Make your own free website on Tripod.com

BAB III

METODE PENELITIAN

 

A. Model Pengembangan

          Berbagai tipe model pengembangan produk pengajaran pada umumnya berpendekatan linier (Atwi Suparman, 2001:34), proses pengembangan berlangsung tahap demi tahap secara kausal. Dalam kenyataannya proses pengembangan sesuatu produk akan selalu memperhatikan berbagai elemen pendukung maupun unsur-unsurnya sehingga akan terjadi proses yang rekursif. Beranjak dari pertimbangan pendekatan sistem bahwa pengembangan asesmen tidak akan terlepas dari konteks pengelolaan maupun pengorganisasian belajar, maka dipilih model spiral sebagaimana yang direferensikan oleh Cennamo dan Kalk (2005:6). Dalam model spiral ini dikenal 5(lima) fase pengembangan yakni: (1) definisi (define), (2) desain (design), (3) peragaan (demonstrate), (4) pengembangan (develop), dan (5) penyajian (deliver).

          Pengembang akan memulai kegiatan pengembangannya bergerak  dari fase definisi (yang merupakan titik awal kegiatan), menuju keluar kearah fase-fase desain, peragaan, pengembangan, dan penyajian yang dalam prosesnya berlangsung secara spiral dan melibatkan  pihak-pihak calon pengguna, ahli dari bidang yang dikembangkan (subject matter experts),  anggota tim dan instruktur, dan pebelajar. Fase-fase kegiatan itu dapat disimak pada gambar yang dikutip pada halaman berikut ini.

          Pada setiap fase pengembangan pengembang akan selalu memperhatikan unsur-unsur pembelajaran yakni outcomes, aktivitas, pebelajar, asesmen dan evaluasi. Proses pengembangan akan berlangsung mengikuti gerak secara siklus iterative (iterative cycles) dari visi definisi yang samar menuju kearah produk yang konkrit yang teruji efektivitasnya, sebagaimana yang direferensikan oleh Dorsey, Goodrum, & Schwen, 1997 (Cennamo & Kalk, 2005:7) yang dikenal dengan “the rapid prototyping process”.

Assessment

 
Target Diagram

Gambar 18

Lima Fase Perancangan Pengajaran Model Spiral diadaptasi dari

Five phases of instructional design’ dari Cennamo dan Kalk, (2005:6)

 

Keterangan :

                   Menunjukkan fase-fase pengembangan

                        Menunjukkan arah proses pengembangan

 

 

          Pengembang dalam setiap fase pengembangan akan selalu bolak-balik berhadapan ulang dengan elemen-elemen penting rancangan pengajaran yaitu tujuan akhir, kegiatan belajar, pebelajar, asesmen dan evaluasi. Proses iteratifnya dapat digambarkan pada gambar berikut.

Fase-fase itu secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut:

1.      Fase definisi (define), pada fase ini pengembang memulai menentukan lingkup kegiatan, outcomes, jadwal dan kemungkinan-kemungkinan untuk penyajiannya. Fase kegiatan ini menghasilkan usulan kegiatan pengembangan berupa rancangan identifikasi kebutuhan, spesifikasi tujuan, patok duga keberhasilan, produk akhir, strategi pengujian efektivitas program dan produk.

 

 

 

 

 

 


Kegiatan Belajar

 

Asesmen

 
Pyramid Diagram

 

 

 

 


Gambar 19

Elemen-elemen Yang Dipertimbangkan Dalam Proses Iteratif Pengembangan (Adaptasi dari Cennamo & Kalk, 2005:21)

 

2.      Fase perancangan (design), meliputi garis besar perencanaan yang akan menghasilkan dokumen rancangan pengajaran dan asesemen.

3.      Fase peragaan (demonstrate), fase ini merupakan kelanjutan untuk mengembangkan spesifikasi rancangan dan memantapkan kualitas sarana dan media pengembangan produk paling awal, dengan hasil berupa dokumen rinci tentang produk (storyboards, templates dan prototipe media bahan belajar).

4.      Fase pengembangan (develop), fase ini adalah fase lanjutan yaitu melayani dan membimbing pebelajar dengan hasil berupa bahan pengajaran secara lengkap, kegiatan intinya adalah upaya meyakinkan bahwa semua rancangan dapat digunakan bagi pengguna dan memenuhi tujuan.

5.      Fase penyajian (deliver), fase ini merupakan fase lanjutan untuk menyajikan bahan-bahan kepada klien dan memberikan rekomendasi untuk kepentingan kedepan; hasil dari fase ini adalah adanya kesimpulan sukses tidaknya rancangan produk yang dikembangkan bagi kepentingan pengguna dan dari tim yang terlibat.

          Model spiral dapat digunakan untuk berbagai model pengembangan, termasuk pengembangan asesmen, pola pengelolaan belajar maupun model pengorganisasian isi bahan belajar. Dengan berpedoman pada pola rekursif dalam model spiral ini dapat dikembangkan model asesmen teman sejawat yang berlatar pengelolaan belajar secara kolaboratif.

 

B. Prosedur Pengembangan

Mengacu pada model pengembangan yang dipilih, prosedur dari rangkaian tahapan yang akan dilalui untuk mencapai tujuan pengembangan ini dibagi dalam dua gugus kegiatan yakni: (1) tahap pengembangan model, dan (2) tahap penerapan model.

Secara lengkap prosedur pengembangan dimaksud dapat di deskripsikan pada gambar daftar alir di halaman berikut.

Prosedur-prosedur sebagaimana dimaksud dalam tahapan pengembangan ini dapat diuraikan sebagai berikut :

 

1. Tahap Pengembangan Model

Dalam tahap pengembangan model ini termasuk unsur kegiatan fase definisi, desain dan peragaan prototipe yang mencakup sasaran pengembangan dengan kegiatan mencari dan   mengidentifikasi   kejelasan   informasi   obyek   asesmen   kemampuan pemecahan masalah Akuntansi dalam proses belajar kolaboratif atau melakukan analisis kebutuhan (need assessment). Tujuannya untuk mengidentifikasikan, pertama, jenis kompetensi Akuntansi yang dibutuhkan oleh mahasiswa sebagai bekal kelak terjun ke sekolah; dan kedua, mengidentifikasikan pengalaman praktek evaluasi kuliah yang dirasakan saat menempuh kuliah guna memformulasikan model asesmen yang sesuai dengan kebutuhan.

          Setelah tahap need assessment atau studi pendahuluan, dilanjutkan kegiatan pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan yakni (1) memilih metode asesmen dan membuat rancangan pengembangan model asesmen, (2) mengidentifikasi aktivitas fisik usaha pebelajar tentang proses kerja pemecahan masalah, dan memilih serta mengembangkan strategi pengelolaan belajar kolaboratif, dan (3) atas dasar aktivitas proses kerja pemecahan masalah dirancang pengorganisasian isi materi belajar pemecahan masalah menggunakan pendekatan elaborasi.

Secara rinci kegiatan-kegiatan untuk tahapan ini diuraikan sebagai berikut. Sebagai langkah awal pengembangan , 3(tiga) orang dosen program studi Pendidikan Ekonomi FKIP Unlam yang sudah berpengalaman mengajar berstatus Lektor atau yang sudah pernah mendapat penataran Akuntansi tingkat nasional dilibatkan dalam pengembangan prototipe program asesmen dan program pengelolaan belajar sekaligus program pengorganisasian isi pembelajaran. Kegiatan-kegiatan tahap ini adalah identifikasi pokok-pokok dan sub-sub pokok bahasan yang mengandung kemampuan pemecahan masalah, kapasitas kemampuan minimal atau kompetensi dasar yang diperlukan oleh mahasiswa, jenis tugas latihan atau kasus pemecahan masalah yang akan dijadikan sebagai prototipe bahan belajar. Tugas-tugas belajar ini dielaborasi dari penguasaan kompetensi Akuntansi Perusahaan Jasa, yang pada langkah awal pengembang telah mengidentifikasi menjadi 7(tujuh) pokok bahan belajar yang dikemas masing-masing menjadi satu satuan preskripsi pokok perkuliahan dan disebut satuan acara perkuliahan atau frame isi bahan kegiatan belajar. Ketujuh satuan acara perkuliahan ini dijabarkan dari kurikulum dengan menggunakan telaah analisis menurut jenis pengetahuan pemecahan masalah yang prosedural, mulai dari konsep, prinsip dan aturan serta pemecahan masalah yang diramu berdasarkan teori elaborasi.

Untuk mendapatkan informasi tentang kebutuhan asesmen dan situasi pengelolaan belajar dalam pemecahan masalah Akuntansi dalam praktik di kelas, dan memperoleh gambaran nyata tentang hambatan-hambatan serta kesulitan mahasiswa dalam mengikuti kuliah Akuntansi, maka pertama, akan

 

 

T

A

H

A

P

 

P

E

N

G

E

M

B

A

N

G

A

N

 

M

O

D

E

L

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


                                                                                                                               

 

 

 

 

 

 

 

 

 

T

A

H

A

P

 

P

E

N

E

R

A

P

A

N

 M

O

D

E

L

 

 

De

v

e

l

o

p

 

D

e

l

i

v

e

r

y

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 20

Daftar Alir Prosedur Pengembangan Model Asesmen Teman Sejawat (MATS) dan Model Pengelolaan Belajar Kolaboratif (MPK).

 

dilakukan wawancara dengan tiga orang dosen pembina kuliah Akuntansi di program studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, dan kedua, dilakukan observasi langsung kegiatan perkuliahan untuk matakuliah yang dibina dosen yang bersangkutan.

          Sebagai bahan komparasi akan dilakukan observasi dan wawancara kepada 2(dua) orang dosen pembina mata kuliah Akuntansi di program studi pendidikan ekonomi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta.   Hasil dari observasi dan wawancara ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran umum tentang situasi perkuliahan yang dijadikan obyek pengembangan asesmen dan pengelolaan belajar serta pengorganisasian isi materi. Lebih jauh dari kegiatan ini juga ditujukan untuk menyempurnakan dan memantapkan konsep preskripsi satuan acara perkuliahan yang dirancang dan analisis tugas untuk belajar pemecahan masalah. Rancangan untuk ini dapat dilihat pada identifikasi kompetensi pemecahan masalah di bidang Akuntansi Jasa.

          Setelah melalui proses penyempurnaan dan revisi akan dihasilkan prototipe model pengembangan. Prototipe yang dimaksud berupa prototipe tentang model asesmen teman sejawat (MATS), prototipe model pengelolaan belajar kolaboratif (MPK), dan prototipe materi bahan belajar atau satuan acara perkuliahan yang dilengkapi dengan perangkat asesmen dan evaluasinya dan disebut dengan sample program pembelajaran.

 

2. Tahap Penerapan Model

          Prototipe yang dihasilkan dari kegiatan tahap pengembangan model menjadi bahan masukan tahap pengembangan lanjutan, yaitu pemantapan prototipe-prototipe produk rancangan. Dalam kegiatan ini masuk fase pengembangan (develop) dan fase penyajian (delivery) dengan sasaran kegiatan memantapkan dan melakukan validasi:

(1)    Prototipe model asesmen teman sejawat.

(2)    Prototipe sample program pembelajaran pemecahan masalah beserta perangkat tes kemampuan pemecahan masalah (dirancang dua model setara untuk awal dan akhir kegiatan belajar) sekaligus memantapkan skenario pengelolaan belajar kolaboratif.

Pada akhir dari fase delivery dilakukan difusi melalui kegiatan review dari pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan maupun pengguna, institusi dan sejawat yang kemudian dibuat laporan akhir dari sasaran pengembangan ini. Pada tahap validasi akan dirancang metodologi tersendiri untuk menjamin pembuktian keandalan dari produk pengembangan dan akan dipaparkan pada sesi berikut dengan memperhatikan kaidah-kaidah prosedur uji-coba model.

 

C. Uji Coba Model 

          Desain rinci untuk penerapan model baik pada fase pengembangan (develop) maupun fase penyajian (delivery) dilakukan dengan langkah (1) uji perorangan, (2) uji kelompok kecil, dan (3) uji validasi model. Langkah-langkah ini merupakan rangkaian kegiatan evaluasi untuk mengkaji seberapa jauh kehandalan model yang dikembangkan. Model evaluasi yang digunakan mengadaptasi model evaluasi formatif (formative evaluation) dari Tessmer (1993) dengan alir kegiatan sebagaimana tampak pada gambar berikut ini.

Tahap ini dimulai dari evaluasi diri dengan diperolehnya hasil identifikasi berbagai masalah yang dihadapi dan pemikiran alternatif pemecahannya, pengembangan ditindaklanjuti dengan melakukan revisi rancangan setelah menerima masukan dari hasil review para ahli dan calon pengguna; langkah ini dikemas dalam metodologi sebagai uji perorangan. Hasil dari langkah uji perorangan berupa bahan informasi untuk revisi prototipe pengembangan, kemudian setelah itu revisi dilakukan.

Prototipe yang telah direvisi diuji lebih lanjut kepada kalangan terbatas atau sekelompok kecil (small group) pengguna dalam situasi nyata dan fase ini disebut dengan uji kelompok kecil. Pemantapan prototype diperoleh setelah direvisi berdasarkan informasi balikan dari kegiatan uji kelompok kecil; hasil pemantapan ini  selanjutnya dikemas menjadi produk pengembangan tentatif yang kemudian diuji coba lagi melalui proses validasi

empiris dan dikenal dengan langkah uji validasi model. Hasil dari uji validasi model terhadap pengguna secara empiris, disebut dengan produk akhir pengembangan yakni berupa model asesmen teman sejawat dan model pembelajaran kolaboratif (MATS-MPK).

 

 

 

Gambar 21

Model Evaluasi Formatif

Sumber: Tessmer, 1993. General Sequence of Formative Evaluations Types (diambil tgl. 22 Maret 2006 dari http://www.geocities.com/researchTriangle/8788/ DR.html)

 

Tiap-tiap langkah pada tahap penerapan model ini diuraikan pada paparan berikut ini.

 

1. Uji  Perorangan

Untuk mendapatkan model asesmen beserta satuan acara perkuliahan atau sample program pembelajaran yang dibutuhkan dilakukan uji perorangan. Uji perorangan ditujukan untuk mendapatkan informasi tentang (1) estimasi tingkat kemampuan mahasiswa, (2) hal-hal yang tidak jelas dari isi naratif bahan belajar beserta tugas-tugas yang terdapat didalamnya, serta (3) hambatan-hambatan teknis yang mungkin dijumpai mahasiswa saat mengerjakan tugas pemecahan masalah dari setiap perangkat asesmen dan sample program yang dipreskripsikan.

Prosedur untuk mendapatkan informasi tersebut ditempuh dengan cara melibatkan minimal 5(lima) orang mahasiswa yang sudah pernah ikut kuliah Akuntansi Jasa di Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP UNLAM dengan karakteristik mereka yang memperoleh nilai 0,1,2,3, dan 4. Jika kondisi ini tidak terwakili, maka akan diambil secara purposif masing-masing satu orang dari tiap kelompok mahasiswa menurut perolehan rentang nilai dari terendah sampai tertinggi. Masing-masing dari mereka diminta untuk mengerjakan tugas-tugas pada sampel program yang berbeda-beda, kemudian dimintakan komentar dan pendapatnya melalui angket yang dikembangkan untuk itu. Angket ini diberi label ‘Tanggapan mahasiswa terhadap isi kuliah’. Dari kegiatan ini diharapkan diketahui pendapat, pandangan, dan saran untuk memperbaiki isi bahan sajian tugas beserta tingkat kesulitan dari bahan asesmen yang dibuat. Untuk memudahkan identifikasi kepada mereka diminta untuk memberikan tanda nomor-nomor tugas yang dianggap sulit pada prototipe bahan asesmen.

Pemilihan uji perorangan untuk mahasiswa yang sudah pernah ikut kuliah, dipandang lebih tepat karena akan dapat memberikan informasi yang lebih ideal daripada mahasiswa yang masih awam tentang isi kuliah sehingga validitas dan reliabilitas datanya dianggap lebih baik untuk bahan perbaikan prototipe sample program pembelajaran dan tugas-tugas atau tes kemampuan pemecahan masalah.

          Pada uji perorangan ini dilibatkan juga dosen pembina kuliah Akuntansi, yaitu dosen yang telah dilibatkan pada kegiatan awal penyusunan preskripsi prototipe model atau dosen yang pernah diwawancarai dan diobservasi kegiatan kuliahnya. Untuk kepentingan ini akan dibuat angket yang diberi label ‘Tanggapan dosen terhadap isi kuliah’. Kepada dosen-dosen ini (5 orang) akan disampaikan prototipe asesmen, sample program pembelajaran atau satuan acara perkuliahan beserta prototipe pengelolaan belajar yang lengkap dengan komponen-komponen pendukungnya. Sasaran evaluasi pada tahapan ini ditujukan untuk memperoleh informasi tingkat kesesuaian dan keterpakaian dari preskripsi model yang dirancang terutama dari aspek outcomes, pebelajar, aktivitas atau kegiatan, asesmen dan evaluasinya. Angket tentang ‘Tanggapan dosen terhadap isi kuliah’ ini akan dibuat dua komponen, pertama untuk masalah prototipe pengelolaan belajar dan pengorganisasian isi bahan belajar, yang kedua, adalah untuk masalah prototipe model asesmen beserta perangkat tes kemampuan pemecahan masalah yang dipreskripsikan.

 

2. Uji Kelompok Kecil

          Langkah uji perorangan memberikan informasi guna penyempurnaan prototipe asesmen, pengelolaan belajar dan pengorganisasian belajar beserta komponen pendukungnya. Setelah penyempurnaan-penyempurnaan itu dilakukan maka prototipe asesmen, pengelolaan belajar dan pengorganisasian isi materi ini diuji cobakan pada tingkat lanjut yaitu uji kelompok kecil. Sasaran sample untuk uji kelompok kecil adalah mahasiswa calon penempuh matakuliah Akuntansi Jasa di Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP UNLAM. Jumlah kelompok yang dibutuhkan adalah 20 orang mahasiswa kelompok uji yang terdiri dari 10 orang mahasiswa kelompok atas dan 10 orang kelompok bawah dari satu kelas yang memprogram kuliah di semester tertentu.

Identifikasi mereka didasarkan pada hasil indeks prestasi hasil studi kumulatif yang ada di Biro Administrasi Akademik FKIP Unlam. Kelompok atas dipilih sepuluh orang dari rangking teratas dan sepuluh orang berikutnya dipilih dari 10 rangking dari bahwah daftar indeks prestasi dari mahasiswa peserta kuliah semester yang dimaksud sebagai uji coba. Selain kriteria ini tes adversity quotient (AQ) digunakan juga sebagai dasar untuk memilahkan kelompok mahasiswa uji coba kelompok kecil ini. Kriteria yang digunakan sama dengan criteria pengklasifikasian indeks prestasi.

          Uji coba pada kelompok kecil ditujukan untuk mendapatkan informasi tentang kelayakan, adaptabilitas, dan keberfungsian penerapan dari model yang dipreskripsikan baik untuk model asesmen, model pengelolaan belajar dan pengorganisasian isi menurut kondisi lapangan. Lebih khusus uji coba pada tahap ini ditujukan untuk mendapatkan data uji validitas, reliabilitas dan kesetaraan dari alat ukur kemampuan pemecahan masalah. Oleh sebab itu jika tingkat kemampuan pemecahan masalah mahasiswa untuk tes akhir lebih baik daripada tes awal secara signifikan, maka justifikasi yang dipakai adalah bahwa preskripsi model asesmen, pengelolaan belajar dan pengorganisasian isi bahan belajar dapat diterapkan sesuai kondisi lapangan. Perlu dikemukakan di sini, bahwa alat ukur kemampuan pemecahan masalah ada dua macam, yakni berupa (1) tes kemampuan menggunakan prosedur pemecahan masalah, dan (2) tes kemampuan menemukan prosedur baru pemecahan masalah.

          Untuk dapat memenuhi tujuan dimaksud, rancangan uji coba menggunakan pola quasi eksperimen single-subject designs dan dipilih pola pendekatan desain A-B-A-B (repeating treatments) seperti yang direferensikan oleh Kerlinger & Lee (2000:551) dan Wiersma (1986:158-159). Pemilihan desain ini atas dasar pertimbangan etis bahwa perlakuan suatu metode belajar akan memberi pengaruh yang menetap pada perilaku partisipan yang tak akan mungkin dipertukarkan kembali, apalagi jika perlakuan itu tidak disukai oleh partisipan. Secara lugas komentar Tingstrom (1996) yang dikutip Kerlinger & Lee (2000:551) isinya dapat disimak sebagai berikut:

A learning method that causes some permanent change in a participant’s behavior would not be reversible. There are also some ethical concerns about reverting the organism back to the original state if that state was an undesirable behavior. Experiment in behavior modification seldom return the participant back to baseline. This return to baseline is called the withdrawal condition. To benefit the participant, the treatment is reintroduced. The A-B-A-B design does this.

 

          Selanjutnya karena rancangan dari preskripsi sample program pembelajaran ada 7(tujuh) maka perlakuan akan diberikan secara random sistematik yakni pada kegiatan kuliah untuk satuan acara perkuliahan ke-3(tiga) dan ke-5(lima). Pelaksanaan kuliah untuk satuan acara perkuliahan ke-1(satu) dan ke-2(dua) merupakan kondisi baseline dari perlakuan pada kuliah di satuan acara perkuliahan ke-3(tiga), dan pelaksanaan kuliah untuk satuan acara perkuliahan ke-4(empat) merupakan baseline kondisi untuk kuliah satuan acara perkuliahan ke-5(lima), demikian seterusnya untuk kuliah pada satuan acara berikutnya. Secara kronologis dapat digambarkan dalam diagram berikut.

 

 

Orientasi

 

SAP

1

 

SAP

2

 

SAP

3

 

SAP

4

 

SAP

5

 

SAP

6

 

SAP

7

 

Rangkuman

 

Group

 

Pra tes

 

O1

 

O2

 

X

 

O3

 

X

 

O4

 

O5

 

Pasca tes

 

 

Keterangan: SAP = Satuan Acara Perkuliahan; O = Observasi; X = Perlakuan.

         

Rancangan ini dipakai dengan pertimbangan untuk meningkatkan validitas internal dari percobaan perlakuan dikarenakan bahwa:

(1) Jumlah peserta kuliah tiap angkatan maksimum 45-50 orang sehingga tidak memungkinkan offering matakuliah lebih dari satu, akibatnya pola desain eksperimen dengan kelompok tunggal lebih memungkinkan.

(2) Randomisasi individu subyek yang diteliti tidak dilakukan sehingga bias yang bersumber dari nonrandom dapat diatasi dengan model time series rancangan A-B-A-B.

(3) Dengan mengkonsentrasikan intervensi pada satu kelompok, maka bias yang bersumber dari karakteristik Pembina kuliah dapat dieliminasikan, sehingga perhatian penelitian dapat dicurahkan kepada variable-variabel kontrol yang lain terutama pada variable yang mempengaruhi proses pengelolaan belajar. Hasil dari tahap ini adalah preskripsi model asesmen, pengelolaan belajar dan pengorganisasian isi bahan belajar yang aplikatif dan memenuhi fungsi adaptabilitas  untuk diujicobakan di kalangan pengguna secara luas.

 

3. Uji Validasi Model

Kegiatan pada tahap ini difokuskan kepada upaya mendapatkan data empirik tentang tingkat efektivitas implementasi dari model asesmen teman sejawat (MATS) dan model pengelolaan belajar kolaboratif (MPK) serta pengorganisasian isi bahan belajar. Berikut dipaparkan mengenai desain uji validasi model, variable yang diteliti, lokasi dan waktu pelaksanaan, jenis dan sumber data, instrumentasi, dan teknik analisis data.

a. Desain Uji Validasi Model

          Desain uji validasi model ini rancangannya menggunakan pola rancangan yang sama dengan uji-coba kelompok kecil, yaitu menggunakan pola quasi eksperimen single-subject designs dengan pola pendekatan desain A-B-A-B (repeating treatment) seperti direferensikan oleh Kerlinger & Lee (2000:551) dan (Wiersma,1986:158-159). Yang menjadi fokus perhatian pada tahap ini adalah ingin dilihat efektivitas model yang telah dipreskripsikan baik kegiatan asesmen, pengelolaan belajar, maupun pengorganisasian isi dilihat dari aspek internal mahasiswa yaitu dari pengaruh adversity quotient, dan lokus kendali. Untuk tujuan memenuhi informasi tentang dampak atau pengaruh yang unik faktor karakteristik pebelajar, pengelolaan kegiatan pembelajaran pada peningkatan kemampuan yang berangsur-angsur pada outcome, digunakan model pendekatan evaluasi Input-Environment-Outcome (I-E-O) yang direferensikan oleh Astin (1995). Dimensi-dimensi variable yang termasuk dalam input adalah karakteristik pebelajar yang antara lain adversity quotient, pra tes sebagai ukuran pengalaman belajar sebelumnya, dan lokus kendali. Dimensi lingkungan (environment) antara lain variable-variabel yang merujuk kepada pengalaman pebelajar selama mengikuti perkuliahan antara lain model pembelajaran, interaksi sosial dan personal atau dalam hal ini adalah system asesmen teman sejawat dan pola pengelolaan belajar kolaboratif. Dimensi hasil belajar atau outcome dalam hal ini adalah kemampuan pemecahan masalah baik untuk kemampuan menggunakan prosedur pemecahan masalah maupun kemampuan menemukan pemecahan masalah yang baru.

b. Variabel Penelitian

          Variabel bebas yang merupakan dimensi lingkungan (environtment) atau variable yang dieksperimenkan adalah kegiatan ujicoba berupa preskripsi model asesmen teman sejawat (X1) dengan latar model pembelajaran kolaboratif (MPK) pada perkuliahan Akuntansi Perusahaan Jasa. Variabel tak bebas yang merupakan dimensi hasil (outcome) adalah kemampuan pemecahan masalah; ada dua variable dimensi hasil yakni: Y1 = kemampuan menggunakan prosedur pemecahan masalah; dan Y2 = kemampuan menemukan prosedur pemecahan masalah. Variabel kontrol yang merupakan dimensi input terdiri dari adversity quotient (X2) dan lokus kendali (X3) dan tes kemampuan pemecahan masalah awal (X3).

c. Lokasi dan Waktu

          Penelitian ini rencana dilakukan pada Jurusan Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Waktu penelitian adalah satu semester, yaitu pada Semester ganjil tahun 2006/2007 yang dimulai bulan Sepetember 2006 hingga bulan Januari 2007.

d. Populasi dan Sampel

          Populasi dari dari penelitian ini adalah mahasiswa program studi Pendidikan Ekonomi, Jurusan IPS FKIP UNLAM peserta kuliah Akuntansi Keuangan atau praktikum Akuntansi Jasa. Jumlah peserta kuliah mengikuti keadaan saat terjadinya offering matakuliah yang bersangkutan. Oleh karena itu penentuan sample sebagai sasaran ujicoba penelitian ditentukan dengan teknik purposive sesuai kepentingan tahap pengembangan.

          Untuk sasaran uji-coba perorangan dipilih 5(lima) orang mahasiswa yang sudah pernah ikut kuliah Akuntansi Jasa pada semester yang lewat, dengan masing-masing individu yang mewakili perolehan prestasi bernilai 0,1,2,3 dan 4 atau beratribut prestasi A,B,C,D dan E. Jika tidak didapat komposisi mahasiswa seperti rancangan, akan diambil masing-masing seorang mahasiswa yang mewakili kelompok perolehan nilai pada rentang terendah hingga tertinggi.

          Dari pihak dosen akan dipilih 5(tiga) orang yang membina kuliah bidang Akuntansi sebagai ahli sekaligus bertindak sebagai panelis dalam pengajaran dan asesmen bidang Akuntansi. Sebanyak 3(tiga) orang berasal dari dosen di Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP UNLAM. Untuk bahan komparasi akan diobservasi dan diminta sebagai panelis 2(dua) orang dosen Pembina kuliah Akuntansi di Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta.

          Untuk uji-coba kelompok kecil dipilih 20 (orang) yang terbagi dalam kelompok atas dan kelompok bawah menurut kriteria skore adversity quotient dan lokus kendali dari peserta kuliah yang ditawarkan pada semester saat dilakukannya kegiatan uji-coba kelompok kecil. Berikutnya untuk uji validasi model adalah peserta kuliah Pengantar Akuntansi Keuangan atau Praktikum Akuntansi Jasa yang disajikan pada semester tertentu saat uji validasi model dilakukan.

 

e. Jenis dan Sumber Data

          Jenis data yang dibutuhkan untuk tujuan pengembangan ini antara lain:

(1)  Identifikasi kemampuan pemecahan masalah bidang Akuntansi Jasa yang terkait dengan jenis pengetahuan procedural yang terdiri dari kemampuan menggunakan prosedur pemecahan masalah dan kemampuan menemukan prosedur baru pemecahan masalah.

(2)  Kebutuhan tentang kemampuan pemecahan masalah menurut ekspektasi dan kebutuhan empiris di lapangan. Sumber data ini diperoleh dari mahasiswa yang sudah pernah mengikuti kuliah dan para dosen Pembina kuliah serta peristiwa kegiatan pembelajaran di kelas atau praktikum di laboratorium.

(3)  Deskripsi tentang tujuan umum, tujuan khusus, strategi kuliah, rancangan pengorganisasian pembelajaran, rancangan asesmen teman sejawat beserta perangkat log dan jurnal untuk kegiatan asesmen. Sumber data adalah hasil tinjauan dan pengkajian teori relevan dan khasanah penelitian yang relevan.

(4)  Kualitas isi dan feasibilitas rancangan (kegunaan, kelayakan, dan ketepatan). Sumber data adalah respon dosen dan mahasiswa peserta kuliah terhadap preskripsi model yang dikembangkan baik pada tahap uji kelompok kecil maupun pada uji validasi model.

(5)  Kelayakan dan adaptabilitas model asesmen teman sejawat dan pola pengelolaan kolaboratif. Sumber data adalah hasil uji validasi model pada kelompok pengguna dan sasaran pengembangan.

(6)  Validitas dan reliabilitas serta kesetaraan tes Kemampuan Pemecahan Masalah. Sumber data adalah hasil telaah tes pada sesi sebelum perlakuan atau pada langkah uji kelompok kecil.

f. Skenario Penerapan Asesmen Teman Sejawat  dan Pola Perkuliahan

Preskripsi model asesmen dengan latar pengelolaan belajar secara kolaboratif digagas dari pemikiran pentingnya pembekalan mahasiswa akan kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan kerjasama yang kolaboratif.

Karakteristik pengelolaan belajar secara kolaboratif merupakan pola belajar yang membina kerjasama di antara pebelajar dengan intensitas rasa tanggungjawab bersama dalam mencapai keberhasilan. Keberhasilan semata-mata bukan hasil kerja individual atau kompetisi tetapi merupakan hasil kerja kelompok. Kerja kelompok yang diikuti dengan intensitas kesalingtergantungan di antara anggota kelompok merupakan wujud keberhasilan belajar. Hasil belajar tidak hanya diukur dari prestasi individu tetapi terutama juga lebih ditentukan oleh prestasi kerja secara kolaboratif di antara anggota-anggota kelompok.

Kebiasaan dalam kerja  kolaboratif di antara anggota kelompok acapkali belum terpikirkan oleh kalangan dosen pembina kuliah dalam cara-cara melakukan asesmen dan penilaian keberhasilan mahasiswa dalam belajar. Tujuan pembelajaran akuntansi yang lebih banyak mengandung pengetahuan pemecahan masalah dan bersifat prosedural, sangat tepat didekati dengan pola pembelajaran kolaboratif. Peluang untuk memperkaya pengetahuan baru dari belajar dan kerjasama secara kolaboratif memungkinkan mahasiswa untuk lebih banyak memperoleh dan menerima informasi baru dari sejawatnya maupun dari sumber belajar lainnya sehingga perkembangan kemampuan atau kompetensi  semakin cepat akumulasinya.

Pencapaian kemampuan berpikir pemecahan masalah sebagai bagian dari berpikir divergent atau berpikir tingkat tinggi, memungkinkan mahasiswa untuk dapat memiliki kemampuan transfer belajar yang berguna dalam kehidupannya kelak, baik dalam membimbing siswa kelak setelah menjadi guru maupun demi untuk kepentingan membina karir dan kehidupannya di masyarakat.

Kerja kolaboratif tidak terbatas pada lingkup belajar dalam kelas tetapi juga meliputi pengalaman-pengalaman mahasiswa belajar di luar kelas. Penilaian keberhasilan belajar mahasiswa yang masih mengandalkan tes tunggal tidak tepat lagi untuk diterapkan dalam melakukan penilaian pada pembelajaran dengan pendekatan pola kolaboratif. Praktek penilaian tes tunggal belum menyentuh tentang penilaian kinerja belajar mahasiswa dalam belajar dan bekerja secara kolaboratif. Hasil asesmen dengan tes tunggal terbukti mengandung bias keputusan dan berakibat merugikan mahasiswa. Oleh sebab itu model asesmen teman sejawat (MATS) dikembangkan sebagai salah satu pendekatan yang relevan dan memenuhi kebutuhan alternatif penilaian yang komprehensif dan menutupi kekurangan-kekurangan pada praktek penilaian dengan tes tunggal. Selain hal itu pengembangan asesmen sebagai alat untuk memperbaiki proses pembelajaran, meningkatkan layanan bagi mahasiswa (assessment for learning) merupakan kebutuhan yang mendesak untuk dikembangkan, karena sejalan dengan misi dari PP No. 19 Tahun 2005. Betapapun begitu pengembangan sebuah sistem asesmen tidak akan ada maknanya jika tidak mempertimbangkan penerapan dalam konteks sistem pembelajaran. Di antara variabel-variabel metode pengajaran yang digunakan sebagai wahana dasar pengembangan asesmen adalah strategi pengelolaan dan pengorganisasian isi bahan belajar. Landasan pemikiran ini bertolak dari tolok ukur keberhasilan penguasaan kemampuan pemecahan masalah yang dilatari oleh adanya kebutuhan belajar mahasiswa yang asumsinya, bahwa (1) pengetahuan itu dikonstruksi sehingga perlu partisipasi aktif mahasiswa dalam belajar, (2) tugas memberi manfaat, karena dengan diberi tugas maka mahasiswa akan aktif belajar, (3) informasi asesmen akan meningkatkan mutu pengajaran, dan (4) kriteria hasil belajar yang disepakati mendorong belajar mahasiswa.

          Sistem asesmen yang dikembangkan atas dasar fungsi formatif ditujukan untuk diagnosa hambatan belajar mahasiswa dan digunakan untuk memberi informasi untuk perbaikan selama dalam proses pembelajaran. Pengembangan asesmen bermuara pada frame kegiatan belajar menurut dimensi tingkat kesulitan belajar pemecahan masalah. Materi belajar dengan demikian perlu ditata menurut kaidah tertentu menurut prinsip teori elaborasi, penataan berlangsung dari pengetahuan tentang prosedur yang sederhana menuju yang rumit. Preskripsi untuk mendukung proses kerja konstruksi pengetahuan selain isi ditata menurut tingkat kerumitan, juga diikuti ragam variasi tugas sebagai unsur stimuli belajar. Preskripsi penataan isi bahan belajar disajikan dalam bentuk frame berupa satuan acara perkuliahan. Ancangan ini diprediksikan dapat menumbuhkembangkan kemampuan mengenal prosedur pemecahan masalah dan berikutnya mendorong aktivitas kreasi menemukan prosedur baru pemecahan masalah. Pengaktivan aktivitas kreasi ini membutuhkan preskripsi pengelolaan belajar yang memungkinkan adanya stimuli intensitas interaksi sosial di antara pebelajar. Pendekatan kolaboratif dengan pola investigasi kelompok dipilih sebagai wahana preskripsi model pengelolaan belajar.

          Validasi empiris terhadap efektivitas dan akseptabilitas model membutuhkan pendekatan evaluasi yang terapannya menggunakan pendekatan I-E-O. Gambaran dari keseluruhan preskripsi yang telah dipaparkan dalam skenario ini divisualisasikan dalam gambar diagram berikut ini.

Pengelolaan pengajaran Akuntansi secara kolaboratif memberi implikasi kepada perlunya penyiapan berbagai aspek metode mengajar terutama menyangkut pengorganisasian isi bahan belajar, strategi penyampaian maupun dalam melakukan asesmen sebagai sarana evaluasi formatif maupun sumatif dalam kerangka sistem pengajaran. Preskripsi sistem asesmen dan perangkatnya perlu disesuaikan dengan strategi pengelolaan belajar dan strategi pengorganisasian isi bahan belajar karena substansi pengetahuan dalam bidang Akuntansi Jasa sebagaimana telah dikupas dalam uraian terdahulu mengandung pengetahuan yang karakteristiknya berisi pengetahuan prosedural. Dalam mempreskripsikan teknik asesmen serta pengorganisasian isi dan pengelolaan belajar dirancang menurut pendekatan rekursif dan dituangkan dalam matrik. Matrik-matrik dimaksud terdiri dari (1) matrik strategi penyampaian materi, (2) matrik model pengajaran menurut pengorganisasian isi, dan (3)matrik teknik asesmen dalam konteks pembelajaran kolaborasi.


Gambar 22

Rancangan Alur Pengembangan Asesmen Teman Sejawat Berbasis Pengelolaan Belajar Kolaboratif.


 (1) Strategi Penyampaian

          Dengan memperhatikan kaidah pengelolaan belajar kolaboratif melalui investigasi kelompok beserta prinsip-prinsipnya, maka preskripsi dari model pengorganisasian pengajaran Akuntansi yang diajukan dapat dibuat matrik yang disebut dengan pengorganisasian strategi penyampaian materi berpola pengajaran kolaboratif versi investigasi kelompok, yang matriknya tampak sebagai berikut.

 

Tabel 6

Rancangan Model Strategi Penyampaian Materi

Pada Tahapan Pengajaran Kolaboratif Versi Investigasi Kelompok

 

 

No.

 

Isi Kuliah (Sebagai Stimuli Material)

Tahapan Pengajaran

 

Keterangan

Situasi Bermasalah

 

Eksplorasi

Perumusan Tugas Belajar

Kegiatan Belajar

Analisis Kemaju-an

1

Orientasi dan Prates

tidak

tidak

tidak

tidak

Identifikasi bekal awal

 

2

SAP 1

ya

ya

ya

ya

ya

Kontrol

3

SAP 2

ya

ya

ya

ya

ya

Kontrol

4

SAP 3

ya

ya

ya

ya

ya

Perlakuan

5

SAP 4

ya

ya

ya

ya

ya

Kontrol

6

SAP 5

ya

ya

ya

ya

ya

Perlakuan

7

SAP 6

ya

ya

ya

ya

ya

Kontrol

8

SAP 7

ya

ya

ya

ya

ya

Kontrol

9

Rangkuman dan Pascates

tidak

tidak

tidak

tidak

ya

 

 

 

(2) Pengorganisasian Isi Prosedural Model Elaborasi

          Untuk model pengajaran ditilik dari aspek pengorganisasian isi secara elaborasi dapat diamati pada table 11 berikut:

 

Tabel 7

Matrik Model Pengajaran Menurut Aspek Pengorganisasian Isi Secara Elaborasi

 

 

No.

 

Isi Kuliah (Sebagai Stimuli Material)

Tahapan Elaborasi Isi Kuliah

 

Kete-rangan

Penyaji-an Epitome

 

Elabora-si Tahap Pertama

Elaborasi Tahap Kedua

Elaborasi Tahap Lanjut-an

Epitome Termi-nal

1

Orientasi dan Prates

ya

tidak

tidak

tidak

Tidak

 

2

SAP 1

ya

ya

ya

ya

ya

Kontrol

3

SAP 2

ya

ya

ya

ya

ya

Kontrol

4

SAP 3

ya

ya

ya

ya

ya

Perlakuan

5

SAP 4

ya

ya

ya

ya

ya

Kontrol

6

SAP 5

ya

ya

ya

ya

ya

Perlakuan

7

SAP 6

ya

ya

ya

ya

ya

Kontrol

8

SAP 7

ya

ya

ya

ya

ya

Kontrol

9

Rangkuman dan Pascates

ya

tidak

tidak

tidak

ya

 

 

 

(3) Strategi Asesmen Proses dan Hasil Belajar

          Dari matrik strategi penyampaian materi dan pengorganisasian isi, kemudian disusun matrik untuk tindakan asesmen pada setiap tahapan Satuan Acara Perkuliahan dan awal serta akhir proses kuliah yang terdiri dari prates dan pascates. Matrik dimaksud dimodelkan seperti pada table 12 berikut.

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 8

Matrik Tindakan Asesmen Pada Tahapan Perkuliahan Pola Kolaboratif

 

 

No.

 

Isi Kuliah

Bentuk dan Instrumen

Asesmen

 

Kete-rangan

(1)

 

(2)

(3)

 

(4)

(5)

(6)

1

Orien-tasi dan Prates

Prates 1

Prates 2

Tes LK

Tes AQ

(Tes Baku)

-

-

-

-

-

Identifi-kasi bekal awal belajar

2

SAP 1

-

KPM 1,

KPM 2

(RA)

KPM 1,

KPM 2

(RA)

Observasi,

(LJ)

Skala Lajuan

-

Kontrol

3

SAP 2

-

KPM 1,

KPM 2

(RA)

KPM 1,

KPM 2

(RA)

Observasi,

(LJ)

Skala Lajuan

-

Kontrol

4

SAP 3

-

KPM 1,

KPM 2

(RA)

KPM 1,

KPM 2

(RA)

Observasi,

(LJ)

Skala Lajuan

-

Perla-kuan

5

SAP 4

-

KPM 1,

KPM 2

(RA)

KPM 1,

KPM 2

(RA)

Observasi,

(LJ)

Skala Lajuan

-

Kontrol

6

SAP 5

-

KPM 1,

KPM 2

(RA)

KPM 1,

KPM 2

(RA)

Observasi,

(LJ)

Skala Lajuan

-

Perla-kuan

7

SAP 6

-

KPM 1,

KPM 2

(RA)

KPM 1,

KPM 2

(RA)

Observasi,

(LJ)

Skala Lajuan

-

Kontrol

8

SAP 7

-

KPM 1,

KPM 2

(RA)

KPM 1,

KPM 2

(RA)

Observasi,

(LJ)

Skala Lajuan

-

Kontrol

9

Rang-kuman dan Pasca tes

-

KPM 1,

KPM 2

(RA)

KPM 1,

KPM 2

(RA)

Observasi,

(LJ)

Skala Lajuan

Pasca-tes 1

Pasca-tes 2

(Tes Baku)

Hasil Belajar Akhir

 

Keterangan :

(1) = needs assessment

(2) = Efektivitas Kelompok

(3) = Efektivitas Individu

(4) = Kualitas Interaksi Diskusi Kelompok & Persentasi Hasil Diskusi

(5) = Tanggapan Mahasiswa Terhadap Kualitas Model Asesmen dan Pembelajaran

(6) = Asesmen Sumatif

SAP = Satuan Acara Perkuliahan

Prates 1 = Tes awal kemampuan menggunakan prosedur pemecahan masalah

Prates 2 = Tes awal kemampuan menemukan prosedur baru pemecahan masalah

Pascates 1 = Tes akhir kemampuan menggunakan prosedur pemecahan masalah

Pascates 2 = Tes akhir kemampuan menemukan prosedur baru pemecahan masalah

Tes LK = Tes lokus kendali

Tes AQ = Tes adversity quotient

KPM 1 = Kemampuan menggunakan prosedur pemecahan masalah

KPM 2 = Kemampuan menemukan prosedur pemecahan masalah

Rubrik Analitik (RA) = Pedoman penilaian (marking scheme) berdasarkan herarkhi belajar kognitif

Log dan jurnal belajar (LJ) = rekaman kegiatan belajar dan catatan pribadi tentang kemajuan belajar dalam kuliah maupun di luar kuliah

 

g. Instrumentasi

Metode pengumpulan data dan instrumen yang akan digunakan dalam pengembangan ini terdiri dari beragam teknik yang penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis data yang dikumpulkan sesuai dengan tahap-tahap kegiatan pengembangan.

Pada tahap analisis kebutuhan yang bermaksud untuk memperoleh informasi tentang kebutuhan asesmen dan pengelolaan belajar kemampuan pemecahan masalah digunakan teknik wawancara, observasi dan angket. Untuk tahap awal perancangan model asesmen dan bahan pembelajaran digunakan teknik berupa lembar isian, dokumen, perangkat pengorganisasian belajar, lembaran log dan jurnal kegiatan belajar. Pada tahap penerapan model, baik pada uji perorangan, uji kelompok kecil dan uji validasi model akan dikembangkan dan digunakan teknik-teknik angket tentang tanggapan terhadap isi kuliah, skala lajuan, teknik Delphi atau skala prioritas, dan  perangkat tes kemampuan pemecahan masalah, observasi, dan peer rating.

Untuk menjamin validitas dan reliabilitas instrumen-instrumen yang digunakan akan dilakukan tindakan validasi instrumen. Untuk tes kemampuan pemecahan masalah akan dilihat beberapa dimensi persyaratan alat ukur tes antara lain validitas isi, konkuren, dan konstruksi dari tes tersebut, kemudian dimensi taraf kesukaran, daya pembeda dan tingkat kesetaraan tes antar pra tes dan pasca tes. Terhadap angket tentang tanggapan dosen dan mahasiswa akan dilihat validitas dan reliabilitasnya melalui analisis faktor konfirmatori terhadap konstruk isi angket. Untuk penerapan teknik Delphi maka akan dilakukan analisis kesepakatan antar panelis dengan menggunakan koefisien Kappa.

 
h. Teknik Analisis Data

          Data kemampuan mahasiswa tentang kemampuan pemecahan masalah sebagaimana disinggung di muka terdiri dari data tentang kemampuan menggunakan prosedur pemecahan masalah dan data tentang kemampuan menemukan prosedur baru pemecahan masalah. Data ini diukur dari perkembangan hasil tes kemampuan pada pra tes dengan pasca tes, baik pada keseluruhan kegiatan kuliah maupun dalam tiap tahapan preskripsi Satuan Acara Perkuliahan (SAP).    Pola perubahan perkembangan hasil tes kemampuan ini sebagai dasar untuk melihat efek dari penggunaan model asesmen yang dikembangkan pada preskripsi model pengelolaan belajar yang kolaboratif.

          Berikutnya teknik analisis data tentang pencapaian kompetensi akuntansi dari penerapan model MATS diukur dengan menggunakan persentase yang dihitung dengan mengadaptasi formula Glass,1978 (Wayan Ardana dan Verna Willis, 1989:172) sebagai berikut :

E = Q1 – Qo   x 100%

     Qo

Di mana :

E = persentase besarnya pengaruh (efek) dari perlakuan (treatment) pelaksanaan jenis kompetensi atau kemampuan yang diajarkan dalam kuliah

Qo = besarnya tingkat kompetensi atau kemampuan awal atau sebelum dilakukan kuliah dengan pola kolaboratif dengan asesmen teman sejawat untuk kompetensi akuntansi (hasil pratest).

Q1 = besarnya tingkat kompetensi Akuntansi sesudah dilakukannya kuliah pola kolaboratif dengan asesmen teman sejawat (hasil dari pascatest).

Selanjutnya untuk melihat signifikansi perubahan sebelum (base line) dan sesudah intervensi digunakan uji post hoc untuk data amatan berulang. Pengukuran dilakukan terhadap perubahan kompetensi mahasiswa sebelum (dianggap group pertama) dan sesudah (dianggap group kedua) mengikuti kuliah berbasis pola kolaboratif dengan asesmen teman sejawat.

Untuk memenuhi tujuan asesmen model I-E-O maka: (1) untuk memeriksa pengaruh variable input digunakan pendekatan analisis regresi ganda dilanjutkan dengan korelasi parsial atau dengan regresi bertahap (stepwise regression), (2) untuk mengases efek atau pengaruh dari variable lingkungan (perlakuan model asesmen MATS) digunakan pendekatan analisis perbandingan rerata residu variat variable outcome pada antar situasi lingkungan sebagaimana pola pendekatan Drew (1983) dan direferensikan oleh Astin (1993:278). Untuk menganalisis informasi tentang tanggapan dosen, mahasiswa dan pilihan prioritas terhadap identifikasi kebutuhan model asesmen dan pola belajar digunakan teknik deskriptif dan kualitatif.

 

[ KEMBALI KE INDEX ]