Make your own free website on Tripod.com

6.  DISAIN EKSPERIMEN LANJUTAN I

Tabel diatas menunjukkan hasil suatu studi yang dirancang untuk meneliti efek dari dua metode pengajaran  pada prestasi.  Karena peneliti mengantisipasikan bahwa metode tersebut mempunyai efektivitas yang berbeda tergantung dari taraf intelligensi subyek, maka langkah pertama adalah membedakan dua taraf intelligensi .  Pada subyek pada setiap taraf ditempatkan  secara random pada dua metode tersebut .  Setelah waktu eksperimen selesai, tes diberikan dan skor diberikan untuk dicatat  untuk setiap subyek.  Mean skores untuk keempat kelompok dapat dilihat pada tabel diatas .  Jika kita membandingkan mean skore dari dua kelompok yang diajar dengan  metode B,53, dengan mean skore dari dua kelompok yang diajar dengan metode A, 45, maka kita akan melihat bahwa skore B agak lebih tinggi.  Karena itu Metode B, tampak lebih efektif daripada Metode A.  Perbedaan antara mean-mean untuk kedua taraf IQ, pada main effects untuk inteligensi adalah 10; yaitu, 54 versus 44.  Tidak peduli perlakuannya, kelompok IQ tinggi mencapai prestasi lebih tinggi dari pada  kelompok IQ rendah.  Data menunjukkan tidak ada interaksi antara perlakuan dan taraf.  Metode B tampak lebih efektif untuk taraf IQ yang mana saja, baik tinggi maupun rendah.  Dengan kata lain, perlakuan dan taraf tidak tergantung satu sama lain.  Tidak adanya interaksi dapat dilihat dari grafik di bawah ini.  Kita tidak dapat menunjukkan ada atau tidak adanya interaksi tanpa menggunakan factorial design.

 

 

 

 

 

 


Text Box: Mean Achievement
Scores
                                             60   -

                                             55   -                                            B

                                             50   -

                                             45   -        B                                     A

                                             40   -

                                                          A

                                                           LOW                             HIGH

                                                                             IQ

                                                Lack Of Interaction Between Method and IQ Level   

 

Factorial design dapat diperluas menjadi eksperimen yang lebih rumit, dimana digunakan sejumlah variabel bebas, nilai-nilai numerik bilangan menunjukkan jumlah taraf untuk variabel-variabel bebas tertentu.  Misalnya, dalam 2 x 3 x 4  factorial design terdapat tiga variabel bebas dengan dua, tiga, dan empat taraf berturut-turut.  Eksperimen semacam itu dapat menggunakan dua metode mengajar, tiga taraf kemampuan, ddan empat kelas.  Secara teoritis factorial design dapat menggunakan variabel-variabel bebas berapapun jumlahnya dengan taraf berapapun untuk setiap variabel bebas.  Tetapi jika jumlah faktor yang dimanipulasi atau dikontrol  terlalu banyak pada waktu yang sama, studi dan analisis statistiknya menjadi ruwet dan beberapa dari kombinasi-kombinasinya menjadi rumit dan mungkin tidak alamiah.  Dalam disain 2 x 3 x 4, diperlukan 24 kelompok untuk mewakili semua kombinasi dari berbagai taraf dari variabel bebas ganda (multiple independent variables).  Jumlah kelompok yang diperlukan untuk factorial design adalah produk dari bilangan-bilangan yang menunjukkan  factorial design 2 x 3 x 4 = 24.  Gambaran mengenai kerumitan yang terkandung dalam disain semacam ini untuk menyusun sejumlah besar subyek dalam sejumlah besar kondisi dapat memberi pengertian kepada kita mengapa para peneliti pendidikan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaannya dengan disain-disain yang sesederhana mungkin, sekalipun analisis statistiknya sekarang dapat dikerjakan dengan komputer.

Keuntungan-keuntungan factorial design adalah bahwa (1) ia dapat melakukan dalam satu eksperimen apa yang sebenarnya harus dilakukan dalam dua eksperimen atau lebih dan (2) memberi kemungkinan untuk mempelajari interaksi yang seringkali begitu penting dalam penelitian pendidikan, (3) merupakan uji hipotesis yang kuat.

 

Quasi - Experimental Design

Tujuan peneliti adalah menggunakan disain-disain yang memberikan kontrol eksperimen yang penuh melalui penggunaan prosedur-prosedur randomisasi.  Sudah barang tentu ini adalah disain-disain true experiment seperti Design 3 sampai dengan design 8 di atas.  Banyak situasi dalam penelitian pendidikan  di mana peneliti tidak mungkin melaksanakan true experiment.  Baik kontrol penuh mengenai penjadwalan kondisi-kondisi eksperimen maupun kemampuan untuk mengadakan randomisasi seringkali tidak dapat dilaksanakan.   Misalnya, dalam penelitian yang dilaksanakan dalam situasi kelas, kemungkinan besar peneliti tidak dapat melakukan penempatan para subyek ke dalam kelompok-kelompok secara random.  Dalam keadaan seperti ini peneliti harus menggunakan disain-disain  yang akan dapat memberikan kontrol sebaik mungkin dalam keadaan tersebut.  Disain-disain ini disebut Quasi - experimental designs dan digunakan di mana true experimental design tidak mungkin dilaksanakan.  Karena Quasiexperimental design tidak memberi kontrol penuh, maka sangat penting untuk diketahui peneliti variabel-variabel mana akan dapat dikontrol dengan baik.  Peneliti harus juga sadar akan sumber-sumber ketidak sahihan internal dan eksternal, dan mempertimbangkannya dalam interpretasi.

 

Design 9. Nonrandomized Control-Group, Pretest-Posttest Design

Meskipun penempatan para subyek ke dalam kelompok-kelompok secara ramdom ideal, namun dalam kenyataan sering tidak mungkin dilaksanakan.  Dalam situasi sekolah, jadwal tidak dapat diganggu, kelas-kelas tidak dapat dirubah susunannya.  Dalam keadaan demikian  peneliti terpaksa menggunakan kelompok-kelompok sebagaimana adanya.

 

Design 9 Nonrandomized Control-Group, Pretest-Posttest Design

 

          Group                        Pretest                Independent Variable             Posttest

 


             E                               Y1                                    X                               Y2

             C                               Y1                                     -                               Y2

 


Karena randomisasi tidak mungkin, setiap usaha harus diarahkan kepada penggunaan kelompok-kelompok yang sedapat mungkin serupa pada awal studi.  Skor-skor pretest harus dianalisis untuk menentukan apakah mean dan standard deviasi kedua kelompok tersebut berbeda secara signifikan.  Jika skor dari kedua kelompok pada pretest tidak sama, peneliti dapat melanjutkan penelitiannya dan kemudian menggunakan teknik analisis kovarian untuk mengatasi sebagian dari ketidak samaan kedua kelompok tersebut.  Kesamaan dalam hal faktor-faktor ekstra yang relevan lainnya, seperti jenis kelamin, usia, tes inteligensi, dan sebagainya, harus dicek, jika mungkin, perlakuan-perlakuan eksperimen harus ditentukan secara random.  Dengan kata lain kelompok mana yang akan dijadikan kelompok eksperimen  sedapat mungkin ditentukan secara random.

Seperti disebutkan di atas, peneliti harus mengecek sumber-sumber ketidak sahihan internal dan eksternal ia menggunakan quasioexperimental design.  Apabila kesamaan kelompok diketahui dengan pasti dari skor pretest, peneliti dapat berasumsi bahwa main effects dari maturation, testing, dan instrumentation telah dapat dikontrol dan tidak akan diperkirakan sebagai efek dari X.

Sumber kesulitan utama disain ini adalah dalam perbedaan-perbedaan selection (pemilihan) yang mungkin membedakan kelompok E dengan kelompok G.  Selection menjadi suatu faktor apabila para subyek tidak dipilih dan ditempatkan secara random melainkan dipilih ke dalam kelompok-kelompok alasan-alasan yang tidak relevan dengan studi, seperti halnya dengan Design 9.  Perbedaan-perbedaan selection ini dapat berakibat dalam interacton effect antara selection dan variabel-variabel ekstra tertentu yang dapat disalah perkirakan sebagai akibat efek dari X.  Interaksi-interaksi yang paling terjadi adalah yang mencakup selection dan maturation.  Interaksi semacam itu  dapat terjadi jika salah satu kelompok mempunyai laju maturation lebih tinggi dari yang lain.  Kelompok yang lebih cepat menjadi  mature” akan menunjukkan perubahan yang lebih besar pada variabel  terikat sekalipun tanpa pemberian variabel eksperimen.  .  Yaitu, interaksi antar selection dengan maturation, bukan perlakuan eksperimen, yang terlihat sebagai efek.

Self-selectionn akan terjadi bila subyek eksperimen secara sukarela menyediakan diri untuk memperoleh perlakuan X dan tidak ada kelompok sebanding yang berfungsi sebagai kelompok kontrol.  Jika dua kelas mengetahui sebelumnya bahwa dua metode, eksperimen dan tradisional, akan digunakan dalam studi dan diijinkan untuk menyediakan diri secara sukarela untuk satu metode atau metode yang lain, maka perbedaan apapun yang terlihat sesudahnya antara kedua kelas tersebut tidak dapat diatribusikan kepada metode pengajaran karena ciri-ciri dari para subyek akan membatalkan mereka untuk menyediakan diri untuk metode lain dari pada yang dipilih nya.  Akibatnya, mungkin perbedaan-perbedaan awal inilah yang menyebabkan respons mereka kepada metode tersebut atau bahkan untuk prestasi apa pun metode pengajarannya.

Statistical  regression adalah masalah besar lain dari kesahihan internal untuk Design 9.  Istilah ini menunjuk kepada kecenderungan bagi skor-skor ekstrim untuk kembali atau bergerak ke arah mean kelompok pada pengukuran berikutnya.  Regression effect semacam itu dapat masuk ke dalam design ini jika kelompok-kelompok yang digunakan dalam studi diambil dari populasi-populasi yang mempunyai mean yang berbeda.  Sekalipun kelompok tersebut sama pada pretest, regression effect yang terjadi dapat berakibat sebagai perubahan dari pre-ke posttest yang disalah interprestasikan sebagai efek eksperimen.

Marilah kita berasumsi bahwa kelompok E dalam studi mempunyai mean 75 dalam pretest, yang berada dibawah mean populasi induknya, sedangkan kelompok kontrol mempunyai mean pretest 75, yang sedikit di atas mean populasi induknya.  Karena setiap kelompok akan bergerak ke arah mean populasi induknya bila diberi test lagi, dengan atau tanpa X; sebaliknya mean dari kelompok C akan bergerak ke bawah.  Kelompok E akan tampak membuat kemajuan lebih lama pelajaran dari studi ini daripada kelompok C, yang kemungkinan besar akan disalah interprestasikan sebagai efek dari X.  Regresi adalah sumber ketidak sahihan yang dapat dihindari melalui pemilihan sampel yang cermat.  Randomisasi, sudah barang tentu merupakan cara yang paling baik untuk mengontro efek-efek regresi yang mungkin terjadi.

Ancaman-ancaman terhadap kesahihan eksternal dalam Design 9 serupa dengan yang dijumpai dalam Design 5.  Tetapi, keuntungan dari Design 9 adalah bahwa reactive effects dari eksperimen lebih mudah dikontrol dari pada yang ada dalam Design 5.  Jika kelas-kelas intact digunakan, para subyek mungkin kurang sadar bahwa eksperimen sedang dilakukan daripada bila subyek diambil dari kelas-kelas dan ditempatkan ke dalam pertemuan-pertemuan eksperimen.  Ini memberi kontribusi kepada keumuman (generalizability) dari penemuan-penemuan.  Perlu juga dicatat bahwa eksperimen dalam situasi sekolah lebih mungkin untuk memperoleh ijin administratif untuk melakukan eksperimen jika peneliti menggunakan kelas-kelas intact, seperti dalam Design 9.

Masalah lain dalam Design 9 adalah pengukuran dari perubahan dari pretest ke posttest.  Dalam disain-disain non randomized timbul masalah-masalah penting mengenai change atau “gain” scores.  Sejumlah ahli pengukuran memberikan anjuran agar change score tidak digunakan sama sekali. 

Sekalipun tidak mungkin untuk membicarakan mengenai change scores secara mendetail di sini.  Perlu dikemukakan beberapa dari kesulitan-kesulitannya.  Korelasi negatif biasanya kita temui antara pretest scores dan gain yang dibuat dari pretest ke posttest.  Apakah ini berarti bahwa para siswa yang mempunyai nilai awal rendah belajar lebih banyak  (diukur dengan change scores) daripada mereka yang mempunyai nilai awal tinggi ? Mungkin tidak.  Korelasi negatif mungkin disebabkan karena ciri-ciri psikometrik yang aneh dari change scores.  Yang jelas, kebanyakan tes mempunyai batas maksimum (celling), yang berarti bahwa senjang (range) dari prestasi dalam butir-butir tes terbatas.  Jika seorang siswa menjawab 92 butir dengan benar dari pretest yang terdiri dari 100 butir, maka hanya mungkin untuk siswa ini memperoleh gain sebanyak 8 points dalam posttest.  Sebaliknya, seorang siswa yang mencapai skor 42 dalam prestest dapat memperoleh gain sebanyak 58 points.  Karena celling effect ini, para siswa yang termasuk dalam kelompok yang mempunyai prestasi tinggi dalam pretest terbatas pada change score yang rendah dalam posttest.

Regression ke arah mean merupakan confounding factor yang lain dalam interpretasi change scores.  Regression effect berarti bahwa para siswa yang mempunyai skor yang tinggi dalam pretest akan mencapai skor lebih rendah dalam posttest, sedangkan mereka yang mempunyai skor lebih rendah dalam pretest diharapkan akan memperoleh skor yang lebih tinggi dalam posttest.

Masalah tambahan dari gain scores adalah bahwa mereka mempunyai internal yang sama dalam semua segi dari test.  Tetapi suatu kemajuan (gain) dalam skor dari 92 ke 98 mungkin tidak sama dengan kemajuan dari 42 ke 48.  Mungkin lebih sulit untuk membuat kemajuan 6 points dalam skor pretest  yang tinggi daripada membuat kemajuan yang sama dalam skor pretest yang sedang.  Kesulitan lain adalah bahwa skor-skor perubahan (change scores) pada umumnya  kurang terandalkan daripada skor-skor pretest dan posttest sendiri. 

Sekalipun keterbatasan-keterbatasan change scores tidak dapat diatasi secara keseluruhan, ada prosedur-prosedur statistik yang dapat digunakan untuk mengatasi sebagian dari masalah tersebut.  Prosedur yang paling umum adalah menggunakan apa yang disebut “residualized change scores”, yaitu skor-skor yang dihitung dengan cara membuat pridiksi skor-skor posttest dari skor-skor pretest dan kemudian mengurangkan predicted score dari skor pretest yang sebenarnya untuk memperoleh apa yang disebut “residual gain score”.  Prosedur ini menghilangkan efek pretest score dari posttest  score.  Analisis kovarian adalah prosedur untuk menguji signifikansi dari perbedaan antara means dari residuals.”

 

              Design 10.     Counterbalanced Design

              Disain 10, disain lain yang dapat digunakan dengan kelompok-kelompok kelas intact, menggilir kelompok pada  interval-interval selama eksperimen.  Misalnya, kelompok E dan kelompok C menggunakan metode A dan metode B, berturut-turut untuk setengah waktu eksperimen yang pertama dan kemudian bergantian metode untuk sisa waktunya.  Ciri menonjol dari Disain 10 adalah bahwa semua subyek menerima semua perlakuan eksperimen pada suatu waktu selama eksperimen.  Sebenarnya disain ini mencakup suatu rentetan replikasi; dalam setiap replikasi kelompok-kelompok E dipindahkan sehingga pada akhir eskperimen setiap kelompok telah mendapat X.  Urutan pemberian pengalaman situasi eksperimen berbeda untuk setiap kelompok.  Counterbalanced design biasanya digunakan apabila peneliti harus menguji beberapa perlakuan, tapi disain ini juga dapat digunakan untuk dua perlakuan.

 

Design 10. A Sample Counterbalanced Design

 

                                                    Eksperimental Treatments

 


Replication                                    X1               X2                  X3                  X4 

      1                                            Group A          B                   C                    D

      2                                            Group C          A                   D                    B

      3                                            Group B          D                   A                    C

      4                                            Group D          C                   B                    A

 


                                                    column       column        column           column

                                                     mean           mean            mean              mean

                     

Setiap baris dalam Design 10 merupakan replikasi.  Untuk setiap replikasi kelompok-kelompok dipindahkan sehingga kelompok A mengalami X1  dahulu, kemudian X2, X3, dan akhirnya X4.  Setiap sel dalam disain akan berisi mean scores pada dependent variable untuk kelompok, perlakuan, dan replikasi yang ditunjukkan.  Mean scores untuk setiap  kolum akan menunjukkan performance keempat kelompok pada dependent variable dalam perlakuan yang dinyatakan oleh kolum.

Guru kelas dapat menggunakan counterbalanced studi untuk membandingkan efektivitas dua metode pengajaran dalam pelajaran science.  Guru tersebut dapat memilih dua kelas dan dua satuan pelajaran science yang dapat dibandingkan taraf kesulitannya, panjangnya, dan sebagainya.  Perlu diingat bahwa unit-unit pelajaran tersebut sama dalam kesulitan mengenai konsep-konsep yang terdapat di dalamnya.  Selama replikasi yang pertama dari disain, Kelas 1 diajar unit 1 dengan Metode A, dan Kelas 2 diajar dengan Metode B.  Test prestasi mengenai Unit 1 diberikan kepada kedua kelompok tersebut.  Kemudian kelas 1 diajar Unit 2 dengan Metode B, dan kelas 2 diajar dengan Metode A; kedua kelompok kemudian diberi test mengenai Unit 2.  Susunan ini dapat dilihat dalam tabel berikut ini.


 

              Contoh Counterbalanced Design

 

                                                                     Experimental Treatments

 

     Replication                                               Metode A                     Metode B

 

        (Unit) 1                                                   Class 1                         Class 2

        (Unit) 2                                                   Class 2                         Class 1

 

                                                                  Column mean             Column mean     

 

Setelah studi column means dihitung untuk menunjukkan mean achievement untuk kedua kelompok (kelas) jika diajar dengan metode yang ditunjukkan oleh heading dari kolum.  Perbandingan column mean scores melalui analisis varian menunjukkan efektivitas metode-metode pada prestasi dalam science,  Design 10 mengatasi sebagian dari kelemahan-kelemahan Design 9, yaitu, apabila kelas-kelas intact harus digunakan, counterbalancing memberikan kesempatan untuk menggilir perbedaan-perbedaan yang mungkin timbul antara kelompok-kelompok tersebut.

Kelemahan utama dari Design 10 adalah bahwa mungkin “carry-over effect” dari satu X ke X berikutnya.  Karena itu ia digunakan hanya bila perlakuan-perlakuan eksperimen demikian keadaannya hingga pemberian satu perlakuan tidak akan mempunyai efek pada perlakuan-perlakuan berikutnya.


 

TUJUAN KHUSUS PELAJARAN

 

Sesudah menamatkan dan menguasai materi 7 ini maka anda

diharapkan dapat menggambarkan disain-disain eksperimen.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7. DISAIN EKSPERIMEN LANJUTAN II

 

Time-Series Designs

Design 11.  One-Group Time-Series Design

Disain 11 mencakup pengukuran periodik satu kelompok dan pemberian perlakuan eksperimen kepada serentetan pengukuran ini.  Sebagaimana ditunjukkan disain ini, sejumlah pengukuran pada variabel terikat, Y2 dilakukan, X diberikan, dan pengukuran-pengukuran tambahan dari Y dilakukan.  Dengan membandingkan pengukuran-pengukuran tersebut sebelum dan sesudah X, peneliti dapat menentukan efek X pada performance kelompok pada Y.  Time - series design dapat digunakan dalam lingkungan  sekolah untuk mempelajari efek-efek dari perubahan pokok dalam kebijaksanaan administratif pada peristiwa-peristiwa disiplin.  Atau suatu studi dapat mencakup pangukuran berulang dari sikap para siswa dan efek yang ditimbulkan oleh suatu film dokumenter yang dibuat untuk merubah sikap.

 

              Design 11  One-Group Time-Series Design

 


                 Y1         Y2      Y3       Y4         Y5         Y6          Y7          Y8      

 


Gambar di bawah ini menunjukkan salah satu pola dari time-series study di mana perlakuan eksperimen diberikan.  Gambar tersebut menunjukkan rangkaian pengukuran Y1 sampai dengan Y8   dengan pemberian perlakuan eksperimen pada X.  Peneliti dapat menilai  efek dari X dengan melihat stabilitas serangkaian pengukuran tersebut.  Dengan melihat perbedaan antara Y4  dan Y5  dalam pola A, mungkin peneliti dapat berasumsi bahwa X mempunyai efek pada variabel terikat.  Pola B juga menunjukkan kemungkinan adanya efek eksperimental X.  Tetapi, peneliti tidak dapat berasumsi bahwa  X menimbulkan perubahan dalam pola-pola C atau D.  Pola C nampak diakibatkan dari maturation atau pengaruh yang serupa.  Ciri tidak tetap pola D menunjukkan adanya pengaruh faktor-faktor ekstra.

 

 

 

 

 

Text Box: Y Dependent Variable Measures                                                                         X

                                                                                    

 

 


                                          

 

 


                                      Y1    Y2    Y3    Y4           X     Y5    Y6    Y7         Y8

 

 

 

 

 

 

                                         Pola-pola yang mungkin terjadi dalam suatu unit design

 

Design 11 adalah serupa dengan Design 1 karena ia menggunakan pengukuran-pengukuran before-after dan tak mempunyai kelompok kontrol.  Tetapi, ia mempunyai keuntungan-keuntungan tertentu dibandingkan dengan Design 1 hingga Design 11 merupakan design yang lebih bermanfaat dalam penelitian pendidikan.  Multitesting internal merupakan suatu check terhadap ancaman -ancaman kesahihan internal.  Maturation, testing, dan regression dapat disingkirkan sebagai keterangan-keterangan alternatif mengenai perubahan yang terjadi dari Y4 ke Y5 , karena perubahan-perubahan semacam ini tidak terjadi dalam ukuran-ukuran sebelumnya.  Dianjurkan agar dalam disain ini tidak diadakan perubahan dalam instrumen pengukuran selama eksperimen.  Dengan demikian  maka dapat menghilangkan perubahan-perubahan dalam instrumentation sebagai keterangan alternatif mengenai perbedaan antara Y4 dan Y5.

Kelemahan utama disain 11 adalah kegagalan untuk mengontrol History; yaitu, peneliti harus menghilangkan kemungkinan adanya keterangan bahwa bukan X yang menyebabkan perubahan melainkan peristiwa tertentu yang terjadi pada waktu yang sama.  Barangkali faktor-faktor perubahan cuaca atau perubahan sekolah, sejauh mana pengukuran-pengukuran sikap dipengaruhi oleh pergolakan yang dipublikasikan secara nasional dalam kota, yang letaknya agak terpencil ?  Memungkinkan bahwa History (peristiwa-peristiwa kontemporer yang tidak terkontrol) dapat merupakan keterangan alternatif harus diatas pada waktu peneliti mencoba mengintegrasikan penemuan-penemuannya.  Peneliti juga harus memikirkan mengenai kesahihan eksternal dari tipe disain ini.  Karena dalam disain ini terdapat test-test yang berulang-ulang, barangkali terdapat semacam efek interaksi dari testing yang akan membatasi penemuan-penemuan hanya pada populasi yang terkena tes ulang, selama pengukuran-pengukurannya seperti tes-tes yang diselenggarakan di sekolah, ini tidak merupakan keterbatasan yang serius.  Selain itu, interaksi antara selection dengan X mungkin terjadi, terutama bila peneliti memilih kelompok tertentu yang mempunyai ciri khas.

Interprestasi statistik dapat merupakan masalah khusus dalam time data ini.  Karena skor-skor individual dan mean begitu berubah-ubahnya dari waktu ke waktu, peneliti mungkin cenderung untuk menginterpretasikannya sebagai pengaruh dari A,  sedangkan mungkin itu disebabkan karena variabel-variabel lain.  Test of significance yang biasa digunakan mungkin tidak tepat untuk time design.

 

 

Design 12.  Control-Group Time-Series Design

Design 12 merupakan perkembangan dari Design 11 karena ia mempunyai kelompok kontrol.  Kelompok kontrol, yang sekali lagi merupakan kelompok  kelas yang intact, akan diukur pada waktu yang sama dengan kelompok eksperimen tetapi tidak memperoleh perlakuan X.  Design ini mengatasi kelemahan yang dimiliki Design 11-yaitu, kegagalan untuk mengontrol History sebagai sumber varian ekstra.  Kelompok kontrol memungkinkan perbandingan yang perlu diadakan.  Jika kelompok E menunjukkan gain (kemajuan) dari  Y4 ke Y5 , tapi kelompok C tidak menunjukkan itu, maka efek tersebut tentunya disebabkan karena X dan bukan karena peristiwa-peristiwa kontemporer, yang dapat mempengaruhi kedua kelompok tersebut.

 

              Design 12  Control-Group  Time-Series Design

 


              Group

                  E                 Y1       Y 2     Y3     Y 4      X       Y 5     Y 6      Y 7       Y8   

 

                  C                Y 1      Y 2      Y 3    Y4       -         Y 5     Y6      Y7          Y8

 

Variasi-variasi lain dari time-series design mencakup penambahan kelompok kontrol yang lebih banyak jumlahnya, lebih banyak perlakuan eksperimen.

 

Masalah-masalah Kesahihan Dalam Disain-disain Eksperimen

Beberapa sumber ketidak sahihan dalam disain eksperimen variabel tunggal dirangkum dalam tabel di bawah ini.  Rangkuman singkat ini hendaknya jangan dijadikan penuntun tunggal dalam pemilihan suatu disain.  Ia harus disertai dengan pertimbangan yang mendalam mengenai faktor-faktor lain seperti  kelemahan dan kekuatan masing-masing disain seperti yang telah diuraikan diatas.  Pemilihan disain harus diikuti dengan prosedur analisis statistik yang tepat.  Dari permulaan studi peneliti harus sudah menyadari kemungkinan-kemungkinan yang akan timbul bila disain yang dipilihnya itu diterapkan.  Kemudian ia harus menggunakan teknik-teknik kontrol yang dapat dilakukan untuk mengurangi, bahkan bila mungkin menghilangkan ancaman-ancaman yang dapat memperlemah atau mengacaukan interpretasi penemuan penelitian.  Peneliti harus senantiasa berfikir kritis selama eksprimen berjalan dan mempertimbangkan interpretasi-interpretasi lain yang mungkin timbul dalam tahap penginterpretasian penemuan penelitian.  Apabila ini semua sudah dilakukannya dengan sekuat tenaga ia harus berani mengakui dan menyatakan kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam penelitiannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Factor Jeopardizing the Validity of Experimental Design

 


                                                                                     Design*

   Sources of Invalidity                   Preexperi-             True Experi-             Quasi

                                                    mental                    mental            Experimental

                                                    1   2                        3   4   5   6   7      9   10 11 12

 

Internal Validity

History**  -                                     +   +                        +   +   +   +   +     +   -    +

Maturation                                     -    ?                        +   +   +   +   +     +   +   +   +

Pretesting                                     -    +                        +   +   +   +   +     +   +   +   +

Instrumentation                              -    +                        +   +   +   +   +     +   +   ?   +

Statistical Regression                    ?   +                        +   +   +   +   +     ?   +   +   +

Differential selective of Se             +   -                         +   +   +   +   +     +   +   +   +

Mortality  +                                    -    +                        +   +   +   +   +     +   +   +

Internation of selection

and maturation, etc.                       -    -                         +   +   +   +   +     -    ?   +   +

 

External Validity

Internal of selection

and experimental variable              -    -                         ?   ?   ?   ?   ?      ?   ?   ?   -

Interaction of pretesting

and oxperimental variable              -                              +   +   -    +   +     +   ?   -    -

Reactive experimental

Procedure                                    ?   ?                        ?   ?   ?   ?   ?      ?   ?   ?   ?

Multiple-treatment

Interference                                                                                                     -

                                                                                                                                   

* Design are as follows :

1. One group, pretest-posttest

2. Two groups, static

3. Two groups, randomized Ss, posttest only

4. Two groups, randomized matched Ss, posttest only

5. Randomized groups, pretest-posttest

6. Solomon, three groups

7. Solomon, four groups

9. Nonrandomized control group, pretest-posttest

10. Counterbalanced

11. One group, time series

12. Control group, time series

** A plus sign indicates that factor is controlled, a minus sign indicates lack of control, a quetion mark indicates a possible source of concern, and a blank indicates that the factor is not relevant.

 

Perbedaan Pokok antara Penelitian Eksperimen dan Penelitian Ex Post Facto

Dasar dari struktur di mana ilmuwan eksperimen beroperasi adalah sederhana.  Dia  berhipotesis : Jika X, maka Y ; bila frustasi, maka agresi.  Teergantung dari keadaan dan pilihan pribadinya dalam disain penelitian, ia menggunakan untuk memanipulasi atau mengukur X.  Ia kemudian mengamati y untuk melihat apakah variasi konkomitant variasi yang diharapkan atau diramalkan dari variasi dalam x, terjadi.  Bila itu terjadi, ini merupakan fakta untuk kesahihan proposisi, x         y, yang berarti “ Jika x, maka y.” Perhatikan bahwa ilmuwan di sini meramal dari x yang di kontrol ke y.  Untuk membantunya mengontrol, ia dapat menggunakan prinsip randomisasi dan manipulasi aktif dari x dan dapat berasumsi bahwa y bervariasi sebagai akibat dari manipulasi x.

Dalam penelitian ex post facto, sebaliknya, y diamati, dan suatu x, atau beberapa x, juga diamati, sebelum, sesudah, atau konkomitant (bersamaan) dengan observasi y.  Tidak ada perbedaan apa pun dalam logika  dasar; dapat ditunjukkan bahwa struktur argumen dan kesahihan logisnya sama dalam eksperimen maupun dalam penelitian ex post facto.  Dan tujuan dasar keduanya juga sama; mengadakan kesahihan empiris dari apa yang dinamakan pernyataan-pernyataan kondisional yang berbentuk : jika p, maka q.  Perbedaan inti adalah kontrol langsung dari p, variabel bebas.  Dalam penelitian eksperimen, p dapat dimanipulasi, yang merupakan “kontrol” langsung.  Lagi pula, para subyek dapat ditempatkan secara random ke dalam kelompok eksperimen.

Dalam penelitian ex post facto, kontrol langsung tidak mungkin baik: baik manipulasi eksperimen maupun penempatan random tidak dapat digunakan oleh peneliti.  Ini merupakan dua perbedaan inti antara pendekatan-pendekatan eksperimental dan ex post facto.  Disebabkan karena tidak adanya kontrol dari x dan adanya kemungkinan pengaruh dari beberapa x lain, “kebenaran” dari hubungan antara x dan y seperti yang dihipotesiskan tidak dapat dinyatakan dengan “keyakinan” seperti dalam penelitian eksperimen.  Pada dasarnya, dapat dikatakan bahwa penelitian ex post facto mempunyai kelemahan bawaan : tidak adanya kontrol terhadap variabel bebas.

Perbedaan paling penting  antara penelitian eksperimen dan penelitian ex post facto adalah kontrol.  Dalam kasus eksperimen peneliti paling sedikit mempunyai kontrol manipulatif : ia paling sedikit mempunyai satu variabel aktif.  Jika eksperimennya merupakan true experiment ia juga dapat mengadakan kontrol melalui randomisasi.  Ia dapat menempatkan para subyek ke dalam  kelompok-kelompok secara random, atau ia dapat memberikan perlakuan-perlakuan kepada kelompok-kelompok secara random.  Dalam situasi ex post facto kontrol terhadap variabel-variabel bebas tidak mungkin.  Peneliti harus menerima apa adanya dan harus mencoba untuk menganalisisnya.  Secara singkat dapat dikatakan bahwa kemungkinan bahwa x “benar-benar” berhubungan dengan y lebih besar dalam eksperimen kontro terhadap x lebih besar.

 

 

 

Self-Selection dan Penelitian Ex Post Facto

Dalam dunia penelitian ilmiah sosial yang ideal, pengambilan subyek secara random, dan penempatan para subyek ke dalam kelompok-kelompok secara random dan pemberian perlakuan kepada kelompok secara random akan selalu mungkin untuk dilaksanakan.  Dalam kenyataannya, satu, dua, atau ketiga prosedur tersebut di atas tidak  mungkin dilaksanakan.  Peneliti dapat mengambil para subyeknya secara random baik dalam eksperimen maupun dalam penelitian ex post facto.  Tetapi dalam penelitian ex post facto tidak mungkin untuk menempatkan para subyek ke dalam kelompok-kelompok secara random atau memberikan perlakuan kepada kelompok secara random.  Jadi para subyek dapat menempatkan  diri ke dalam kelompok-kelompok, dapat “memilih dirinya sendiri” untuk masuk ke dalam kelompok-kelompok  berdasarkan karakteristik  yang lain daripada yang sedang diteliti oleh peneliti.  Para subyek dan perlakuan-perlakuan datang dan sudah ada dan berada dalam kelompok-kelompok.

Self-selection (pemilihan diri sendiri)  terjadi ketika para anggota kelompok yang sedang diteliti berada dalam kelompok-kelompok, sebagian disebabkan karena mereka mempunyai ciri-ciri yang berbeda-beda yang lain daripada masalah penelitian, ciri-ciri yang mungkin mempengaruhi atau barangkali berhubungan dengan variabel-variabel dari masalah penelitian.  Contoh mengenai sel-selection mungkin akan dapat menjelaskan persoalan ini.

Dalam penelitian yang terkenal mengenai merokok sigaret dan kanker, kebiasaan merokok dari sejumlah besar orang diteliti.  Kelompok besar ini dibagi ke dalam mereka yang mempunyai kanker paru-paru --- atau yang telah meninggal karenanya --- dan mereka yang tidak mempunyai kanker.  Para peneliti mempelajari latar belakang orang-orang tersebut untuk menentukan apakah mereka merokok sigaret, dan kalau demikian, berapa banyak.  Merokok sigaret merupakan variabel bebas.  Para peneliti menemukan bahwa kanker paru-paru timbul dengan jumlah sigaret yang dirokok setiap harinya.  Mereka juga menemukan bahwa kemungkinan sakit kanker lebih kecil bagi mereka yang tidak merokok.  Mereka kemudian berkesimpulan bahwa merokok sigaret menyebabkan kanker paru-paru.  Kesimpulan ini mungkin benar, mungkin salah.  Tetapi para peneliti tidak menyimpulkan demikian mereka dapat mengatakan bahwa terdapat hubungan yang secara statistik signifikan antara variabel-variabel tersebut.

Para peneliti tidak dapat menyatakan hubungan kausal karena terdapatnya variabel-variabel lain yang secara terpisah atau bersama-sama mungkin menyebabkan kanker paru-paru.  Kecuali itu mereka juga tidak dapat mengontrol variabel-variabel bebas lainnya.  Mereka tidak dapat mengontrol mereka kecuali dengan menguji hipotesis-hipotesis alternatif.  Bahkan bila para peneliti juga mempelajari kelompok-kelompok kontrol “ dari orang-orang yang  tidak mempunyai kanker, self-selection dapat beroperasi.  Mungkin orang-orang  yang mudah tegang, cemas cenderung untuk mempunyai kanker paru-paru jika mereka kawin dengan wanita cantik, misalnya.  Mungkin juga bahwa orang-orang semacam ini merokok sigaret dalam jumlah yang besar.  Jadi bukan merokok sigaret yang membunuh mereka-mereka membunuh diri sendiri karena mereka dilahirkan sebagai orang-orang yang mudah tegang dan cemas dan kawin dengan wanita cantik.  Tetapi orang-orang semacam ini memilih dirinya sendiri ke dalam sampel karena mereka mempunyai ciri yang sama yaitu mudah tegang, cemas dan kawin dengan wanita cantik dan yang secara bersamaan juga merokok sigaret.

Self-selection capat merupakan masalah yang pelik.  Ada dua macam self-selection :  self-selectin ke dalam sampel-sampel dan self-selection ke dalam kelompok-kelompok pembanding.  Yang terakhir ini terjadi apabila  para subyek terpilih karena merka berada dalam suatu kelompok : mempunyai kanker atau tidak mempunyai kanker, dari perguruan tinggi atau tidak dari perguruan tinggi, pandai atau tidak pandai.  Dengan kata lain, mereka dipilih karena mereka mempunyai variabel terikat, sedikit atau banyak.   Self-selection ke dalam sample terjadi apabila para subyek dipilih ke dalam sample secara tidak acak.

Landasan pokoknya adalah bahwa bila penempatan tidak dilakukan secara acak, selalu akan terdapat lubang bagi variabel-variabel lain untuk masuk.  Jika peneliti menempatkan para subjek ke dalam kelompok, seperti kasus di atas misalnya, atau jika mereka menempatkan diri ke dalam kelompok, berdasarkan satu variabel, ada kemungkinan bahwa variabel lain yang berkorelasi dengan variabel ini merupakan dasar sesungguhnya dari hubungan tersebut.  Studi Ex.Post Facto yang biasa dilakukan menggunakan kelompok-kelompok yang menunjukkan perbedaan-perbedaan dalam variabel terikat.  Dalam beberapa studi yang bersifat longitudinal kelompok-kelompok dibedakan dahulu berdasarkan variabel bebas.  Tetapi kedua kasus tersebut pada dasarnya sama, karena keanggotaan kelompok yang didasarkan atas suatu variabel senantiasa menyebabkan selection.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR BAHAN BACAAN PENUNJANG

 

1. Babbie Earl., THE PRACTICE OF SOCIAL RESEARCH, Third Edition, Wads worth Publishing Company, Belmont, California, 1983.

 

2. Boyd Harper W., Westfall Ralp., dan Stasch Stanley F., MARKETING RESEARCH Text and Cases, Fifth Edition, Richard D. Irwin, Inc., Homewood, Ilinois, 1981.

 

3. Christensen, Larry B., EXPERIMENTAL METHODOLOGY, Allyn and Bacon, Inc., Boston, 1977.

 

4. Cochran William G., SAMPLING TECHNIQUES, Third Edition, John Wiley & Sons, New York, 1977.

 

5. Cook Thomas D., dan Campbell Donald T., QUASI-EXPERIMENTATION Design & Analysis Issues for Field Settings, Rand McNally College Publishing Company, Chicago, 1979.

 

6. Cox D.R., PLANNING OF EXPERIMENTS, John Wiley & Sons, Inc., New York , 1958.

 

7. Drew Clifford J., INTRODUCTION TO DESIGNING RESEARCH AND EVALUATION, The C.V. Mosby Company, Saint Louis, 1976.

 

8. Guilford J.P., dan Fruchter Benjamin., FUNDAMENTAL STATISTICS IN PSYCHOLOGY AND EDUCATION, Sixth Edition, McGraw-Hill Book Company, New York, 1978.

 

9. Hansen Morris H., Hurwitz William N., Madow William G., SAMPLE SURVEY METHODS AND THEORY, Volume I Methods and Applications, New York, John Wiley & Sons, Inc.  1953.

 

10. Jessen Raymond J., STATISTICAL SURVEY TECHNIQUES, John Wiley & Sons, 1978.

 

11. Johnson M. Clemenns., A REVIEW OF RESEARCH METHIDS IN EDUCATION, Rand McNally College Publishing Company, Chicago, 1977.

 

12. Kerlinger, F.N., FOUNDATION OF BEHAVIORAL RESEARCH, Holt Rinehart and Winston Inc., New York, 1973.

 

13. Kerlinger, Fred N., dan Pedhazur Elazar J., MULTIPLE REGRESSION IN BEHAVIORAL RESEARCH, Holt, Rinehart and Winston Inc., New York, 1973.

14. Leedy Paul D., PRACTICAL RESEARCH Planning and Design, Macmillan Publishing Co, Inc., New York, 1974.

 

15. Montgemery Douglas C., DESIGN AND ANALYSIS OF EXPERIMENTS, John Wiley & Sons, 1976.

 

16. Sinsuw Lemual A., KAPITA SELEKTA METODE PENELITIAN Bahan Latihan Seminar/Riset Institusional Mahasiswa IKIP Negeri Manado, IKIP Manado, 1985.

 

17. Soedarto, Rukiat, Sitepu., METHODE PENELITIAN SOSIAL I, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Sistem Pendidikan  Jarak Jauh dengan Satelit (SISDIKSAT) BKS-PTN-INTIM - IPB  - USAID/AED, Ujung Pandang, 1985.

 

18. Travers Robert M.W., AN INTRODUCTION TO EDUCATIONAL RESEARCH  Fourth Edition, 1978.

 

19. Van Dalen Deobold D., UNDERSTANDING EDUCATIONAL RESEARCH An Introduction, New York, McGraw-Hill Book Company, Inc. 1962.

 

20. Winarno Surakhmad, PENGANTAR PENELITIAN ILMIAH Dasar, Metode dan Teknik Edisi Ketujuh, disempurnakan, Penerbit “ Tarsito” Bandung, 1982.

 

                                    [ KEMBALI KE INDEX ]