1169

2037

260

2037

1629

2037

1506

 

 

1.36

1

1.74

1

7.83

1

1.25

1

1.35

1

19.

NTB

1995

1546

1995

1024

1995

1286

1995

998

1995

991

 

 

1.29

1

1.95

1

1.55

1

2

1

2.01

1

20.

NTT

2307

1372

2307

930

2307

400

2307

996

2307

1155

 

 

1.68

1

2.48

1

5.77

1

2.32

1

2

1

21.

Sulsel

1568

799

1568

738

1568

117

1568

794

1568

894

 

 

1.96

1

2.12

1

13.4

1

1.97

1

1.75

1

22.

Sulteng

1460

920

1460

684

1460

820

1460

811

1460

776

 

 

1.59

1

2.13

1

1.78

1

1.8

1

1.88

1

23.

Sultra

2153

1333

2153

881

2153

463

2153

820

2153

1056

 

 

1.62

1

2.44

1

4.65

1

2.63

1

2.04

1

24.

Sulut

1438

1058

1438

783

1438

505

1438

960

1438

964

 

 

1.36

1

1.84

1

2.85

1

1.5

1

1.49

1

25.

Maluku

1730

1291

1730

1089

1730

532

1730

1080

1730

1212

 

 

1.34

1

1.59

1

3.25

1

1.6

1

1.43

1

26.

Irian Jaya

2164

1563

2164

1241

2164

490

2164

1138

2164

805

 

 

1.38

1

1.74

1

4.42

1

1.9

1

2.69

1

27.

Timor Timur

3152

1312

3152

1438

3152

701

3152

1415

3152

1219

 

 

2.4

1

2.19

1

4.5

1

2.23

1

2.59

1

 

 

 

Tabel 13 : Rasio Buku - Siswa
      Untuk Buku Paket Kelas 6

 

 

 

Propinsi

 

Siswa

Kls.6

 

PPKn

 

Siswa

Kls.6

 

IPA

 

 

Siswa

Kls.6

 

IPS

 

 

Siswa

Kls.6

 

Ind.

 

 

Siswa

Kls.6

 

Mat.

 

1.

DI Aceh

1825

1290

1825

1270

1825

1166

1825

1171

1825

1052

 

 

1.41

1

1.44

1

1.57

1

1.56

1

1.73

1

2.

Sumut

2288

1660

2288

1734

2288

1609

2288

1793

2288

1531

 

 

1.38

1

1.32

1

1.42

1

1.28

1

1.49

1

3.

Riau

2789

1454

2789

1205

2789

1129

2789

1104

2789

888

 

 

1.92

1

2.31

1

2.47

1

2.53

1

3.14

1

4.

Jambi

2038

1473

2038

1432

2038

1480

2038

1817

2038

1645

 

 

1.38

1

1.42

1

1.38

1

1.12

1

1.24

1

5.

Sumbar

1812

1684

1812

1216

1812

1289

1812

1348

1812

452

 

 

1.08

1

1.49

1

1.41

1

1.34

1

4.01

1

6.

Bengkulu

1687

1418

1687

1230

1687

1232

1687

1551

1687

1342

 

 

1.19

1

1.37

1

1.37

1

1.09

1

1.26

1

7.

Sumsel

1905

1309

1905

1333

1905

1334

1905

1193

1905

1255

 

 

1.46

1

1.42

1

1.43

1

1.6

1

1.52

1

8.

Lampung

3194

1896

3194

1997

3194

1597

3194

1877

3194

2571

 

 

1.68

1

1.6

1

2

1

1.7

1

1.24

1

9.

DKI Jakarta

2694

1882

2694

1658

2694

2051

2694

1598

2694

1943

 

 

1.43

1

1.62

1

1.31

1

1.69

1

1.39

1

10.

Jawa Barat

2072

1612

2072

1319

2072

1328

2072

1270

2072

971

 

 

1.29

1

1.57

1

1.56

1

1.63

1

2.13

1

11.

Jawa Tengah

2067

1747

2067

1420

2067

1436

2067

1744

2067

1556

 

 

1.18

1

1.46

1

1.44

1

1.19

1

1.33

1

12.

DI Yogyakarta

1353

1204

1353

934

1353

904

1353

1113

1353

895

 

 

1.12

1

1.45

1

1.5

1

1.22

1

1.51

1

13.

Jawa Timur

1282

1024

1282

893

1282

983

1282

1013

1282

882

 

 

1.25

1

1.44

1

1.3

1

1.27

1

1.45

1

14.

Bali

1785

1469

1785