Make your own free website on Tripod.com

Dalam memilih disain suatu sampling hendaknya tidak dilakukan secara serampangan .  Disain yang dipilih hendaknya merupakan suatu alat dari penelitian, dan untuk itu maka alatnya harus dipilih secara tepat dengan mengindahkan prosedurnya dalam membuat sampling terhadap populasi yang dihadapi.  Memulai penguasaan berbagai teknik sampling yang telah dikemukakan dalam bagian ini, dan dengan mengenal ciri-ciri populasi yang sudah dikenal, maka pemilihan disain sampling akan lebih mudah.  Dengan memperoleh data yang benar dan tidak bias, maka penelitian yang dilakukan kelak akan memberikan hasil yang sahih.

Untuk mengakhiri bagian ini maka perlu sekali ditekankan rumusan yang tepat mengenai apa yang disebut disain riset itu.  Untuk maksud itu maka salah satu pengertian berikut ini dikemukakan oleh M.Clemen Johnson yang menyatakan sebagai berikut:

“Researh design is concerned with the planning of study.  The design decribes the purposes of study , how students and teacher are to be selected, methods or producers be followed, measurements to be selected, and comparisons or other analysisto be made.”

Walaupun segala sesuatunya tidak dapat dikhususkan lebih dahulu sebelumnya, namun perencanaan harus beralasan dan lengkap.  Selanjutnya Johnson mengatakan lagi :

“Research design involves the use of one or more of the general methods that have been mentioned, such as qualitative descriptioan, longitudinal research, correlational analysis, test development, educational survey, or the comparative experiment.”

Sebuah disain reset adalah juga sebagai tugas yang kreatif.  Peneliti hendaknya tidak merasakan supaya penelitiannya hanya harus mengikuti pola tertentu.  Karena itu maka untuk mendisain suatu rencana penelitian, peneliti hendaknya diarahkan menurut tujuan penelitian itu sendiri, dan hendaknya pula menggunakan akal dan kreativitasnya.  Disain riset yang bagaimanapun adalah perpaduan  antara seni dan ilmu pengetahuan.

Dalam memulaikan suatu desain penelitian maka terutama sekali harus diketahui apa masalah yang akan diteliti.  Pertanyaan apa yang hendak dijawab oleh peneliti? Untuk itulah maka peneliti memerlukan gagasan tertentu  yang dapat mengarahkannya.  Bahkan, kontribusi utma dari peneliti biasanya adalah mengajukan pertanyaan secara benar.

Pemilihan masalah dalam suatu penelitian merupakan suatu “Value judgement”dari si peneliti .  Pada perinsipnya peneliti dapat memilih dari sekian banyak masalah yang ada .  Mungkin masalah pendidikan dapat dipecahkan dengan suatu cara yang baru, atau suatu pendekatan dapat dicobakan seperti yang pernah dialami oleh sekolah yang berhasil.  Merupakan suatu keuntungan jika peneliti mempunyai ahli dalam bidang tertentu yang diperlukan.  Literatur juga dpat menolng untuk mempelajari masalah yang sedang diteliti.

Seorang penelti muda dapat saja membuat definisi masalahnya secara luas.  Untuk memperkecil masalahnya, peneliti dapat juga membatasi permasalahannya dengan membuat hipotesis yang tidak lebih dari satu atau dua buah.  Hipotesisnya mungkin hanya akan mengkhususkan masalah hubungan antara dua variabel atau lebih, atau juga hendak mengetahui perbedaan rata-rata diantara kedua variabel yang ada.

Adalah lebih baik mendapatkan bukti yang benar walaupun terbatas, daripada banyak pembuktian yang samar-samar.

Penjelasan berbagai istilah merupakan suatu hal yang perlu dilakukan sehingga mengharuskan peneliti menyampaikan definisi operasionalnya mengenai variabel yang diteliti.  Definisi adalah sama dengan “Working Definition” yang memungkinkan peneliti memberikan penjelasan maksud penelitian secara lebih menjurus.  Isinya menjelaskan mengenai kata-kata, skor test atau gabungan keduanya.  Definisi operasional dapat saja sama dengan hipotesis, namun hanya hipotesis yang akan diuji dan bukan definisi operasionalnya. 

Disain penelitian yang mengkhususkan semua data yang akan dikumpulkan.  Data diperoleh dari skor yang diambil dari nilai kecakapan murid atau sejenisnya.  Tergantung pada jenis peneltian yang dilakukan, apakah test sikap ataupun kepribadian, datanya dapat digunakan untuk diuji.  Dari data ini diperoleh bukti untuk menguji kebenaran hipotesis yang dikemukakan .  Dalam survey datanya diperoleh melalui interview atau kwesioner dan chcklist.

Dalam membuat rencana penelitian penelti hendaknya mengetahui   ukuran dan ciri-ciri populasi yang digunakan.. Jika beberapa kelompok-kelompok akan digunakan, hendaknya peneliti mengetahui bagaimana cara memilih wakil dari kelompok-kelompok tersebut secara benar.

Tujuan yang lebih luas dari suatu disain  penelitian ialah  untuk meningkatkan informasi yang diperoleh.  Karena  itu maka informasi yang tepat dan benar dapat diharapkan jika tidak terdapat banyak kekeliruan sewaktu mengadakan pengukuran, pemilihan subyak, analisis data, dan kegiatan lainnya selama prosuder penelitian dijalankan.

 

 

 

 

 

 

 

TUJUAN KHUSUS PELAJARAN

 

Sesudah menamatkan dan mengusai materi 3 ini maka anda

diharapkan dapat menjelaskan tentang kesahihan disain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.  KESAHIHAN DISAIN

Manipulasi

Manipulasi dari variabel menunjuk kepada suatu operasi sengaja yang dilakukan oleh peneliti (experimenter).  Dalam penelitian pendidikan dan ilmu-ilmu sosial lain, manupulasi variabel mempunyai bentuk karakteristik dimana peneliti mengadakan serangkaian dari kondisi-kondisi yang berbeda tersebut dinamakan variabel bebas, variabel eksperimen, atau variabel perlakuan.  Kondisi yang berbeda-beda tersebut direncanakan untuk mewakili dua nilai atau lebih dari variabel bebas, ini mungkin berupa perbedaan-perbedaan dalam taraf atau perbedaan-perbedaan dalam macam.  Peneliti dapat memanipulasi satu variabel sejumlah variabel pada waktu yang sama.  Analisis multivariat menghemat waktu dan tenaga karena ia mungkin peneliti sejumlah variabel pada waktu yang sama dan dapat difokus satu variabel dan dalam interaksi yang terakhir ini (interaksi) seringkali merupakan aspek yang terpentingdari studi.

Observasi

Dalam eksperimen kita menaruh perhatian pada variabel bebas pada variabel respons.  Observasi dilakukan sehubungan dengan karakteristik tertentu dari kelakuan subyek yang digunakan dalam penelitian.  Observasi ini, yang jika mungkin bersifat kwantitatif merupakan variabel terikat. Variabel terikat dalam penelitian pendidikan seringkali berupa prestasi sesuatu, seperti belajar.  Kita seringkali berminat untuk menerangkan atau meramal prestasi.  Perlu diingat bahwa kita tidak dapat mengukur belajar secara langsung.  Kita hanya dapat memperkirakan belajar melalui ukuran-ukuran seperti skor dalam tes.  Karena itu, variabel terikatnya adalah skor atau observasi, dan bukan prestasi sendiri.

Pembandingan Eksperimen

Untuk eksperimen yang paling sederhana diperlukan dua kelompok subyek : kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.  Masing-masing kelompok dikenakan perlakuan yang berbeda.  Acapkali salah satu perlakuannya terdiri dari seperangkat kondisi yang biasa (seperti biasanya) dan kelompok yang menerima perlakuan ini dinamakan kelompok kontrol.  Kelompok yang diberi perlakuan yang baru atau yang tidak biasa (tidak biasanya) dinamakan kelompok eksperimen.  Dalam eksperimen yang meneliti efek dari suatu metode mengajar baru, kelompok siswa yang diajar dengan metode yang biasa akan merupakan kelompok kontrol (akan berfungsi sebagai kelompok kontrol).  Kelompok-kelompok eksperimen dan kontrol harus sama dalam semua faktor yang dapat mempengaruhi variabel terikat; mereka berbeda dalam hal variabel bebas yang dimanipulasi oleh peneliti.  Setelah peneliti mengenakan kondisi yang berbeda-beda pada para subyek, setiap subyek diukur variabel terikatnya.  Pengukuran diikuti evaluasi.  Apakah ada perbedaan antara dua kelompok?  Apakah efek dari perlakuan B?  Pertanyaan ini mengandung dan memerlukan suatu perbandingan dari ukuran-ukuran variabel terikat dalam satu kelompok.  Dengan ukuran-ukuran respon dalam kelompok lain.  Pembandingan tersebut harus menerangkan kepada peneliti apakah perbedaan-perbedaan pada variabel terikat berhubungan dengan perbedaan-perbedaan pada variabel bebas seperti yang terwujud dalam dua kondisi A dan B tidak.

Disain Eksperimen

Disain eksperimen menunjuk kepada kerangka konseptual dalam mana eksperimen dilaksanakan.  Disain eksperimen mempunyai dua fungsi: (1) ia memberikan kesempatan untuk pembandingan yang dituntut oleh hipotesis eksperimen dan (2) ia memungkinkan peneliti membuat interprestasi dari hasil studi melalui analisis statistik dari data.  Jika disain harus melaksanakan tugas-tugas ini, ia harus dipilih oleh peneliti dengan kriteria tertentu.

Kriteria yang terpenting adalah bahwa disain harus tepat untuk menguji hiptesis-hipotesis tertentu dari studi.  Tanda dari eksperimen yang canggih bukanlah kerumitan dan kesederhanaan tapi ketepatan.  Disain yang dapat melaksanakan tugasnya adalah disain yang benar.  Jadi tugas pertama dai peneliti adalah memilih disain yang dapat mengatur kondisi eksperimen untuk memenuhi kebutuhan masalah eksperimennya sendiri.

Jika hipotesis penelitiannya adalah hipotesis interaksi, maka hipotesis tersebut dapat diuji dengan baik hanya dengan menggunakan disain faktorial.  Namun sayang, para peneliti kadang-kadang ada yang menguji hipotesis interaksi dengan cara melakuakan dua eksperimen atau lebih.  Dengan cara ini disainnya tidak hanya tidak efisien, melainkan sebenarnya tidak mampu untuk menguji hipotesis tersebut.  Misalkan seorang peneliti  menaruh perhatian pada efek pengajaran berprogram mengenai konsep-konsep dasar ilmiah di sekolah dasar.  Ia percaya mungkin ada perbedaan efek dari metode ini berdasarkan besarnya kelas dan tarap intelligensi siswa.  Masalah ini memerlukan disain faktorial.  Ia tidak dapat menjawab pertanyaan peneliti dengan dua atau tiga eksperimen yang terpisah masing-masing dengan satu variabel bebas.

Contoh lain dari disain yang tidak tepat adalah usaha untuk menggunakan “Matched-subjects design” dalam kasus-kasus bila tidak mungkin dari peneliti untuk mengadakan matching  para subyeknya pada semua variabel ekstra yang relevan.  Sekaligus matching dapat berhasil pada satu dua variabel, tidak dapat diasumsikan bahwa kelompok-kelompok tersebut sama pada semua variabel yang relevan. Dalam keadaan seperti ini “randomized-subjek design” akan lebih baik.

Kriteria kedua adalah bahwa disainnya harus memberi kontrol yang cukup sehingga efek dari variabel bebas dapat dinilai.  Jika disain tidak mengontrol variabel-variabel ekstra, kita tidak akan dapat merasa yakin mengenai hubungan antara variabel-variabel dalam studi.  Seperti telah disebutkan diatas, randomisasi adalah satu cara yang terbaik untuk memperoleh kontrol yang diperlukan.  Karena itu lebih baik kita memilih disain yang menggunakan randomisasi dalam segala aspek jika mungkin.  Jika tidak mungkin memilih subyek-subyek secara random, maka kita sebaiknya  mencoba menempatkan para subyek kedalam kelompok-kelompok secara random.

Kesahihan Disain Penelitian

Kontribusi yang sangat penting kepada evaluasi disain penelitian telah banyak dibicarakan dalam literatur penelitian.  Dua kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi disain eksperimen adalah: kesahihan internal dan kesahihan eksternal.

Kesahihan internal. Kesahihan internal mengandung pertanyaan :  Apakah perlakuan eksperimen benar-benar mengakibatkan perubahan pada variabel terikat ?  Apakah variabel bebas benar-benar membuat perbedaan signifikan ?  Pertanyaan-pertanyaan  validitas internal ini tidak dapat dijawab dengan positif oleh peneliti kecuali jika disainnya memberikan cukup kontrol terhadap variabel-variabel ekstra.  Dengan perkataan lain, jika disainnya mempunyai kontrol terhadap variabel-variabel, kita dapat menyingkirkan keterangan-keterangan alternatif mengenai hasil empirik dan menginterpretasikan hasilnya sebagai suatu hubungan intrinsik antara variabel-variabel.  Kesahihan internal pada hakekatnya merupakan masalah kontrol.  Disini yang mempunyai kontrol yang baik merupakan cara untuk menyingkirkan variabel-variabel ekstra - yaitu, variabel-variabel yang dapat menimbulkan interpretasi-interpretasi alternatif.  Segala sesuatu yang memberi sumbangan untuk kontrol disain memberi kontribusi kepada kesahihan internal.

Campbell dan Stanley (lihat materi bacaan) mengidentifikasi delapan variabel ekstra yang sering merupakan ancaman bagi kesahihan internal dari disain penelitian.  Variabel-variabel ini harus dikontrol, bila tidak mereka kemungkinan besar akan menghasilkan efek yang dapat memberikan salah pengertian mengenai efek perlakuan eksperimen. 

1. History.  Peristiwa-peristiwa khusus, yang bukan perlakuan eksperimen, dapat terjadi antara pengukuran pertama dengan pengukuran kedua dari para subyek yang mengakibatkan perubahan-perubahan pada variabel terikat.

2. Maturation.  Proses-proses yang beroperasi dalam subyek hanya sebagai fungsi dari waktu yang berjalan dapat menghasilkan efek-efek yang mungkin akan disalah artikan sebagai akibat dari variabel bebas.  Para Subyek mungkin memberikan penampilan yang berbeda pada pengukuran variabel terikat hanya karena mereka menjadi lebih tua, lebih lapar, lebih lelah, atau menjadi kurang motivasinya dibandingkan dengan pengukuran-pengukuran pertama.

3. Pretesting.  Pengalaman dalam pretest dapat mempengaruhi penampilan para subyek dalam test kedua, sekalipun tanpa perlakuan eksperimen.

4. Measuring instruments.  Perubahan-perubahan dalam alat-alat pengukur, para pengukur, atau para pengamat yang digunakan dapat mengakibatkan  perubahan-perubahan dalam ukuran-ukuran yang diperoleh peneliti.  Jika posttest lebih sukar atau jika para pengamat digunakan untuk pengukuran-pengukuran pre - dan post -, faktor ini dapat menyebabkan perbedaan-perbedaan dalam dua skor tersebut.

5. Statistical regression.  Jika kelompok-kelompok dipilih berdasarkan skor-skor ekstrim, regresi statistik dapat beroperasi menghasilkan efek yang dapat disalah artikan sebagai efek eksperimen.  Efek regresi ini menunjuk kepada tendensi skor-skor ekstrim untuk bergerak ke arah mean pada pengukuran berikutnya.  Misalnya, marilah kita berasumsi bahwa empat orang siswa yang mempunyai skor terendah dalam test bahasa Inggris dipilih untuk suatu eksperimen program khusus dalam bahasa Inggris.  Mean dari kelompok ini akan cenderung bergerak ke mean populasi dalam test kedua, dengan atau tanpa perlakuan eksperimen.  Demikian pula, mean-mean awal yang tinggi akan cenderung  untuk turun ke mean populasi dalam test kedua.

6. Differential eslection of subjects.  Mungkin terdapat perbedaan -perbedaan penting antara kelompok-kelompok bahkan sebelum penerapan perlakuan eksperimen.  Jila kelompok eksperimen dalam eksperimen belajar  lebih intelligen daripada kelompok kontral, kelompok eksperimen mungkin memang mempunyai prestasi yang lebih tinggi sekalipun tanpa perlakuan eksperimen.

7.  Expremental Mortality .  Dalam eksperimen mungkin terdapat beberapa orang yang hilang atau mengundurkan diri dari kelompok-kelompok yang sedang diperbandingkan.  Jika seseorang tertentu tiba-tiba tidak ikut lagi dalam kelompok eksperimen, maka ini mungkin akan mempengaruhi hasil studi.  Jika, seandainya, beberapa orang yang memiliki skor  rendah dalam pretest mengundurkan diri dalam kelompok eksperimen, maka kelompok ini akan mempunyai mean prestasi lebih tinggi dalam test berikutnya.  Ini tidak disebabkan karena perlakuan eksperimen, melainkan karena anak-anak yang kurang pandai tidak ada lagi dalam kelompok tertentu.

8.  Selection maturation interaction.   Interaksi semacam ini dapat terjadi dalam disain kuasi -eksperimen  di mana kelompok-kelompok eksperimen dan kontrol tidak  dipilih secara random melainkan seperti adanya, misalnya kelas-kelas.  Meskipun pretes menunjukkan bahwa kelompok-kelompok tersebut sama, kelompok eksperimen mungkin secara kebetulan mempunyai laju maturatin lebih tinggi dari pada kelompok dan laju maturation yang  bertambah tinggi inilah mungkin menyebabkan efek tersebut.  Para siswa yang mempunyai laju maturation lebih cepat “dipilih” untuk kelompok eksperimen dan selection-maturation interaction inilah yang mungkin dikira sebagai efek dari variabel eksperimen.

Semua metode kontrol yang diuraikan di atas dilaksanakan untuk mengontrol variabel-variabel ekstra yang merupakan ancaman terhadap  kesahihan internal disain.

Kesahihan Eksternal

Kesahihan eksternal menunjuk kepada pertanyaan : Dapatkah penemuan-penemuan yang telah diperoleh digeneralisasikan ?  Peneliti bertanya : Kepopulasi, lingkungan, variabel-variabel eksperimen, dan variabel-variabel pengukuran yang mana penemuan-penemuan ini dapat digeneralisasikan ?  Setiap studi harus dilakukan dengan sekolompok  subyek, dengan instrumen-instrumen pengukuran yang dipilih dan dalam kondisi-kondisi yang dalambeberapa hal,unik.  Meskipun demikian peneliti menghendaki agar hasil penelitiannya dapat memberikan informasi mengenai sejumlah subyek, kondisi dan operasi yang lebih luas daripada yang diteliti sebenarnya.  Untuk membuat generalisasi dari yang diamati ke yang tidak diamati, peneliti memrlukan suaatu jaminan bahwa sampel dari peristiwa-peristiwa yang dipelajari memiliki populasi lebih besar kemana penemuan-penemuannya akan digeneralisasikan.  Selama hasil-hasil eksperimen dapat digeneralisasikan kesubyek-subyek, lingkungan-lingkungan, instrumen-instrumen pengukuran yang berbeda, maka esperimen tersebut mempunyai kesahihan eksternal.

Dari literatur pebnelitian kita mengenal dua macam kesahihan eksternal : kesahihan populasi dan kesahihan ekologis.  Kesahihan populasi menyangkut masalah identifikasi populasi ke mana hasil eksperimen dapat digeneralisasikan.  Ia mengajukan pertanyaan :  Populasi subyek-subyek yang mana dapat diharapkan sama dengan sample subyek-subyek yang digunakan dalam  eksperimen ?  Kesahihan ekologis menyangkut penggeneralisasian efek-efek eksperimen ke kondisi-kondisi lingkungan lain.  Ia mengajukan pertanyaan :  Dalam keadaan-keadaan (yaitu, keadaan lingkungan, perlakuan peneliti, variabel terikat, dan sebagainya) yang mana hasil yang sama dapat diharapkan?

Kesahihan populasi.  Peneliti berharap bahwa ia dapat  menggeneralisasikan penemuan-penemuan dari kelompok subyeknya ke populasi yang lebih besar, bahkan yang belum pernah dipelajarinya.  Misalnya seorang peneliti telah menemukan suatu metode mengajar  membaca yang efektif kepada suatu sampel yang terdiri dari siswa-siswa kelas satu.  Sudah barang tentu ia ingin membuat kesimpulan bahwa metodenya lebih baik untuk kelompok-kelompok lain kelas satu, barangkali untuk semua anak kelas satu.  Agar ia dapat membuat inferensi yang sahih dari hasil eksperimennya ke populasi yang lebih besar, ia harus mengidentifikasi dengan benar populasi ke mana penemuannya dapat digeneralisasikan.  Sehubungan dengan ini ada yang membedakan antara accessible population dengan target population.  Accessible population menunjuk kepada populasi subyek yang dapat dijangkau atau diperoleh peneliti untuk studinya.  Sedangkan target population adalah populasi subyek secara keseluruhan kepada siapa peneliti akan menerapkan kesimpulannya dari penemuan studinya.  Jadi dalam contoh di atas accessible populationnya adalah semua siswa kelas satu di wilayah tersebut.  Sedangkan target population-nya adalah seluruh siswa kelas satu di Indonesia.  Generalisasinya akan dilakukan dalam dua tahap :  (1) dari sample ke accessible population, and  (2) dari accessible population ke target population.

Jika peneliti telah memilih sampelnya secara random dari accessible population (semua siswa kelas satu disuatu wilayah), maka ia dapat menggeneralisasikan penemuan-penemuannya ke kelompok yang lebih besar tanpa kesulitan.  Perlu diperhatikan bahwa penggeneralisasikan semacam itu dapat dipertanggung-jawabkan hanya jika prinsip randomisasi telah diikuti dalam pemilihan sampel.  Prosedur ini menuntut bahwa peneliti harus menerima accessible population dan bahwa setiap anggota dari accessible population supaya didaftar dan diberi nomor sehingga sampel dapat diambil melalui penggunaan tabel bilangan random.

Kedua, peneliti ingin menggeneralisasikan dari accessible population ke target population (semua siswa kelas satu di Indonesia).  Penggeneralisasian semacam ini agak berbahaya dan tidak dapat dilaksanakan sebaik atau sesahih yang pertama.  Untuk membuat inferensi semacam ini diperlukan pengetahuan mendalam mengenai ciri-ciri dari kedua populasi tersebut.  Semakin serupa accessible population dengan target population-nya, semakin terandalkan generalisasinya.  Misalnya, bila peneliti telah mengambl sampel secara random semua siswa kelas satu di Indonesia (accessible population) dan tidak hanya dari satu wilayah saja, maka accessible population ini akan lebih menyerupai target population dan penggeneralisasian ke target population akan dapat dilakukan dengan lebih mantap.  Tentu saja, memperluas accessible population untuk mencakup seluruh negara akan merupakan persoalan dalam pengelolaan eksperimen.  Akan tetapi para peneliti pada umumnya menganjurkan agar kita memiliki pengetahuan yang dapat diandalkan mengenai populasi yang lebih terbatas dan kemudian memperluas pengetahuan ini ke target population daripada kita mendefinisikan accessible population secara begitu luas sehingga kita yakin untuk menggeneralisasikan dari sampel ke accessible population.  Apabila kita menggeneralisasikan dari accessible population ke target population, kita harus tahu bahwa yang satu serupa dengan yang lain dalam hal  ciri-ciri yang relevan.  Misalnya, hasil yang tidak sahih secara eksternal dapat diperoleh bila peneliti mengambil sampel dari satu kelompok umur (accessible population) dan kemudian mencoba untuk menggeneralisasikan penemuan-penemuan penelitiannya ke kelompok-kelompok umur yang lain (target population).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TUJUAN KHUSUS PELAJARAN

 

Sesudah menamatkan dan menguasai materi 4 ini maka anda

diharapkan dapat menerangkan tentang disain eksperimen. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4. DISAIN EKSPERIMEN UMUM I

Preexperimental  Designs

Dibawah ini akan dibicarakan dua disain yang diklasifikasikan sebagai preexperimental karena disain-disain ini mempunyai kontro terhadap variabel-variabel ekstra meskipun demikian nampaknya disain-disain tersebut masih sering digunakan dalam penelitian pendidikan.  Kita akan mulai dengan disain-disain yang paling rendah mutunya karena mereka akan dapat mencerminkan bagaimana variabel-variabel ekstra beroperasi sehingga membahayakan kesahihan internal disain.  Dengan demikian maka kita dapat berusaha untuk menghindari bahaya tersebut dan memilih disain yang lebih baik.

Design 1. One - Group Pretest - Posttest Design

One - group design biasanya mencakup tiga langkah  :

(1) memberikan pretest untuk mengukur variabel terikat ;

(2) memberikan perlakuan eksperimen X kepada para subyek ; dan

(3) memberikan posttest lagi untuk mengukur variabel terikat.

Perbedaan -perbedaan yang disebabkan karena penerapan perlakuan eksperimen kemudian ditentukan dengan membandingkan skor-skor pretest dan posttest.

Design 1 One-Group Pretest-Posttest Design

            Pretest                              Independent Variabel                    Posttest

               Y1                                                 X                                      Y2 

 


Untuk menerangkan penggunaan disain ini,  marilah kita berasumsi bahwa seorang guru Sekolah Dasar ingin mengevaluasi efektivitas teknik mengajar IPS kelas empat yang baru.  Pada permulaan tahun ajaran para siswa diberi test yang sudah dibakukan yang dianggap sebagai ukuran yang baik dari pencapaian tujuan instruksional IPS kelas empat.  Guru tersebut kemudian memperkenalkan teknik mengajar yang baru, dan pada akhir tahun ajaran ia memberikan test untuk kedua kalinya dan membandingkan skor-skor dari test yang pertama dengan yang kedua untuk menentukan perbedaan yang disebabkan karena metode mengajar yang baru tersebut.

Karena disain 1 mencakup hanya satu kelompok dan seorang guru, perbedaan-perbedaan intersubject dan  variabel-variabel situasional dapat dikontrol.  Tetapi kontrol tersebut hanya sepintas lalu saja (superficial).

Keterbatasan utama dari one-group design ini adalah bahwa, karena kelompok kontrol tidak digunakan, peneliti tidak dapat berasumsi bahwa perbedaan antara pretest dan posttest disebabkan karena perlakuan eksperimen.  Karena itu kemungkinan selalu ada bahwa variabel-variabel ekstralah yang menyebabkan  sebagian atau semua perubahan tersebut.  Jadi disain ini mempunyai kekurangan dalam kesahihan internal.

Apa kiranya variabel-variabel ekstra yang dapat beroperasi untuk menghasilkan perubahan yang tampak antara pretest dan posttest  ?  Dua variabel ekstra yang tidak terkontrol dalam disain ini ialah history dan maturation.  History sebagai sumber varian ekstra menunjuk kepada peristiwa-peristiwa khusus yang dapat terjadi antara pretest dan posttest, yang bukan perlakuan eksperimen.  Dalam contoh IPS di atas misalnya minat masyarakat dalam pemilihan, berita mengenai pengajaran IPS di sekolah-sekolah, berita mengenai peristiwa-peristiwa sosial dapat meningkatkan prestasi siswa dalam mata pelajaran IPS.  Suatu epidemi yang menyebabkan banyak siswa yang absen dapat menurunkan prestasi.  Naturation menunjuk kepada perubahan-perubahan yang terjadi pada para subyek sendiri sementara waktu berjalan.  Antara pretest dan posttest, anak-anak tumbuh baik secara mental maupun fisik dan mereka mempunyai pengalaman belajar yang dapat mempengaruhi variabel terikat.  History dan maturation  menjadi sumber-sumber varian ekstra yang semakin berpengaruh apabila jarak waktu antara Y1  dan  Y2  panjang.

Kekurangan lain daripada Disain 1 adalah bahwa ia tidak memungkinkan kita untuk mengetahui pengaruh dari pretest  Y, sendiri.  Kita tahu bahwa ada practice effect jika para subyek mengambil test untuk kedua kalinya atau sekalipun test yang kedua tersebut berupa test alternatif.  Dengan perkataan lain, para siswa akan memperoleh skor yang lebih tinggi dalam test yang kedua sekalipun tanpa diajar atau dibicarakan di kelas selama internal waktu antara Y1  dan Y2 .  Ini terjadi tidak hanya dalam test prestasi dan test inteligensi melainkan juga dalam test kepribadian.  Dalam test kepribadian subyek akan cenderung mempunyai penyesuaian lebih baik dalam test yang kedua.

Test-rotest gain ini adalah satu aspek dari masalah yang lebih besar dari “reactivity” instrument  pengukur.

Reaktivity  menunjuk  kepada fakta bahwa seringkali terdapat reaksi antara subyek dan pretest dan reaksi inilah (dan bukan manipulasi  X) yang menyebabkan perubahan dalam pengukuran  Y2 .  Pengukuran yang menyebabkan subyek untuk bereaksi disebut pengukuran reaktif.  Misalnya,  dalam studi perubahan sikap, skala-skala yang digunakan berfungsi sebagai suatu stimulus; yaitu, subyek mungkin mengadakan reaksi terhadap isi dari skala dan reaksi inilah yang menyebabkan perubahan dalam sikap sekalipun tanpa perlakuan eksperimen.  Efek ini sangat jelas jika pretest mempunyai efek yang menimbulkan kontroversial atau bila isi tersebut mempunyai efek yang menimbulkan motivasi pada para subyek.

Disain 1 tidak mempunyai  kekuatan kontrol hingga menimbulkan banyak kesulitan bagi peneliti.  Karena itu tidak dapat direkomendasikan untuk digunakan.  Tanpa kelompok kontrol untuk memungkinkan perbandingan, hasil yang diperoleh dalam one-group design pada dasarnya sukar untuk diinterpretasikan.

Design 2.  Two Group Static Design

Disain 2 menggunakan dua kelompok, hanya satu dikenai perlakuan eksperimen.  Dua kelompok ini dianggap sama dalam semua aspek yang relevan dan berbeda hanya dalam dikenakannya perlakuan.  Ukuran-ukuran variabel terikat untuk kedua kelompok tersebut dibandingkan untuk  menentukan efek dari perlakuan  X.

Disain ini banyak digunakan dalam penelitian pendidikan.  Prestasi siswa yang diajar  dengan metode baru dibandingkan dengan prestasi siswa dalam kelas serupa yang diajar dengan metode tradisional.  Disain 2 mempunyai kelompok kontrol yang memungkinkan perbandingan yang diperlukan untuk studi ilmiah.  Jika kelompok eksperimen lebih baik pada ukuran Y2 , peneliti kemudian mempunyai keyakinan lebih besar dalam kesimpulannya bahwa perbedaannya disebabkan karena perlakuan eksperimen.  Tetapi, terdapat kesalahan mendasar dalam disain ini.  Karena baik randomisasi maupun matching tidak digunakan untuk menempatkan para subyek ke dalam  kelompok-kelompok eksperimen dan kontrol, kita tidak dapat berasumsi bahwa kelompok-kelompok tersebut sama sebelum perlakuan eksperimen diberikan.  Mereka mungkin berbeda dalam variabel-variabel yang relevan dan mungkin perbedaan inilah yang menyebabkan perubahan, bukan perlakuan eksperimennya.  Karena kita tidak dapat yakin bahwa kedua kelompok tersebut sama dalam semua faktor yang mungkin mempengaruhi variabel terikat, disain ini dianggap tidak memiliki kontrol dan harus diklasifikasikan sebagai preexperimental.

Design 2 Two Group, Static Design

            Group                               Independent Variable                    Posttest

                E                                                   X                                     Y2

                C                                                   -                                      Y2

 


True Experimental Designs

Disain - disain dalam kategori ini merupakan disain-disain  yang sangat direkomendasikan untuk eksperimentasi dalam pendidikan karena kontrol yang dimilikinya.

Design 3.  Two Group, Randomized Subjects, Posttest-Only Design.

Disain 3 adalah salah satu yang paling sederhana tapi paling kuat dari semua disain eksperimen.  Ia menuntut dua kelompok subyek yang ditempatkan secara random,  masing-masing ditempatkan dalam kondisi yang berbeda.  Pretest tidak digunakan; kontrol-kontrol randomisasi untuk semua variabel ekstra dan menjamin bahwa setiap perbedaan awal antara kelompok-kelompok tersebut disebabkan hanya karena kebetulan dan karena itu akan mengikuti hukum peluang.

Setelah para subyek ditempatkan pada kelompok-kelompok, hanya kelompok eksperimen dikenai perlakuan eksperimen.  Dalam hal-hal lain kedua kelompok tersebut diperlakukan sama.  Para anggota dari kedua kelompok tersebut kemudian diukur dalam hal variabel terikatnya Y2 .  Skor-skor dibandingkan untuk menentukan efek dari X.  Jika means yang diperoleh dari kedua kelompok tersebut berbeda secara signifikan, (yaitu, bahwa perbedaannya lebih besar kemungkinannya tidak disebabkan karena kebetulan), peneliti akan merasa yakin bahwa kondisi-kondisi eksperimental-lah yang menyebabkan perbedaan tersebut.

Keuntungan utama dari Desain 3 adalah randomisasi, yang menjamin kesamaan statistik dari kelompok-kelompok tersebut sebelum perlakuan variabel bebas diberikan.  Perlu diingat bahwa semakin banyak subyeknya semakin besar kemungkinannya bahwa randomisasi akan menghasilkan kelompok-kelompok yang sama.  Disain 3 mengontrol efek-efek utama history, maturation, dan protesting; karena pretest  tidakdigunakan, efek interaksi antara pretest  dan X tidak ada.  Disain ini terutama direkomendasikan untuk situasi-situasi di mana “pretest reactivity” mungkin terjadi.  Disain ini juga bermanfaat dalam studi-studi di mana pretest tidak dapat diperoleh atau tidak baik -- seperti, misalnya, dalam studi mengenai anak-anak prasekolah atau kelas satu, di mana tidak mungkin diadakan pretest karena belajar belum dapat dilakukan secara normal oleh anak-anak tersebut.  Keuntungan lain dari disain ini ialah bahwa ia dapat diperluas sehingga mencakup lebih dari dua kelompok bila perlu.

Design 3 Two Group, Randomized Subjects, Posttest-Only Design

                            Group

            Independent Variable        Posttest

            (R)               E                                  X                                       Y2

            (R)              C                                   -                                       Y2

 


Disain 3 tidak memberi kemungkinan bagi peneliti untuk menilai perubahan.  Jika penilaian semacam itu diinginkan, maka suatu disain, seperti Design 5, yang menggunakan baik pre-maupun posttest harus digunakan.

Design 4.  Two Group, Randomized Matched Subjects, Posttest-Only Design

Disain ini serupa dengan Disain 3 kecuali bahwa disain ini menggunakan teknik matching (dan bukan penempatan random) untuk memperoleh kelompok-kelompok yang sama.  Para subyek di-match pada satu variabel atau lebih yang dapat diukur dengan mudah, seperti IQ atau skor membaca.  Tentu saja, variabel-variabel matching yang digunakan adalah yang diperkirakan mempunyai korelasi signifikan dengan variabel terikat.  Sekalipun pretest tidak termasuk dalam disain 4 ini, jika pretest scores pada variabel terikat dapat diperoleh, skor-skor tersebut dapat digunakan dengan sangat efektif untuk prosedur matching.  Ukuran-ukuran tersebut dipasangkan pada skor-skor para anggota kedua kelompok; sedangkan anggota dari setiap pasang ditempatkan secara random pada satu perlakuan dan yang satunya pada perlakuan yang lain.  Orang sering menggunakan uang logam yang dilemparkan untuk menentukan siapa yang masuk ke kelompok yang mana.

Design 4.  Two Group, Randomized Matched Subjects, Posttest-Only Design

                            Group                   Independent Variabel               Posttest

                               E                                         X                                Y2

            (Mr)            C                                         -                                Y2

           

Matching sangat bermanfaat dalam studi-studi di mana sampel-sampel kecil harus digunakan dan di mana Disain 3 tidak tepat.  Disain 3 sama sekali tergantung kepada penempatan random untuk memperoleh kelompok-kelompok  yang sama.  Dengan sampel-sampel kecil pengaruh kebetulan saja sudah akan mengakibatkan situasi di mana kelompok-kelompok random berbeda sejak semula.  Disain 3 tidak memberi jaminan bahwa kelompok-kelompok kecil benar-benar sebanding sebelum perlakuan diberikan.  Tetapi matched-subjects design berfungsi untuk mengurangi pengaruh perbedaan awal antara kedua kelompok tersebut.  Dengan perkataan lain, disain ini mengontrol perbedaan-perbedaan intersubjects yang sejak dari awal penelitian ada.  Penempatan random dari matched pairs pada kelompok-kelompok menambah kekuatan disain ini.

Disain 4 tidak luput dari kesulitan-kesulitan dalam prosedur matching seperti yang telah diterapkan terdahulu.  Matching dari semua subyek yang potensial harus lengkap, dan penempatan para anggota setiap pasangan ke kelompok-kelompok harus ditentukan secara random.  Jika satu orang atau lebih harus dikeluarkan karena tidak ada pasangannya, ini akan menyebabkan sampel menjadi biasa.  Jika kita menggunakan Disain 4, setiap subyek harus dicarikan pasangannya, sekalipun bukan pasangan yang sempurna, sebelum penempatan random dilakukan.  Kelompok eksperimen dan kontrol melalui metode random dan diberi pretest pada variabel terikat Y.  Perlakuan diberikan hanya kepada subyek-subyek eksperimental untuk waktu tertentu,  setelah mana kedua kelompok diukur pada variabel terikat.  Perbedaan rata-rata antara pretest dan posttest  (Y2 - Y1 ) diperoleh untuk setiap kelompok dan kemudian skor-skor perbedaan rata-rata ini dibandingkan untuk menentukan apakah perlakuan eksperimen menghasilkan perubahan lebih besar daripada situasi kontrol.  Signifikansi perbedaan dalam perubahan-perubahan rata-rata (diperoleh bila perubahan rata-rata untuk kelompok kontrol dikurangkan dari perubahan rata-rata untuk kelompok eksperimen) ditentukan dengan test statistik yang tepat, seperti t-test atau F-test.  Prosedur statistik lain yang tepat adalah analisis kovarian dengan posttest scores sebagai variabel terikatnya dan pretest sebagai kovariatnya.

Design 5 Randomized Groups, Pretest-Posttest Design

                            Group              Pretest                Independent       Posttest

                                                                                Variable

            (R)              E                      Y1                           X                     Y2

            (R)              C                     Y1                           -                       Y2

 


Fakta bahwa kelompok kontrol tidak menerima perlakuan eksperimen tidak berarti bahwa subyek-subyek kontrol tidak mempunyai pengalaman sama sekali.  Dalam penelitian mengenai metode-metode pengajaran kelompok kontrol biasanya diajar dengan prosedur tradisional.  Dalam beberapa eksperimen mengenai belajar sudah menjadi kebiasaan untuk memberikan kepada kelompok kontrol suatu kegiatan yang tidak relevan antara pretest dan posttest sedang kelompol eksperimen menerima latihan khusus untuk tugas  tersebut.  Dalam eksperimen mengenai efek suatu obat perangsang, peneliti menggunakan placebo (seperti aspirin atau pil gula) untuk kelompok kontrol tanpa memberitahu mereka diperlakukan secara berbeda dari kelompok eksperimen.

Ukuran-ukuran before-and-after dalam Design 5 memberi peluang bagi peneliti untuk mempelajari perubahan dan sering dinamakan disain klasik untuk eksperimen-eksperimen perubahan.  Kekuatan utama dari disain ini adalah randomisasi awal, yang menjamin kesamaan statistik antara kedua kelompok tersebut sebelum eksperimentasi; juga fakta bahwa peneliti mempunyai kontrol terhadap pretest dapat memberikan check tambahan pada kesamaan dari kedua kelompok tersebut mengenai variabel terikat Y.  Design 5, dengan randomisasinya, mengontrol kebanyakan dari variabel-variabel ekstra yang merupakan ancaman bagi kesahihan internal.  Misalnya, efek-efek history, maturation, dan pretesting dialami oleh kedua kelompok; karena itu setiap perbedaan antara kelompok-kelompok tersebut pada ukuran Y mungkin tidak disebabkan karena faktor-faktor ini.  Differential selection of subjects dan statistical regression juga dikontrol melalui prosedur randomisasi.  Penggunaan Design 5 disebabkan karena pertimbangan kesahihan eksternal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TUJUAN KHUSUS PELAJARAN

 

Sesudah menamatkan dan menguasai materi 5 ini maka anda

diharapkan dapat menguraikan suatu disain eksperimen.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5. DISAIN EKSPERIMEN UMUM II

 

Design 6.  The Solomon Three-Group Design

Disain Solomon yang pertama menggunakan tiga kelompok dengan penempatan random para subyek ke dalam kelompok-kelompok.

Kita dapat melihat bahwa dua baris pertama dari disain ini sama dengan disain 5.  Tetapi, Solomon design ini mempunyai keuntungan bahwa ia menggunakan kelompok kontrol kedua dan karena itu ia dapat mengatasi masalah yang terdapat dalam Design 5 -- yaitu, interactive  effect dari pretesting dan manipulasi eksperimen.  Kelompok kontrol kedua ini tidak diberi pretest tapi diberi perlakuan X.  Ukuran-ukuran Y2  kemudian digunakan untuk menilai interaction effect.

Ini diperoleh melalui perbandingan skor-skor Y2  untuk tiga kelompok.  Sekalipun kelompok eksperimen mempunyai mean yang lebih tinggi pada Y2  dari pada kelompok kontrol yang pertama, kita tidak dapat yakin bahwa perbedaan ini disebabkan karena X.  Ini dapat terjadi karena sensitisasi subyek-subyek yang meningkat setelah pretest  dan interaksi dari sensitisasi mereka dengan X.  Tetapi, jika mean Y dari kelompok kontrol yang pertama, maka kita dapat berasumsi bahwa perlakuan eksperimen telah menyebabkan perbedaan dan bukan interaction effect pretest dan X, karena kelompok kontrol kedua tidak diberi pretest.  Kelompok ini, meskipun menerima perlakuan X, berfungsi sebagai kontrol dan karena itu diberi nama C2 .

 

 

 

 

Design 6 Solomon Three-Group Design

 


                            Group                   Pretest           Independent       Posttest

                                                                                  Variable        

            (R)               E                         Y1                          X                 Y2

            (R)               C1                       Y1                            -                  Y2

            (R)               C2                        -                            X                 Y2

 

Design 7. The Solomon Four-Group Design

Disain 7 mempunyai kontrol yang lebih ketat dengan memperluas Disain 6 untuk mencakup kelompok kontrol satu lagi.  Kelompok ketiga,  meskipun menerima perlakuan X, berfungsi sebagai kelompok kontrol.

Disain 7 mempunyai kekuatan karena ia memasukkan kedalamnya keuntungan-keuntungan dari disain-disain lain dengan kontribusinya masing-masing.  Dua baris yang pertama (Design 5) mengontrol faktor-faktor ekstra seperti history dan maturation, dan tiga baris yang pertama (Design 6) mempunyai kontrol  terhadap interaction effect pretest dan X.  Bila baris keempat ditambahkan untuk memperoleh Design 7, kita mempunyai kontrol terhadap efek-efek kontemporer yang mungkin terjadi antara Y1 dan Y2 .  Dua baris terakhir merupakan Design 3, jadi sebenarnya kita mempunyai kombinasi dari pretest-posttest exprimental-control design dengan simple randomized-subjects design.

 

 

 

 

 

Design 7 Solomon Four-Group Design

                            Group              Pretest                Independent       Posttest

                                                                                Variable          

            (R)              E                       Y1                          X                     Y2

            (R)              C1                     Y2                          -                       Y2

            (R)              C2                      -                            X                     Y2

            (R)              C3                      -                            -                       Y2

 

Selain kekuatan-kekuatan setiap disain masing-masing, kita juga mempunyai ciri replikasi yang diberikan oleh dua eksperimen.   Kombinasi ini mengambil keuntungan dari informasi yang diberikan oleh prosedur pretest-posstest dan pada waktu yang sama menunjukkan bagaimana kondisi eksperimen mempengaruhi kelompok subyek yang tidak diberi pretest.

Dalam disain 7 kita dapat membuat beberapa perbandingan untuk menentukan efek daripada perlakuan eksprimental X.  Jadi mean posttest dari kelompok E lebih besar secara signifikan daripada mean dari kelompok kontrol pertama,  C1  , dan jika mean posttest C2  secara signifikan lebih besar daripada C3 , kita mempunyai data mengenai efektivitas perlakuan eksperimen.  Pengaruh kondisi-kondisi eksperimen pada kelompok yang diberi pretest dapat ditentukan dengan membandingkan posttest dari E dan C1  atau perubahan-perubahan pre-post dari E dan C1 ; efek dari eksperimen pada kelompok yang tidak diberi pretest diperoleh dengan membandingkan C2  dan C3 .  Jika perbedaan-perbedaan rata-rata sama, maka eksperimen tentu mempunyai efek yang sebanding pada kelompok yang diberi pretest dan kelompok yang tidak diberi pretest.

Design 7 sebenarnya mencakup pelaksanaan eksperimen dua kali, sekali dengan pretest dan sekali tanpa pretest.  Jika hasil dua kali eksperimen ini sesuai dengan yang diterangkan di atas, maka peneliti mempunyai keyakinan yang lebih besar mengenai penemuan-penemuannya.

Kelemahan utama dari disain ini adalah kesulitan yang terkandung dalam pelaksanaan dalam situasi praktis.  Lebih banyak waktu dan tenaga diperlukan untuk melaksanakan dua eksperimen pada waktu yang sama dan terdapat masalah untuk menemukan jumlah subyek yang bertambah yang akan diperlukan.

Kesulitan lain adalah berhubungan dengan analisis statistik, karena tidak adanya ukuran-ukuran yang lengkap untuk empat kelompok tersebut.  Seperti diterangkan di atas, kita dapat membuat perbandingan-perbandingan antara E dan C1  dan antara C2  dan C3 ,  tapi tidak ada prosedur statistik satupun yang akan menggunakan enam ukuran yang ada pada waktu yang sama.  Campbell dan Stanley (lihat materi bacaan) mengusulkan agar kita menggunakan posttest scores saja dalam analisis of variance design.  Pretest dianggap variabel bebas kedua, bersama X.  Disain ini adalah sebagai berikut :

                           

                                                    No. X                                          X

            Pretested                          Y2 , control 1                                Y2, experimental

            Umpretested                     Y2 , control 3                                Y2, control 2

 

Dari kolom mean kita dapat menentukan main effect dari X, dari mean baris main effect pretesting;  dan dari mean sel, interaksi dari testing dengan X.  Design 7 tidak banyak digunakan oleh para mahasiswa Perguruan Tinggi, karena disain ini biasanya dipakai untuk penelitian yang lebih canggih dan untuk pengujian hipotesis yang bertaraf tinggi.

 

Factorial Designs

  Disain-disain yang telah kita bicarakan di atas adalah disain-disain variabel-tunggal klasikal, di mana penelitian memanipulasi satu variabel bebas untuk menghasilkan efek pada variabel terikat.  Penelitian pendidikan pada masa lampau dikritik karena terlalu percaya pada disain variabel tunggal.  Para kritikus tersebut telah menunjukkan bahwa untuk peristiwa sosial yang kompleks biasanya ada beberapa variabel yang berinteraksi pada waktu yang sama, dan bila kita berusaha membatasi penelitian kita pada satu variabel saja kita memaksakan masalah yang kompleks menjadi masalah sederhana yang dibuat-buat atau tidak normal Variabel X saja mungkin menghasilkan efek yang sama kalau dalam interaksi dengan X lain.  Jadi penemuan-penemuan dari disain variabel tunggal mungkin tidak berarti.  Misalnya, efektivitas dari mutu metode mengajar tertentu mungkin sekali tergantung pada sejumlah variabel, seperti taraf inteligensi para siswa, kepribadian guru, suasana kelas, dan sebagainya.  Pengajaran terprogram, umpamanya, mungkin lebih efektif untuk para siswa yang lambat dari pada untuk mereka yang pandai.  Disain variabel tunggal klasikal tidak akan mengungkapkan efek interaktif dari metode dan taraf inteligensi.  Hasil informasi dari eksperimen dapat  ditingkatkan dengan menambahkan efek-efek yang bersamaan dari dua variabel bebas atau lebih dalam factorial design.  Sebenarnya, kemajuan pesat dalam penelitian pendidikan tercapai dengan digunakannya factorial design yang dikembangkan oleh Fisker.

Factorial design adalah disain di mana dua variabel atau lebih dimanipulasi pada waktu yang sama untuk mempelajari efek masing-masing variabel secara terpisah pada variabel terikat maupun efek-efek yang disebabkan karena interaksi-interaksi beberapa variabel.  Factorial design ada dua macam.  Dalam macam pertama, salah satu  dari variabel bebasnya dimanipulasi.  Dalam hal ini peneliti terutama menaruh perhatian pada efek dari variabel bebas tunggal tapi harus mempertimbangkan variabel-variabel lain yang mungkin mempengaruhi variabel terikat.  Pada umumnya, variabel-variabel lain ini berupa variabel-variabel atributif, seperti seks, inteligensi, suku, status sosioekonomi, prestasi, dan sebagainya.  Pengaruhnya dapat diteliti (dan pada waktu yang sama dikontrol) dengan cara memasukkan variabel atributif tersebut ke dalam factorial design.  Peneliti menilai efek dari variabel bebas utama pada setiap taraf dari satu variabel bebas atributif atau lebih.  Taraf-taraf variabel atributif biasanya mencerminkan kelompok-kelompok subyek alamiah, seperti siswa yang pandai dan siswa yang bodoh, untuk menentukan efektivitas teknik intstruksional.  Kemasukan variabel-variabel atributif ke dalam factorial design tidak hanya meningkatkan ketepatan eksperimen melainkan juga memperkuat wilayah generalisasinya.  Karena kita dapat menentukan apakah perlakuan mempunyai efek-efek yang sebanding pada semua taraf, generalisasi penemuan-penemuan eksperimen bertambah.

Dalam macam factorial  design yang kedua, semua dari variabel-variabel bebasnya mungkin dimanipulasi.  Disini peneliti menaruh perhatian pada beberapa variabel bebas dan ingin menilai baik efek-efeknya secara terpisah maupun secara bersama.  Kedua variabel bebas dimanipulasi.  Misalnya, suatu eksperimen mungkin membandingkan efek-efek besarnya kelas maupun penggunaan pengajaran berprogram pada belajar konsep-konsep ilmu.  Dalam studi ini kedua variabel tersebut akan dimanipulasi; dalam studi ini akan terdapat dua perlakuan dari variabel metode pengajaran, yaitu, berprogram versus tradisional, dan dua perlakuan dari variabel kedua, besarnya kelas, yaitu, besar versus kecil.  Disain semacam itu memungkinkan diadakannya analisis dari efek-efek utama untuk kedua variabel eksperimen maupun analisis interaksi antara perlakuan-perlakuan. 

Design 8 :  Simple Factorial Design.

Factorial designs dikembangkan dalam beberapa taraf kesulitan.  Factorial dssign yang paling sederhana adalah 2 kali 2 (2 x2).  Dalam disain ini masing-masing dari dua variabel bebas mempunyai dua nilai.

Dalam disain 8 variabel bebas, yang dimanipulasi, dinamakan variabel eksperimen; variabel bebas kedua, yang dibagi menjadi dua taraf, dinamakan variabel kontrol.  Efek pada variabel terikat dari variabel eksperimen dinilai pada setiap tarap dari variabel kedua atau kontrol.   Jadi, dalam design 8 beberapa individu taraf 1 (Level 1) menerima perlakuan (treatment A).  Cell 1 dan yang lain, Treatment 3 (Cell3).  Beberapa individu level  2 menerima Treatment  (perlakuan) A (Cell 2) dan yang lain, Treatment B (Cell 4).

Untuk memperoleh gambaran, kita akan berasumsi bahwa seseorang peneliti berminat untuk membandingkan efektivitas dari dua macam buku berprogram, yaitu Metode A dan metode B --- pada prestasi para siswa kelas sembilan dalam mata pelajaran scince.

Design 8 Simple Factorial Design

            Control Variable                                Experimental Variable

                                                                                (X1)

                     (X2)                              Treatment A         Treatment B

                  Level 1                                            Cell 1                    Cell 3

                  Level 2                                            Cell 2                    Cell 4

Ia percaya bahwa mungkin akan terdapat efek yang berbeda dari kedua metode tersebut berdasarkan taraf intelligensi para siswa.  Ia membuat stratifikasi populasinya menjadi skor-skor IQ tinggi dan rendah dam memilih 60 subyek secara random dari kelompok IQ tinggi dan mendapatkan 30 orang pada  metode A dan 30 orang lainnya pada metode B.  Ia mengulangi proses ini dari kelompok IQ rendah.  Ia juga menempatkan guru-guru pada kelompok secara random.

Dalam contoh eksperimen hipotetik ini kita mempunyai dua perlakuan eksperimen dan dua taraf intelligensi.    Di bawah ini akan kita lihat faktorial desig n  2 x 2 untuk mengukur dari efk-efek dari metode pengajaran pada belajar siswa.   Perhatian bahwa design 2 x 2 memrlukan empat kelompok siswa; paraa siswadalam setiap taraf intelligensi ditempatkan pada dua perlakuan secara random.

 

Contoh Factorial Design

                                                    Irogrammed Instruction  (X1)

     (X2) IQ                                    Method A        Method B             Mean

            High                                   75,0                    73,0                  74

            Low                                   60,0                    64,0                  62

                                                      67,5                    68,5

Skor-skor dalam empat sel adalah skor-skor mean dari empat kelompok pada variabel terikat, prestasi dalam tes science.  Selain skor-skor empat sel yang merupakan berbagai kombinasi dari perlakuan-perlakuan pada taraf-taraf, kita melihat bahwa ada empat marginal mean scores :  dua untuk kolom dan dua untuk baris.  Marginal kolom means adalah untuk kedua taraf intelligensi.

Dari data tersebut kita dapat menetukan terlebih dahulu main effects untuk kedua variabel bebeas.  Means scores perlakuan tanpa mempertimbangkan taraf IQ menunjukkan main efect untuk perlakuan-perlakuan. Jika kita membandingkan mean skore dari kedua  kelompok Metode A, 67,5, dengan means skore dari kedua kelompok Metode B, 68,5, maka kita lihat bahwa perbedaan antara mean-mean tersebut hanya satu point.  Karena itu kita tidak dapat menyimpulkan bahwa satu metode lebih efektif dari pada metode yang lain : metode yang digunakan mempunyai efek kecil terhadap variabel terikat

Sekarang, marilah kita pelajari mean scores untuk taraf-taraf untuk menentukan main efec dari X2 , taraf intelligensi , pada skor-skor prestasi.  Main efect untuk taraf-taraf tidak mempetimbangkan efect yang berbeda karena perlakuan-perlakuan.  Mean score untuk kelompok IQ tertinggi adalah 74, dan mean score untuk kedua IQ rendah adalah 62; karena perbedaan iniadalah 12 points, kita akan berasumsi bahwa ada efek yang disebabkan karena taraf intelligensi.  Kelompok IQ tinggi mempunyai mean score yang jelas lebih tinggi; jadi, tidak perduli perlakuannya , kelompok IQ tinggi menunjukkan prestasi yang lebih baik dari kelompok-kelompok IQ  rendah.

Selain itu factorial desiign menunjukkan peneliti untuk mengevaluasi interaksi antara kedua variabael bebas yaitu, efek-efek yang berbeda dari salah satu dari mereka pada taraf-taraf  yang berbeda dari yang lain .  Jika terdapat interaksi , efek perlakuan pada belajae pada kedua taraf IQ yang berbeda.  Jika tidak ada interaksi  efek dari perlakuan akan sama untuk taraf intelligensi.  Dari mean scores diatas kita dapat melihat bahwa metode A lebih efkrif dari metode B untuk kelompok iQ tertinggi, dan metode B lebih efktif untuk kelompok IQ terendah.  Jadi kombinasi tertentu dari dan taraf IQ berinteraksi menghasilkan “ gain “ yang lebih besar dari kombinasi yang lain. Inrection effect antara metode dan taraf-taraf intelligensi dapat dilihat dari grafik dibawah ini.  Gambar ini dengan jelas menunjukkan bahwa efektivitas metode tergantung pada taraf IQ.  Satu metode lebih efektif  pada satu taraf intelligensi, dam sebaliknya terjadi untuk taraf yang lain.

Text Box: MEAN ACHIEVEMENT
SCORES
                                                    80                                                      A              

                                                    75                                                              B

                                                    70

                                                    65

                                                    60           B

                                                                A   

                                                                  LOW                                     HIGH

                                               Interaction Between Matched And IQ Level

Marilah kita pelajari sejumlah data lain yang diperoleh dalam studi hipotetik factorial 2 x 2.

Contoh Factorial Design

                                                                              Treatment (X1)

            (X2) IQ                                             Method A       Method B         Mean

            High                                                      50                   58                    54

            Low                                                      40                   48                    44

            Mean                                                    45                   53

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TUJUAN KHUSUS PELAJARAN    

 

Sesudah menamatkan dan menguasai materi 6 ini maka anda

diharapkan dapat menjelaskan suaru disain eksperimen.

 

                                                                                                                                       [ KEMBALI KE INDEX ]