Make your own free website on Tripod.com
LAPORAN HASIL PENELITIAN

 

 

PENGARUH PENYETARAAN GURU SD TERHADAP

MUTU PENDIDIKAN SD

DI PROPINSI KALIMANTAN SELATAN

 

  

 

Oleh

 

TIM JARINGAN PENELITIAN

PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KALSEL

 

 

 

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DAERAH

PROPINSI KALIMANTAN SELATAN

BANJARMASIN

2003

 

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

 

A. Latar  Belakang

 

Isue nasional masalah pendidikan di Indonesia semenjak dua dasawarsa yang lewat masih bertumpu pada aspek ketimpangan layanan pendidikan atau pemerataan, rendahnya mutu keluaran, tidak adanya kesepadanan lulusan dengan dunia kerja atau relevansi dan inefisiensi pengelolaan lembaga pendidikan.

Bergulirnya Undang-undang tentang otonomi daerah membawa konsekuensi dan implikasi perlunya kesiapan pemerintah daerah kabupaten/kota untuk terus mengidentifikasi semua aspek permasalahan bidang pendidikan tersebut guna memecahkan masalah-masalah yang inherent dengan masalah-masalah baik pada lingkup daerah maupun nasional. Bisa jadi masalah pemerataan, mutu, relevansi, efisiensi dan efektivitas sama-sama dialami oleh seluruh kabupaten/kota maupun nasional, tetapi bisa jadi tiap-tiap daerah punya masalah yang berbeda-beda menurut urgensinya. Masalah tiap daerah yang berbeda-beda itu sangat tergantung pada visi dan misi pengembangan daerah masing-masing dan tergantung pula pada aspek potensi dan peluang yang dimiliki.

Sejalan dengan masalah mutu keluaran pendidikan, faktor-faktor yang menjadi penentu dapat diruntut ke belakang dengan cara mengidentifikasi proses dalam sistem pendidikan. Mutu keluaran merupakan kulminasi dari hasil proses belajar mengajar; sedang proses belajar mengajar merupakan resultan dari hasil akomodasi unsur-unsur dari proses pendidikan yakni faktor input baik manusianya, alat, lingkungan, kurikulum maupun aspek pengelolaan. Guru merupakan bagian dari unsur input merupakan penentu utama dalam proses pendidikan karena keterlibatannya sebagai pengelola proses belajar mengajar. Teori behavioristik telah menegaskan bahwa tingkah laku guru dalam kelas maupun di luar kelas merupakan contoh bagi para siswa, sehingga upaya modifikasi tingkah laku siswa sangat ditentukan oleh bagaimana peran guru dalam membawakan perilakunya dalam proses pendidikan dan proses pembelajaran di kelas. Implikasi dari performance guru dan ketrampilan guru serta kompetensi guru dalam kelas akan tampak pengaruhnya pada hasil keluaran. Oleh sebab itu salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan antara lain bersumber dari faktor guru. Komposisi guru menurut latar pendidikan, pengalaman, usia, masa kerja, kepangkatan, beban kerja dan latar sosial dan lainnya merupakan penyebab mampu tidaknya guru dalam mengelola proses pendidikan dan pengajaran.

Komposisi guru di Kalimantan Selatan tiap jenis dan satuan pendidikan maupun jenjang pendidikan  masih mengalami ketimpangan baik dari segi kemerataan dan kualifikasi yang dibutuhkan. Ketimpangan dari segi kemerataan dan kualifikasi pada satuan pendidikan SD menurut data per 31 Agustus 2001 dapat dilihat pada tabel berkut.

Tabel 1

Data Jumlah Guru SD Propinsi Kalimantan Selatan

Menurut Kualifikasi Ijazah Tertinggi Per 31 Agustus 2001.

 

No.

Kabupaten/kota

Ijazah Tertinggi

Jumlah

<=SLTA

D1

D2

D3

S1

S2

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Banjarmasin

Banjar

Tanah Laut

Barito Kuala

Tapin

HSS

HST

HSU

Tabalong

Kotabaru

1.687

1.897

783

1.112

956

1.439

1.569

1.393

932

1.767

 

92

42

11

12

9

24

94

34

24

5

 

852

1.203

624

520

514

745

701

1.036

615

636

 

90

39

6

18

2

11

9

4

6

8

 

271

80

12

59

2

4

11

10

6

23

 

4

-

-

-

-

-

-

-

-

-

 

2.996

3.261

1.470

1.734

1.484

2.223

2.459

2.500

1.592

2.530

 

Jumlah

13.781

347

7.446

193

478

4

22.249

 

Ketimpangan jumlah guru yang memenuhi kualifikasi masih sangat tajam,  ada 14.128 orang guru SD yang pendidikannya masih D1 kebawah. Sesuai dengan kebijakan pemerintah, dewasa ini guru SD yang memenuhi kualifikasi harus menyandang ijazah minimal D2. Dari jumlah guru SD yang ada yakni ternyata baru kurang lebih 47% saja yang sudah memenuhi kualifikasi. Secara kasar dapat dikatakan bahwa input proses pendidikan pada satuan pendidikan SD di Kalimantan Selatan masih terjadi ketimpangan pemerataan maupun kualifikasi yang implikasinya akan membawa dampak rendahnya mutu pendidikan. Wajar saja jika selama hampir dua dasawarsa prestasi NEM siswa masih selalu di bawah rata-rata nasional. Bahkan dari waktu kewaktu ada kecenderungan perolehan NEM sekolah-sekolah di Propinsi Kalimantan Selatan tidak berubah urutan rankingnya dibanding wilayah lain di Indonesia. Untuk mencermati dengan lebih teliti faktor penyebabnya perlu dilakukan telaahan yang lebih mendalam dari semua aspek penentu proses pendidikan pada semua jalur, jenjang dan satuan pendidikan. Salah satu yang urgensinya mendesak untuk segera ditelaah adalah pengaruh faktor guru terhadap mutu keluaran pendidikan.

Upaya-upaya intervensi kepada masalah kualifikasi guru adalah dengan cara tindakan preservice training dan inservice training. Pengadaan guru SD yang selama ini direkrut telah menjangkau kualifikasi jenjang D1 atau D2. Demikian juga bagi guru-guru SD yang telah mengabdikan diri dan belum memenuhi kualifikasi jenjang ijazahnya telah dibuka program-program penyetaraan melalui peningkatan kualifikasi dari D1 ke D2, D2 ke D3 dan seterusnya. Khusus untuk memenuhi kualifikasi pada satuan pendidikan SD adalah penyetaraan guru dari D1 ke D2. Kegiatan ini telah berlangsung secara nasional, termasuk di Kalimantan Selatan yang diselenggarakan oleh LPTK FKIP Unlam di     bawah koordinasi Program Penyetaraan Guru yang namanya PGSD.

Selama ini program PGSD pada LPTK FKIP Unlam telah meluluskan sejumlah alumni dan telah kembali bertugas di sekolah-sekolah. Selain itu Universitas Terbuka sebagai UPBJ di Banjarmasin juga telah meluluskan alumni setingkat D2. Pada tahun akademik 2000 PGSD sebagai unit pengelola program pada LPTK FKIP Unlam juga telah membina dan meluluskan sejumlah 120 orang yang tersebar kembali ke tempat tugas masing-masing di kabupaten/kota di Kalimantan Selatan. Mereka telah dibekali kemampuan, sikap dan ketrampilan yang kompeten untuk mendukung peningkatan kualifikasi kompetensinya. Yang menjadi harapan adalah bahwa hadirnya guru yang telah mengikuti penyetaraan diharapkan mampu mengubah kondisi proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah pada umumnya. Secara khusus diharapkan guru-guru yang telah mengikuti penyetaraan mampu berkreasi, inovasi dan memberi suluh bagi pengembangan implementasi pembelajaran dan pendidikan di sekolah-sekolah khususnya pada sekolah dimana ia kembali bekerja. Untuk itu perlu segera untuk diketahui bagaimana implikasi dari kegiatan penyetaraan guru SD ini terhadap mutu pendidikan di sekolah.

Gambaran tentang jumlah guru SD yang telah menempuh penyetaraan kualifikasi pendidikannya di LPTK Universitas Terbuka UPBJ Banjarmasin hingga tahun 2002 seperti terlihat pada tabel 2.

Tabel 2

Jumlah Guru SD Jenjang Pendidikan D2 Tahun 2002 Alumni Universitas Terbuka

Di Propinsi Kalimantan Selatan

 

No.

Kabupaten/kota

Jumlah

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

Banjarmasin

Banjar

Tanah Laut

Barito Kuala

Tapin

HSS

HST

HSU

Tabalong

Kotabaru

Banjarbaru

1.187

1.124

757

714

712

948

1.020

1.498

963

917

562

 

Jumlah

2.012

 

 

B. Rumusan  Masalah

Mutu keluaran pendidikan,  salah satunya adalah dipengaruhi oleh kontribusi dari faktor guru sebagai unsur input pendidikan. Kegiatan penyetaraan pendidikan guru dari D1 ke D2 merupakan salah upaya untuk mengatasi ketimpangan kualifikasi guru dan harapannya agar terjadi perbaikan pada proses pembelajaran dan proses pendidikan secara keseluruhan sehingga berimplikasi pada perbaikan mutu keluaran pendidikan khususnya pada satuan pendidikan SD. Atas dasar asumsi bahwa semua alumni D2 telah dibekali pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang telah siap dan mendukung implementasi kompetensi pembelajaran dan pendidikan khususnya di satuan pendidikan SD maka penting untuk ditelaah apakah ada pengaruh kegiatan penyetaraan guru-guru SD, ataukah faktor lain seperti  latar belakang, lingkungan kerja dan kondisi kerja terhadap mutu pengajaran di SD di Kalimantan Selatan?

 

C.  Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian adalah untuk melihat mutu praktek pengajaran yang dilakukan oleh guru-guru SD yang berkualifikasi D2. Selain itu diharapkan  diperolehnya informasi faktual tentang latar belakang, lingkungan kerja, sikap guru terhadap kondisi kerja, dan pandangan guru mengenai pengaruh penyetaraan D2 terhadap kegiatan pengajaran di kelas. Bagi LPTK informasi ini bermanfaat untuk introspeksi tentang intervensi penyetaraan berdasarkan evaluasi outcome kegiatan inservice training yang telah diselenggarakan sehingga dapat dipakai sebagai dasar perbaikan perkuliahan dan kebijakan lainnya. Bagi Kepala Sekolah dan guru sejawat hasil penelitian ini merupakan bahan memacu motivasi guru-guru lain yang belum memenuhi kualifikasi untuk berusaha memprogramkan diri meningkatkan kompetensi sejawatnya dengan harapan akuntabilitas sekolah dapat ditunjang. Bagi pemerintah daerah informasi ini dapat digunakan sebagai bahan evaluasi program kerja dan pengajuan program kerja untuk mendukung pembangunan bidang pendidikan khususnya pembenahan masalah guru baik kualifikasi maupun ketimpangan pemerataannya.

BAB II

KERANGKA BERPIKIR

 

Peningkatan mutu pendidikan intervensinya bisa dari pengubahan unsur input, bisa juga dari memodifikasi intervensi proses pembelajaran. Pengubahan unsur input dapat dilakukan dengan menambah jumlah atau meningkatkan kualitas dan atau mencari solusi gabungan keduanya. Peningkatan jumlah sarana belajar-mengajar, guru, media, perbaikan lingkungan belajar, penyediaan fasilitas software proses pendidikan merupakan contoh-contoh kegiatan ini. Sedangkan intervensi proses pembelajaran dapat ditempuh melalui berbagai strategi belajar-mengajar, yakni tindakan mengakomodasikan seluruh unsur pendidikan untuk mendukung secara optimal proses pembelajaran.

Intervensi input untuk guru dapat dilakukan melalui kegiatan preservice dan inservice trainning. Dari berbagai pengalaman empiris ternyata kegiatan preservice dan inservice memang telah mampu memodifikasi mutu pembelajaran yang akhirnya akan memperbaiki mutu keluaran pendidikan. Kegiatan-kegiatan selain itu yang mendukung perbaikan kualifikasi guru antara lain adalah faktor latar social guru, lingkungan kerja dan motivasi kerja guru.

Memang banyak hal yang mempengaruhi kualitas guru dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan, pembelajaran dan pengajaran. Wayne (2002 ) mengemukakan beberapa indicator yang mempengaruhi kualitas guru dalam melaksanakan kegiatan pengajaran, antara lain ijazah yang dimiliki, sertifikasi, ujian lisensi guru, pengalaman kerja, keterampilan akademik ( pengetahuan pedagogis, penguasaan materi pelajaran ), rating sekolah, skor hasil seleksi penerimaan siswa, peringkat social ekonomi sekolah. Sedangkan Darling dan Hammond (2000) mengemukakan juga beberapa indicator yang mempengaruhi mutu pengajaran di kelas, antara lain lama pendidikan calon guru, status sertifikasi, pengalaman mengajar, penguasaan materi pelajaran, dan pengetahuan pembelajaran, kemampuan akademis dan perilaku mengajar di kelas.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

A.     Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi penelitian ini adalah guru-guru SD yang telah lulus menempuh program penyetaraan di LPTK FKIP Unlam, PGSD dan UPBJ Universitas Terbuka Banjarmasin. Dari seluruh guru-guru SD yang telah penyetaraan D2 di kabupaten/kota di Kalimantan Selatan akan ditarik sampel secara cluster menurut kabupaten/kota dan dipilih tiga kabupaten/kota yang karakteristiknya berbeda yakni HSS, Tanah Laut dan Banjarmasin. Dari tiap cluster akan dipilih secara random masing-masing, untuk Kota Banjarmasin, 25 SD,  Kabupaten HSS, 10 SD dan Kabupaten Tanah Laut, sebanyak 10 SD,  yang memiliki guru penyetaraan D2 dan dari tiap SD dipilih satu orang secara random. Dengan demikian seluruh anggota sampel penelitian ini adalah 45 orang guru D2 yang mengajar di  45 SD.

B.     Variabel Penelitian

Variabel yang diteliti terdiri dari beberapa variabel bebas antara lain latar belakang guru, lingkungan kerja, sikap terhadap kondisi kerja dan pandangan pengaruh D2 terhadap kegiatan pengajaran di kelas. Latar belakang guru terdiri dari usia, status perkawinan, jumlah anak, status jabatan guru, jumlah mata pelajaran yang diajar, golongan/pangkat, pengalaman mengajar, dan gaji. Lingkungan kerja terdiri dari fasilitas sekolah, kecukupan buku pegangan guru dan perpustakaan, sistem kenaikan pangkat, penilaian keberhasilan dalam pengajaran, penghargaan, hubungan sesama guru. Sikap terhadai kondisi guru adalah sikap guru terhadap kondisi kerja tempat guru mengajar. Pandangan terhadap pengaruh penyetaraan D2 terhadap kegiatan pengajaran di kelas adalah pandangan guru mengenai pengaruh penyetaraan D2  terhadap kegiatan pengajaran di kelas dalam bentuk komponen pengajaran, yakni wawasan teoritis pengajaran, penguasaan materi pelajaran, strategi pengajaran, perencanaan pengajaran, keterampilan mengajar, pengelolaan kelas, kemampuan mengevaluasi, dan kemampuan tindak lanjut setelah evaluasi. Sedangkan variabel yang dijelaskan adalah mutu pengajaran dari guru-guru yang telah menempuh penyetaraan D2.

C.     Teknik Pengumpulan Data

Variabel bebas digali dari angket berstruktur yang diisi oleh guru yang bersangkutan tentang latar belakang guru, lingkungan kerja, dan pandangan guru mengenai pengaruh D2 terhadap kegiatan pengajaran di kelas.  Variabel kondisi kerja digali dengan menggunakan skala sikap.  Sedangkan variabel mutu pengajaran diungkap melalui penilaian Kepala Sekolah, teman sejawat dan peneliti melalui observasi sistematis terhadap praktek guru yang melakukan pengajaran di kelas. Sebagai data tambahan dilakukan wawancara dengan Kepala Dinas Pendidikan Kecamatan.

D.    Teknik Analisis Data

Untuk mendukung pendeskripsian data penelitian dan pengujian dugaan dari kerangka pikir penelitian ini dianalisis secara deskriptif berdasarkan analisis prosentase  dan dilakukan pengujian dengan analisis korelasi dengan menggunakan program SPSS.

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.     Latar Belakang Guru

Latar gender dari guru yang diteliti (71,1%) perempuan, sisanya (28,9%) laki-laki. Sedangkan usia mereka berkisar masing-masing antara 36-45 tahun         ( 78,2% ), sisanya 46-60 tahun (15.5%), dan 31-35 tahun (13.3 %). Sebagian besar guru sudah kawin (93,3%), sisanya belum kawin, (4,4% )dan janda, (2,2%.) Anak yang diimiliki guru berjumlah 2 orang ( 51,1%), 1 ( 17,8%) dan 3 (13,3%), sisanya 4-5 (8,8%).

Jabatan guru dalam kaitannya dengan tugas mengajar sebelum mengikuti D2, kebanyakannya adalah guru kelas ( 93,3%) dan guru mata pelajaran ( 6,7%).  Setelah selesai D2, terjadi perubahan, prosentase guru kelas berkurang menjadi (84,4%), guru mata pelajaran bertambah menjadi (15,6%). Sedangkan mata pelajaran yang dipegang guru kelas sebanyak 7 mata pelajaran (57,8%), sisanya 5 mata pelajaran (11,1%) berikutnya bervariasi ada yang 4,5,6 mata pelajaran. Jumlah mata pelajaran yang diajar guru mata pelajaran berkisar 1-3 mata pelajaran (15,6%).

Selain jabatan mengajar, sebagian besar guru  menjabat sebagai wali kelas (86,7 %), tidak punya jabatan (6,7%), sisanya sebagai wakil kepala sekolah, bendahara dan pemandu IPA (,6,6%). Sebagian besar guru sudah “senior” jika dilihat dari golongan pangkat, yakni IIId (37,8%), IIIc ( 22,2%) dan IVa (17,6%), sisanya IIIb (11,1%), IIIa (6,7%) dan IId (4,4%). Di samping pangkat, pengalaman mengajar guru termasuk kategori  “papan atas”, karena sebagian besar telah berpengalaman sekitar 21-25 tahun (35,6%), 16-20 tahun ( 24,4%), 11 tahun         ( 20%), dan 26-30 tahun ( 13,3%), sisanya 6-10 tahun ( 6,7%).

Guru selain mengajar, (84,4%) tidak punya pekerjaan lain, hanya (8,9%) wiraswasta, (4,4%)  petani dan (2,2 % ) mengajar di tempat lain. Selain itu, pekerjaan suami/isteri guru, (55,6%) PNS/ABRI, (17,8%) wiraswasta, (4,4%) petani, dan ( 2,2%) pegawai swasta, hanya ( 13,3%) yang tidak bekerja. Adapun gaji yang guru terima adalah berkisar antara Rp.1.400.000 – Rp. 1.699.999            ( 44,4%), Rp.1.200.000 - 1.399.999 ( 40% ), dan Rp.900.000 – 1.299.999            ( 15,6% ).

B.     Lingkungan Kerja

Kenyamanan guru dalam menjalankan tugas mengajar,  selain berhubungan dengan latar personal, latar jabatan dan gaji, juga berkaitan dengan lingkungan kerja di sekolah. Lingkungan bersangkutpaut dengan fasilitas sekolah, kecukupan buku, sistem kenaikan pangkat,  penilaian dan penghargaan terhadap prestasi, serta suasana hubungan dengan sesama guru

Fasilitas sekolah berupa ruang untuk guru, (51,1%) baik, (35,6%) sedang, dan (4,4%) kurang baik, sisanya (8,9%) tidak mempunyai. Sedangkan perpustakaan, (28,9%) dalam kondisi sedang, (22,2%) kondisinya kurang baik, sisanya (17,8%) baik, namun (31,1%) sekolah tidak mempunyai perpustakaan. Fasilitas berupa boratorium, hanya (4,4%) kondisinya baik, sisanya (4,4%) sedang dan kurang, malah ( 91,1%) menyatakan tidak punya. Fasilitas dalam bentuk alat peraga, (35,6%) kondisinya sedang, (31,1%) baik, dan (28,9%) kurang baik, hanya (4,4%) tidak ada. Fasilitas lain yang berhubungan langsung dengan kegiatan pengajaran adalah ruang kelas, ternyata (55,6%) kondisinya sedang, (31,1%) baik, dan (8,9%) kurang baik. Fasilitas untuk pelajaran olahraga di sekolah, (42,2%) kondisinya sedang, (26,7%) kurang, dan (15,6%) baik. Sementara itu, fasilitas untuk pelajaran kesenian di sekolah, (71,1%) tidak ada, kalaupun ada, hanya (15,6%) kondisinya sedang, (8,9%) kurang baik, dan (4,4%) baik. Agar kegiatan pengajaran dapat berlangsung dengan lancar, fasilitas lainnya adalah pemenuhan buku pegangan guru, perpustakaan dan pegangan siswa, namun kenyataannya menunjukkan bahwa (66,7%) tidak terpenuhi, sisanya (33,3%) menyatakan terpenuhi.

Salah satu yang berhubungan juga dengan kenyamanan guru dalam melaksanakan tugas mengajar adalah kepastian dalam pemenuhan kenaikan pangkat, untuk sistem kenaikan pangkat berdasarkan jabatan fungsional itu, menurut (96,6%) guru telah menunjang kenaikan pangkat, hanya (4,4%) yang tidak. Bagian dari sistem jabatan fungsional demikian adalah peranan kepala sekolah, khususnya dalam menilai keberhasilan guru mengajar. Keberhasilan guru dalam mengajar ternyata dinilai oleh (97,8%) kepala sekolah, hanya (2,2%) menyatakan tidak dinilai. Alat untuk menilai kinerja keberhasilan guru dalam mengajar adalah (55,6%) mengamati secara langsung, (22,2%) variasi antara mengamati langsung dan berdasarkan prestasi siswa, serta sisanya ( 20%)  berdasarkan prestasi siswa. Setelah melakukan penilaian terhadap kinerja guru mengajar, kepala sekolah (82,2%) memberikan umpan balik terhadap hasil penilaian kepada guru, hanya ( 8,9%) yang tidak dan abstain. Selain melakukan penilaian terhadap keberhasilan guru dalam mengajar, kepala sekolah sebagian (46,7%) memberikan penghargaan kepada guru yang berpretasi menonjol, sebagian lagi (35,6%) tidak. Namun demikian terhadap bentuk penghargaan yang diberikan kepala sekolah, (53,3%) menyatakan abstain, hanya (31,1%) mengemukakan dalam bentuk promosi jabatan, ( 8,9%) malah diberi pekerjaan tambahan, ( 4,4%) dalam bentuk promosi dan pekerjaan tambahan, hanya (2,2%) yang diberi hadiah khusus. Sedangkan hubungan antara sesama guru di sekolah, (46,7%) dalam kondisi cukup akrab, (42,2%) sangat akrab, hanya (11,1%) kurang akrab.

C.     Sikap Guru Terhadap Kondisi Kerja

Untuk mengetahui kondisi kerja digunakan skala sikap. Indikator-indikator kondisi kerja dijabarkan dalam item-item pernyataan, untuk mengetahui sejauhmana orientasi sikap guru terhadap suatu nilai yang terkandung dalam item pernyataan tersebut. Dalam penelitian ini untuk menggali orientasi sikap guru terhadap kondisi kerja, disusun sebanyak 150 item pernyataan. Tanggapan guru terhadap 150 item pernyataan itu dikelompokkan dalam suatu skala, bernilai positif dan negatif.

Pengukuran skala sikap mengenai kondisi kerja guru ini, dimulai dari 1        ( nilai terendah ) sampai dengan 4 ( nilai tertinggi ); nilai tengahnya (mean) ada pada skor 2,5. Makna dari skor tersebut adalah semakin kecil skor yang dihasilkan akan semakin negatif /rendah orientasi sikap guru terhadap kondisi kerja. Demikian sebaliknya, semakin tinggi tinggi ( mengarah pada skor 4 ), maka orientasi sikap guru semakin tinggi/positif.

Instrumen skala sikap ini telah dikembangkan melalui prosedur pengembangan skala sikap. Validitas isi dari item setiap pernyataan telah didasarkan dan diperoleh dari “expert judgement” ( pengalaman para pakar di bidang psikologi) dan reliabilitasnya berdasarkan “internal consistency”.

Berdasarkan instrumen skala sikap dalam menggali orientasi sikap guru terhadap kondisi kerjanya, maka diperoleh skor dan skor tengah masing-masing responden, sehingga, sebanyak 30 ( 66,7%) guru mempunyai sikap positif terhadap kondisi kerja yang digeluti, hanya 15 ( 33,3% ) yang bersikap negatif. Sikap demikian dapat dikatakan menepis anggapan dari sementara pihak bahwa kondisi pekerjaan sebagai guru kurang menyenangkan

D.    Pandangan Guru Terhadap Pengaruh Penyetaraan D2 terhadap Kegiatan Pengajaran Di Kelas          

Penggalian data untuk mengungkap pengaruh penyetaraan D2 terhadap mutu kegiatan pengajaran di kelas dilakukan dengan menanyakan pandangan guru terhadap bentuk pengaruh penyetaraan D2 terhadap komponen kegiatan pengajaran, yakni  apakah sangat berpengaruh, berpengaruh, kurang berpengaruh dan tidak berpengaruh terhadap wawasan teoritis pengajaran, penguasaan materi pelajaran, strategi pengajaran, perencanaan pengajaran, keterampilan mengajar, pengelolaan kelas, kemampuan mengevaluasi, dan kemampuan tindak lanjut setelah evaluasi.

Hasil angket menunjukkan bahwa penyetaraan D2  terhadap mutu kegiatan pengajaran dinyatakan oleh (53,3%) guru, sangat berpengaruh dan (46,7%) berpengaruh terhadap wawasan teoritis pengajaran; (51,1%) berpengaruh dan (42,2%) sangat berpengaruh, hanya (6,7%) kurang berpengaruh terhadap penguasaan materi pelajaran; dan terhadap strategi pengajaran, (44,5%) menyatakan sangat berpengaruh, (42,2%) berpengaruh, sisanya (13,3%) kurang berpengaruh. Untuk komponen perencanaan pengajaran, (48,9%) menyatakan berpengaruh, (33,3%) sangat berpengaruh, dan (17,8%) kurang berpengaruh. Sedangkan pengaruhnya terhadap keterampilan mengajar dari penyetaraan D2, (44,4%) menyatakan berpengaruh, (37,8%) sangat berpengaruh, hanya (17,8 %) kurang berpengaruh. Terhadap komponen pengelolaan kelas, sebanyak (53,3%) mengemukakan berpengaruh, dan (28,7 %) berpengaruh, sisanya (20 %) mengakui kurang berpengaruh. Berbeda  pengaruhnya terhadap kemampuan melakukan evaluasi, maka (44,5%) menyatakan berpengaruh dan (42,2%) malah mengakui kurang berpengaruh, hanya (13,3%) sangat berpengaruh. Apalagi terhadap komponen melakukan tindak lanjut setelah melakukan evaluasi, (51,1%) mengakui kurang berpengaruh, sebaliknya (46,7 %) menyatakan berpengaruh, sisanya      (2,2 %) sangat berpengaruh.

Data tersebut mengindikasikan bahwa kegiatan penyetaraan D2 pada dasarnya telah memberikan pengaruh kepada guru terhadap mutu kegiatan pengajaran, khususnya terhadap wawasan teoritis pengajaran, penguasaan materi pelajaran, strategi pengajaran, perencanaan pengajaran, keterampilan mengajar, pengelolaan kelas. Namun agak kurang pengaruhnya terhadap kemampuan mengevaluasi, dan kemampuan tindak lanjut setelah evaluasi.

 

 

E.     Mutu Pengajaran

Untuk mengetahui mutu pengajaran yang dilaksanakan oleh guru alumni D2, digunakan instrumen yang lazim digunakan untuk menguji kemampuan guru dan mahasiswa calon guru dalam melaksanakan kegiatan pengajaran, yakni disebut APKG, namun lebih disederhanakan dan mengacu kepada kegiatan pengajaran. Instrumen ini digunakan oleh kepala sekolah, 2 guru teman sejawat dan peneliti sebagai acuan untuk menilai kemampuan guru mengajar, dari jumlah skor yang diperoleh dari keempat penilai tersebut diperoleh hasil skor rata-rata. Hasil skor rata-rata kemudian dibandingkan dengan rentang skor dan kategori yang ditetapkan berdasarkan skor tiap item kemampuan guru dalam melaksanakan kegiatan pengajaran, yakni 16-31 ( kurang baik sekali ); 32-47 (  kurang baik ); 48-63 ( baik ) dan 64-80 ( baik ).

Berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan oleh kepala sekolah, 2 guru teman sejawat dan peneliti dengan berpedoman pada instrumen yang mengacu kepada APKG, maka diperolehnya data bahwa 28 orang ( 62,2%) guru dikategorikan baik mutu pengajarannya, 15 orang ( 33,3% ) malah sangat baik, hanya 2 ( 4,4%) yang cukup baik.

Hasil penilaian dari kepala sekolah, guru sejawat dan peneliti terhadap mutu pengajaran tersebut kemudian diuji kesejajarannya, dengan mengelaborasi factor pengaruh latar belakang, lingkungan kerja dan kondisi guru terhadap mutu pengajaran. Uji kesejajaran dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi Pearson dan Spearman, dengan hasil sebagai berikut :

 

Tabel 3

Koefisien Korelasi Pearson

 

Oberver

Kepala Sekolah

Guru Sejawat 1

Guru Sejawat 2

Peneliti

Kepala Sekolah

1,0000

.5645

.5876

.2814

 

N (45)

N (45)

N (45)

N (45)

 

P = .

P = .000

P = .000

P = .061

 

 

 

 

 

Guru Sejawat 1

.5645

1,0000

.6659

.2825

 

N (45)

N (45)

N (45)

N (45)

 

P = .000

P = .

P = .000

P = 060

 

 

 

 

 

Guru Sejawat 2

.5876

.6659

.2839

.2839

 

N (45)

N (45)

N (45)

N (45)

 

P = .000

P = .000

P = .059

P = .059

 

 

 

 

 

Peneliti

.2814

.2825

.2839

.2839

 

N (45)

N (45)

N (45)

N (45)

 

P = .061

P = 060

P = .059

P = .059

.

 

 

 

 

 

 

Tabel 4

Koefisien Korelasi Spearman

 

 

Kepala Sekolah

Guru Sejawat 1

Guru Sejawat 2

Peneliti

.2966

.2390

.2045

 

N (45)

N (45)

N (45)

 

Sig  .048

Sig .114

Sig .178

 

 

 

 

Guru Sejawat 2

.5271

.6095

 

 

N (45)

N (45)

 

 

Sig .000

Sig .000

 

 

 

 

 

Guru Sejawat 1

.5074

 

 

 

N (45)

 

 

 

Sig .000

 

 

 

Hasil tersebut  menunjukkan bahwa koefisien korelasi signifikan dengan taraf signifikansi <0,05 atau sangat signifikan <0,01, berarti mutu pengajaran yang diunjukkerjakan oleh guru yang diobservasi memang benar adanya, dan dengan demikian program penyetaraan D2 bukan saja menurut LPTK yang mengatakan akan ada dampak peningkatan mutu pengajaran di kelas, tetapi benar telah didukung  observasi lapangan oleh kepala sekolah, guru-guru sejawat maupun peneliti.

F.      Hubungan antar Variabel

1.                                                Latar Belakang dengan Mutu Pengajaran

Berdasarkan perhitungan korelasi dengan menggunakan program SPPS, maka dapar dilihat besarnya hubungan antara mutu pengajaran  dengan sub variabel latar belakang dilihat dari koefisien korelasi Pearson.

Tabel 5

Koefisien Korelasi Pearson

Variabel Latar Belakang

Variabel Mutu Pengajaran

Sub-Sub Variabel

Koefisien Korelasi Pearson

N = 45

Korelasi Positif

Korelasi Negatif

Gender

 

- 0,091

Usia

 

- 0,092

Status Kawin

0,147

 

Jumlah Anak

0,044

 

Jumlah Tanggungan

 

- 0,098

Jabatan Pra D2

0,052

 

Jabatan Post D2

- 0,256

 

Mata Ajar Pra D2

0,168

 

Mata Ajar Post D2

0,040

 

Jabatan Di Sekolah

 

- 0,022

Gol/Pangkat

0,057

 

Pengalaman Mengajar

 

- 0,025

Pekerjaan Lain

 

- 0,340*

Pelayanan Sekolah

0,192

 

Gaji

0,121

 

 

Berdasarkan koefisien korelasi Pearson, maka antara sub variabel latar belakang guru dengan variabel mutu pengajaran, terdapat hubungan yang bersifat positif dan negatif. Hubungan yang positif disebut korelasi positif, dan hubungan yang negatif dikatakan korelasi negatif. Korelasi positif, bila pada salah satu variabel terjadi peningkatan, maka pada variabel lainnya yang berkorelasi juga terjadi peningkatan. Sedangkan korelasi negatif, apabila pada salah satu variabel terjadi peningkatan, maka pada variabel lainnya yang berkorelasi cendrung terjadi penurun.

Korelasi positif terjadi dari yang paling besar koefisiennya hingga yang paling rendah, yakni variabel pelayanan sekolah (0,192); mata ajar pra D2 (0,168); status kawin (0,147); gajih (1,21); golongan pangkat (0,057); jabatan pra D2 (0,52); jumlah anak (0,044); Mata ajar post D2 (0,040). Sedangkan korelasi negatif terjadi pada variabel pekerjaan lain (-0,340*); jumlah tanggungan (-0,098); usia ( - 0,092); jenis kelamin ( - 0,091); pengalaman mengajar (- 0,025) dan jabatan di sekolah (-0,022 ).

Namun dari semua korelasi yang terjadi, baik korelasi positif maupun korelasi negatif antara variabel mutu pengajaran dengan variabel latar belakang guru, maka hanya korelasi negatif (-0,340*) antara variabel pekerjaan lain dengan mutu pengajaran yang signifikan pada taraf <0,05 dan sangat signifikan pada taraf <0,01. Berarti semakin sedikit guru mempunyai pekerjaan lain, maka akan semakin meningkat mutu pengajaran yang dilakukannya.

2.                                                Lingkungan Kerja dengan Mutu Pengajaran

Berdasarkan perhitungan korelasi dengan menggunakan program SPPS, maka dapar dilihat besarnya hubungan antara mutu pengajaran  dengan sub variable lingkungan kerja, dilihat dari koefisien korelasi Pearson.

 

Tabel 6

Koefisien Korelasi Pearson

Variabel

Lingkungan Kerja

Variabel Mutu Pengajaran

Sub-Sub Variabel

Koefisien Korelasi Pearson

N = 45

Positif

Negatif

Ruang Guru

 

- 0,339

Perpustakaan

 

- 0,170

Laboratorium

 

- 0,068

Alat Peraga

0,094*

 

Ruang Kelas

 

- 0,053

Pemenuhan Buku

0,111

 

Kemudahan Pangkat

0,259

 

Penilaian Kepsek

 

- 0,066

Bentuk Penilaian

0,160

 

Umpan Balik Kepsek

 

- 0,073

Penghargaan Kepsek

0,041

 

Bentuk Penghargaan

0,155

 

Hub dgn sesama guru

 

- 0,093

 

Di antara variabel lingkungan kerja dengan variabel mutu pengajaran terdapat  korelasi positif dan negatif. Korelasi positif terjadi antara variabel mutu pengajaran dengan variabel kemudahan naik pangkat ( 0,259); bentuk penilaian (0,160); bentuk penghargaan (0,155); pemenuhan buku (0,111); alat peraga (0.094*); dan penghargaan kepala sekolah (0,041). Sedangkan korelasi negatif terjadi antara variabel mutu pengajaran dengan variabel ruang guru (- 0,339 ); perpustakaan ( - 0,170); hubungan sesama guru ( -0,093); umpan balik ( -0,073); laboratorium ( -0,068); penilaian kepala sekolah ( -0,066); dan ruang kelas            (-0,053). 

Namun dari semua korelasi yang terjadi, baik korelasi positif maupun korelasi negatif antara variabel mutu pengajaran dengan variabel lingkungan kerja guru, maka hanya korelasi positif (0.094*) antara variabel ruang alat peraga dengan mutu pengajaran yang signifikan pada taraf <0,05 dan sangat signifikan pada taraf <0,01. Berarti semakin banyak guru menggunakan alat peraga, maka akan semakin meningkat mutu pengajaran yang dilakukannya

3.      Sikap Terhadap Kondisi Kerja dengan Mutu Pengajaran

Tabel  7

Koefisien Korelasi Pearson

 

Variabel Sikap

Terhadap Kondisi Kerja

Variabel Mutu Pengajaran

N = 45

Koefisien Korelasi Pearson

Sikap Terhadap Kondisi Kerja

0,082

 

Antara sikap guru terhadap kondisi kerja dengan mutu pengajaran terdapat hubungan positif dengan koefisien korelasi sebesar 0,082 meskipun dengan indeks yang cukup kecil, namun tidak signifikan. Semakin positif pandangan guru terhadap kondisi kerja mereka sebagai guru, maka semakin meningkat mutu pengajaran yang dilakukan di dalam kelas. Hasil korelasi ini dapat dikaitkan dengan prosentase pandangan guru yang sebagian besar positif dan kualifikasi mutu pengajaran yang pada prinsipnya baik pula

4. Pandangan Guru terhadap Pengaruh Penyetaraan D2 kepada  Komponen Pengajaran dgn Mutu Pengajaran

 

       Tabel  8

Koefisien Korelasi Pearson

 

 

    Variabel  Pandangan Guru

Variabel   Mutu Pengajaran

 

Koefisien Korelasi

N = 45

 0,154

 

Berdasarkan koefisien korelasi yang diperoleh sebesar 0,154, maka dapat dikatakan terdapat hubungan positif antara pandangan guru terhadap pengaruh penyetaraan D2 dalam hal komponen pengajaran dengan mutu kegiatan pengajaran yang dilaksanakannya. Meskipun hubungan tersebut tidak signifikan, namun memberikan wacana bahwa pendapat kegiatan penyetaraan D2 telah membawa pengaruh tertentu kepada guru, khususnya komponen-kompen pengajaran, kecuali kemampuan mengevaluasi dan tindaklanjutnya. Dengan demikian dapat diduga bahwa semakin banyak pengaruh komponen pengajaran yang diterima guru pada saat penyetaraan D2, maka semakin meningkat mutu pengajaran di kelas. Implikasinya adalah jika mutu pengajaran akan lebih meningkat lagi, maka komponen pengajaran yang dipandang kurang berpegaruh seperti kemampuan mengevaluasi dan tindak lanjut, perlu ditingkatkan lagi kemampuannya dan diberi porsi lebih mendalam, baik dalam kegiatan penyetaraan D2 LTPK FKIP UNLAM dan FKIP UT UBJ Banjarmasin, maupun melalui pelatihan dalam kegiatan MGMP.

Ketika membicarakan mutu pendidikan dan mutu pembelajaran, khususnya mutu pengajaran, pembuat kebijakan cenderung memfokuskannya pada pengalaman mengajar, pangkat, jumlah penataran dan diklat yang diikuti serta ijazah yang dimiliki guru. Indikator demikian dianggap sebagai key benchmarks” bagi pencapaian standar mutu pendidikan yang diinginkan. Padahal banyak hal yang mempengaruhi kualitas guru dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan, pembelajaran dan pengajaran. Wayne (2002 ) mengemukakan beberapa indicator yang mempengaruhi kualitas guru dalam melaksanakan kegiatan pengajaran, antara lain ijazah yang dimiliki, sertifikasi, ujian lisensi guru, pengalaman kerja, keterampilan akademik ( pengetahuan pedagogis, penguasaan materi pelajaran ), rating sekolah, skor hasil seleksi penerimaan siswa, peringkat social ekonomi sekolah. Sedangkan Darling dan Hammond (2000) mengemukakan juga beberapa indicator yang mempengaruhi mutu pengajaran di kelas, antara lain lama pendidikan calon guru, status sertifikasi, pengalaman mengajar, penguasaan materi pelajaran, dan pengetahuan pembelajaran, kemampuan akademis dan perilaku mengajar di kelas. Dengan demikian hasil penelitian yang dilakukan terhadap pengaruh penyetaraan D2 terhadap mutu pendidikan di SD, khususnya mutu pengajaran di kelas tingkat SD, telah menunjukkan adanya pengaruh, meskipun baru dalam pernyataan kualitatif dan koefisien korelasi yang menunjukkan adanya hubungan yang positif dengan mutu pengajaran. Namun demikian aspek lain dari variabel latar belakang, seperti status perkawinan, jumlah anak, status jabatan, mata pelajaran yang diajar, golongan/pangkat, pelayan sekolah dan gaji, juga menunjukkan korelasi positif, dengan koefisien korelasi yang beragam. Hal yang sama juga terjadi pada aspek alat peraga, pemenuhan buku, kemudahan pangkat, bentuk penilaian, penghargaan kepala sekolah dan bentuk penghargaan, serta pandangan guru terhadap kondisi kerja.

Pada kesempatan ini perlu juga dikemukakan hasil wawancara dengan beberapa orang Kepala Kantor Kecamatan Depdiknas, ketika diminta tanggapan terhadap kegiatan penyetaraan ini, kami cuplikan beberapa komentar :

1.      Ada penambahan wawasan, pikiran mulai terbuka, namun ada kesan bahwa tidak ada gunanya ikut kegiatan penyetaraan, karena tidak ada bedanya antara yang D2 dengan yang tidak. Malah motivasinya lebih baik yang dibiayai swadana ketimbang proyek. Malah sekarang agak kesulitan mencari yang mau D2, karena usia sudah tua dan pangkat sudah tinggi.

2.      Pada waktu dilaksanakan penyetaraan D2 dengan swadana, banyak yang antusias mengikuti, karena diduga akan merubah nasib, terutama yang masih muda, berpotensi dan berambisi, paling tidak ada anggapan setelah D2, mungkin bisa menjadi kepala sekolah. Namun setelah berlalu menjadi kegiatan yang dibiayai, malah sulit mencari yang mau ikut penyetaraan, karena usia tua, pangkat tinggi (IIIc,IIId,IVa). Ada yang menganggap bahwa kegiatan penyetaraan D2 tidak berdampak baik dalam aspek pangkat maupun aspek ekonomis, harusnya kalau” basah tumit, basah jua rakungan”.

 

Dua petikan hasil bincang-bincang petinggi dinas pendidikan kecamatan merupakan ekspresi terhadap kegiatan penyetaraan D2 dalam pengaruhnya terhadap perubahan nasib, penghargaan prestasi, peningkatan karir dan pada gilirannya pencapaian tingkat kesejahteraan tertentu bagi guru.

Oleh karena kegiatan penyetaraan dapat diduga mempunyai pengaruh tertentu terhadap mutu kegiatan pengajaran, yang pada giliran diharapkan membawa peningkatan mutu pendidikan secara keseluruhan, maka langkah berikutnya adalah penghargaan prestasi, berupa peningkatan karir dan pada gilirannya pencapaian tingkat kesejahteraan tertentu bagi guru.

 

BAB V

PENUTUP

A.     Simpulan

1.         Kegiatan penyetaraan D2 bagi guru SD berpengaruh terhadap komponen pengajaran, dan berkorelasi positif dengan mutu pengajaran. Demikian juga variabel latar belakang, seperti status kawin, jumlah anak, jabatan guru, mata ajar, golongan/pangkat,pelayan sekolah dan gaji, serta variabel lingkungan kerja, seperti alat peraga, pemenuhan buku, kemudahan naik pangkat, bentuk penilaian, pengharagaan dan bentuk penghargaan, sikap terhadap kondisi kerja dan pandangan terhadap pengaruh penyetaraan D2 terhadap komponen pengajaran.

2.         Terdapat korelasi negatif antara mutu pengajaran dengan variabel gender, usia, jumlah tanggungan, jabatan di sekolah, pengalaman mengajar, pekerjaan lain, ruang guru, perpustakaan, laboratorium, ruang kelas, penilaian kepala sekolah, umpan balik kepala sekolah, hubungan dengan sesama guru.

3.         Korelasi negatif yang signifikan hanya terjadi antara variabel pekerjaan lain guru dengan mutu pengajaran, dan korelasi positif hanya terjadi antara variabel alat peraga dengan mutu pengajaran.

4.         Menurut guru kegiatan penyetaraan D2 telah berpengaruh terhadap komponen pengajaran, kecuali kemampuan mengevaluasi dan tindak lanjutnya.

5.         Penyetaraan D2 bagi guru SD hendaknya menjadi tahap awal bagi perubahan nasib guru menuju pada peningkatan karir berdasarkan standar professional dan akuntabilitas sekaligus peningkatan kesejahteraan guru.

B.     Saran

1.         Setelah semua guru mengikuti kegiatan penyetaraan D2, sebaiknya dilakukan kegiatan monitoring secara berkelanjutan. Kegiatan tersebut mengacu pada peningkatan mutu pencapaian hasil belajar siswa sesuai dengan standar yang telah ditetapkan pemerintah.

2.         Pada tahapan tertentu, kemampuan guru, baik dalam hal kemampuan akademis dan kemampaun mengajar dilakukan pengujian, guna penentuan standar guru yang bersangkutan. Jika “layak dan pantas” memenuhi standar “guru yang berkualitas”, dan memberikan “nilai tambah” terhadap prestasi belajar siswanya, maka guru demikian, diberikan penghargaan, baik promosi, hadiah, bonus gaji tambahan, dan bea siswa untuk melanjutkan pendidikan ke S1.

3.         Perlu disusun standar baku berdasarkan kategori daerah terhadap kualifikasi “guru yang berkualitas,untuk menjadi dasar bagi peningkatan kualitas guru yang berkelanjutan. Penyusunan standar baku kualifikasi profesional guru yang berkualitas hendaknya melibat dinas pendidikan Kalsel, dinas Kota/Kabupaten, Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan ( dulu BPG ) dan LPTK.

4.         Perlu ditelaah secara mendalam signifikansi kontribusi pengaruh variabel penyetaraan D2 terhadap mutu pengajaran dibandingkan dengan variabel latar belakang, lingkungan kerja dan kondisi kerja.

 

 

KEPUSTAKAAN

 

Ace Suryadi, Studi Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar di Negara Berkembang dan Implikasinya Bagi Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan di Indonesia (Meta Analisis), Kajian, Tebitan Perdana, No. 001/November 1995.

 

David Johnson,ed., The Use of Matrix Ranking to Monitor the Effectiveness of In-service Training, Research and Evaluation Series, Punjab Middle Schooling Project 298, A New Muslim Town, Lahore.

 

Depdiknas Prop. Kalsel, Profil Pendidikan 2002/2003, Banjarmasin, 2002.

 

Linda Darling - Hammond,2002, Research and Rhetoric on Teacher Certification : A Response to "Teacher Certification Reconsidered", Education Policy Analysis Archives, 10(36). Retrieved 15/09/02.

 

Linda Darling – Hammond, 2000, Teacher Quality and Student Achievement: A Review of State Policy Evidence, Education Policy Analysis Archives, 8(1). Retrieved 01/01/00

 

Andrew J.Wayne, 2002, Teacher Inequality; New Evodence on Disparitasin Teachers Academic Skills, Education Policy Analysis Archives, 10(30). Retrieved 13/06/02

 

Philip Suprastowo, Motivasi Menjadi Guru Dalam Kaitannya Dengan Profil Kinerjanya, Kajian, No. 008/II/Maret/1997.

 

Puskur Balitbang Depdiknas, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jakarta, 2002.

 

 

 

Lampiran

Tabel  9

Orientasi Sikap Guru Terhadap Kondisi Kerja

Skor Orientasi Sikap

Skor Mean

Orientasi Sikap

368

2,45

Negatif/Rendah

370

2.46

Negatif/Rendah

385

2,56

Positif/Tinggi

367

2,44

Negatif/Rendah

385

2,56

Positif/Tinggi

373

2,48

Negatif/Rendah

402

2,68

Positif/Tinggi

393

2,62

Positif/Tinggi

394

2,62

Positif/Tinggi

352

2,34

Negatif/Rendah

380

2,53

Positif/Tinggi

394

2,62

Positif/Tinggi

366

2,44

Negatif/Rendah

379

2,52

Positif/Tinggi

365

2,43

Negatif/Rendah

381

2,54

Positif/Tinggi

381

2,54

Positif/Tinggi

399

2,66

Positif/Tinggi

365

2,43

Negatif/Rendah

392

2,61

Positif/Tinggi

397

2,64

Positif/Tinggi

375

2,50

Positif/Tinggi

381

2,54

Positif/Tinggi

371

2,47

Positif/Tinggi

405

2,70

Positif/Tinggi

380

2,53

Positif/Tinggi

384

2,56

Positif/Tinggi

420

2,80

Positif/Tinggi

363

2.42

Negatif/Rendah

370

2,47

Negatif/Rendah

379

2,52

Positif/Tinggi

390

2,60

Positif/Tinggi

350

2,33

Negatif/Rendah

376

2,51

Positif/Tinggi

373

2,49

Negatif/Rendah

351

2,34

Negatif/Rendah

379

2,52

Positif/Tinggi

391

2,61

Positif/Tinggi

366

2,44

Negatif/Rendah

408

2,72

Positif/Tinggi

409

2,73

Positif/Tinggi

387

2,58

Positif/Tinggi

358

2,39

Positif/Tinggi

403

2,69

Positif/Tinggi

371

2,47

Negatif/Rendah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  
 
 
 
 
LAPORAN HASIL PENELITIAN

 

 

 

 

PENGARUH PENYETARAAN GURU SD TERHADAP

MUTU PENDIDIKAN SD

DI PROPINSI KALIMANTAN SELATAN

 

  

 

Oleh

 

TIM JARINGAN PENELITIAN

PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KALSEL

 

 

 

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DAERAH

PROPINSI KALIMANTAN SELATAN

BANJARMASIN

2003

 

 

 

 

[ KEMBALI KE INDEX ]